QURAN dan TerJemahan ~ PerHatikan Pesanan Allah dlm KiTabNya ini

AL QURAN

Listen to Quran
~*~*~*Al-Quran OnLine

20 December, 2011

Sheikh Siti Jenar ~ Membongkar Tabir Mitos Syekh Siti Jenar

Sheikh Siti Jenar


Syekh Siti Jenar


Makam Syekh Siti Jenar di Demak.
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain SitibritLemahbang, danLemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebaragama Islam di Pulau Jawa.[1] Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaranWalisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

[Sumber...]



Beliau (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain SitibritLemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufiagama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. dan juga salah satu penyebar
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Konsep Dan Ajaran Syekh Siti Jenar
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hululyang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll);
 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. 
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’ kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda–beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing–masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:
 “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. 
Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.
Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.
Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS.Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga,Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki BisonoKi DonoboyoKi Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
Kisah Pada Saat Pasca Kematian
Kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.
sumber : wikipedia

~*~
Merajut sebuah ilmu dan menjadikannya sehelai kain yang didalamnya penuh akan keindahan corak dan warna, inilah yang diidamkan seluruh ahli sufi. Rajutan demi rajutan tentang segala pemahaman ilmu, penghayatan dan keluasan tentang segala kebesaran Alloh, perjalanan dan pengorbanan yang selalu dilakoninnya sedari kecil, membuat segala macam ilmu yang ada padanya, menjadikannya derajat seorang waliyulloh kamil.

Dalam pandangan para waliyulloh, dimana badan telah tersirat asma’ Alloh dan segala tetesan darahnya telah mengalir kalimat tauhid, dimana setiap detak jantung selalu menyerukan keagunganNya dan setiap pandangan matanya mengandung makna tafakkur, tiada lain orang itu adalah seorang waliyulloh agung yang mana jasad dan ruhaniyahnya telah menyatu dengan dzat Alloh. Inilah sanjungan yang dilontarkan oleh seluruh bangsa wali kala itu pada sosok, kanjeng Syeikh Siti Jenar.Rohmat yang tersiram didalam tubuhnya, ilmu yang tersirat disetiap desiran nafasnya, pengetahuan tentang segala makna ketauhidan yang bersemayam didalam akal dan hatinya, membuat kanjeng Syeikh Siti Jenar menjadi seorang guru para wali.

Lewat kezuhudan yang beliau miliki serta keluasan ilmu yang dia terapkan, membuat segala pengetahuannya selalu dijadikan contoh. Beliau benar benar seorang guru agung dalam mengembangkan sebuah dhaukiyah kewaliyan/tentang segala pemahaman ilmu kewaliyan. Tak heran bila kala itu banyak bermunculan para waliyulloh lewat ajaran ilafi yang dimilikinya.

Diantara beberapa nama santri beliau yang hingga akhir hayatnya telah sampai kepuncak derajat waliyulloh kamil, salah satunya, sunan Kali Jaga, raden Fatah, kibuyut Trusmi, kigede Plumbon, kigede Arjawinangun, pangeran Arya Kemuning, kiageng Demak Purwa Sari, ratu Ilir Pangabean, gusti agung Arya diningrat Caruban, Pangeran Paksi Antas Angin, sunan Muria, tubagus sulthan Hasanuddin, kiAgeng Bimantoro Jati, kiSubang Arya palantungan dan kigede Tegal gubug.

Seiring perjalanannya sebagai guru para wali, syeikh Siti Jenar mulai menyudahi segala aktifitas mengajarnya tatkala, Syarief Hidayatulloh/ sunan Gunung Jati, telah tiba dikota Cirebon. Bahkan dalam hal ini bukan hanya beliau yang menyudahi aktifitas mengajar pada saat itu, dedengkot wali Jawa, sunan Ampel dan sunan Giri juga mengakhirinya pula.

Mereka semua ta’dzim watahriman/ menghormati derajat yang lebih diagungkan, atas datangnya seorang Quthbul muthlak/ raja wali sedunia pada zaman tersebut, yaitu dengan adanya Syarief Hidayatulloh, yang sudah menetap dibumi tanah Jawa.

Sejak saat itu pula semua wali sejawa dwipa, mulai berbondong ngalaf ilmu datang kekota Cirebon, mereka jauh jauh sudah sangat mendambakan kedatangan, Syarief Hidayatulloh, yang ditunjuk langsung oleh, rosululloh SAW, menjadi sulthan semua mahluk ( Quthbul muthlak )

Nah, sebelum di kupas tuntas tentang jati diri, syeikh Siti Jenar, tentunya kita agak merasa bingung tentang jati diri, Syarief Hidayatulloh, yang barusan dibedarkan tadi. "Mengapa Syarief Hidayatulloh kala itu sangat disanjung oleh seluruh bangsa wali ?". 

Dalam tarap kewaliyan, semua para waliyulloh, tanpa terkecuali mereka semua sudah sangat memahami akan segala tingkatan yang ada pada dirinya. Dan dalam tingkatan ini tidak satupun dari mereka yang tidak tahu, akan segala derajat yang dimiliki oleh wali lainnya. Semua ini karena Alloh SWT, jauh jauh telah memberi hawatief pada setiap diri para waliyulloh, tentang segala hal yang menyangkut derajat kewaliyan seseorang.

Nah, sebagai pemahaman yang lebih jelas, dimana Alloh SWT, menunjuk seseorang menjadikannya derajat waliyulloh, maka pada waktu yang bersamaan, nabiyulloh, Hidir AS, yang diutus langsung oleh malaikat, Jibril AS, akan mengabarkannya kepada seluruh para waliyulloh lainnya tentang pengangkatan wali yang barusan ditunjuk tadi sekaligus dengan derajat yang diembannya.

Disini akan dituliskan tingkatan derajat kewaliyan seseorang, dimulai dari tingkat yang paling atas. "Quthbul muthlak- Athman- Arba’ul ‘Amadu- Autad- Nukoba’ – Nujaba’ – Abdal- dan seterusnya". Nah dari pembedaran ini wajar bila saat itu seluruh wali Jawa berbondong datang ngalaf ilmu ketanah Cirebon, karena tak lain didaerah tersebut telah bersemayam seorang derajat, Quthbul muthlak, yang sangat dimulyakan akan derajat dan pemahaman ilmunya.

Kembali kecerita syeikh Siti Jenar, sejak adanya, Syarief Hidayatulloh, yang telah memegang penting dalam peranan kewaliyan, hampir seluruh wali kala itu belajar arti ma’rifat kepadanya, diantara salah satunya adalah, syeikh Siti Jenar sendiri.

Empat tahun para wali ikut bersamanya dalam “Husnul ilmi Al kamil"/ menyempurnakan segala pemahaman ilmu, dan setelah itu, Syarief Hidayulloh, menyarankan pada seluruh para wali untuk kembali ketempat asalnya masing masing. Mereka diwajibkan untuk membuka kembali pengajian secara umum sebagai syiar islam secara menyeluruh.

Tentunya empat tahun bukan waktu yang sedikit bagi para wali kala itu, mereka telah menemukan jati diri ilmu yang sesungguhnya lewat keluasan yang diajarkan oleh seorang derajat, Quthbul mutlak. Sehingga dengan kematangan yang mereka peroleh, tidak semua dari mereka membuka kembali pesanggrahannya.

Banyak diantara mereka yang setelah mendapat pelajaran dari, Syarief Hidayatulloh, segala kecintaan ilmunya lebih diarahkan kesifat, Hubbulloh/ hanya cinta dan ingat kepada Alloh semata. Hal seperti ini terjadi dibeberapa pribadi para wali kala itu, diantaranya; syeikh Siti Jenar, sunan Kali Jaga, sulthan Hasanuddin Banten, pangeran Panjunan, pangeran Kejaksan dan Syeikh Magelung Sakti.

Mereka lebih memilih hidup menyendiri dalam kecintaannya terhadap Dzat Alloh SWT, sehingga dengan cara yang mereka lakukan menjadikan hatinya tertutup untuk manusia lain. Keyakinannya yang telah mencapai roh mahfud, membuat tingkah lahiriyah mereka tidak stabil. Mereka bagai orang gila yang tidak pernah punya rasa malu terhadap orang lain yang melihatnya.

Seperti halnya, syeikh Siti Jenar, beliau banyak menunjukkan sifat khoarik/ kesaktian ilmunya yang dipertontonkan didepan kalayak masyarakat umum. Sedangkan sunan Kali Jaga sendiri setiap harinya selalu menaiki kuda lumping, yang terbuat dari bahan anyaman bambu. Sulthan Hasanuddin, lebih banyak mengeluarkan fatwa dan selalu menasehati pada binatang yang dia temui.

Pangeran Panjunan dan pangeran Kejaksaan, kakak beradik ini setiap harinya selalu membawa rebana yang terus dibunyikan sambil tak henti hentinya menyanyikan berbagai lagu cinta untuk tuannya Alloh SWT, dan syeikh Magelung Sakti, lebih dominan hari harinya selalu dimanfaatkan untuk bermain dengan anak anak.

Lewat perjalanan mereka para hubbulloh/ zadabiyah/ ingatannya hanya kepada, Alloh SWT, semata. Tiga tahun kemudian mereka telah bisa mengendalikan sifat kecintaannya dari sifat bangsa dzat Alloh, kembali kesifat asal, yaitu syariat dhohir.

Namun diantara mereka yang kedapatan sifat dzat Alloh ini hanya syeikh Siti Jenar, yang tidak mau meninggalkan kecintaanya untuk tuannya semata ( Alloh ) Beliau lebih memilih melestarikan kecintaannya yang tak bisa terbendung, sehingga dengan tidak terkontrol fisik lahiriyahnya beliau banyak dimanfaatkan kalangan umum yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu kewaliyan.

Sebagai seorang waliyulloh yang sedang menapaki derajat fana’, segala ucapan apapun yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar kala itu akan menjadi nyata, dan semua ini selalu dimanfaatkan oleh orang orang culas yang menginginkan ilmu kesaktiannya tanpa harus terlebih dahulu puasa dan ritual yang memberatkan dirinya.

Dengan dasar ini, orang orang yang memanfaatkan dirinya semakin bertambah banyak dan pada akhirnya mereka membuat sebuah perkumpulan untuk melawan para waliyulloh. Dari kisah ini pula, syeikh Siti Jenar, berkali kali dipanggil dalam sidang kewalian untuk cepat cepat merubah sifatnya yang banyak dimanfaatkan orang orang yang tidak bertanggung jawab, namun beliau tetap dalam pendiriannya untuk selalu memegang sifat dzat Alloh.

Bahkan dalam pandangan, syeikh Siti Jenar sendiri mengenai perihal orang orang yang memenfaatkan dirinya, beliau mengungkapkannya dalam sidang terhormat para waliyulloh; “Bagaiman diriku bisa marah maupun menolak apa yang diinginkan oleh orang yang memanfaatkanku, mereka semua adalah mahluk Alloh, yang mana setiap apa yang dikehendaki oleh mereka terhadap diriku, semua adalah ketentuanNya juga" lanjutnya.

“Diriku hanya sebagai pelantara belaka dan segala yang mengabulkan tak lain dan tak bukan hanya dialah Alloh semata . Karena sesungguhnya adanya diriku adanya dia dan tidak adanya diriku tidak adanya dia. Alloh adalah diriku dan diriku adalah Alloh, dimana diriku memberi ketentuan disitu pula Alloh akan mengabulkannya. Jadi janganlah salah paham akan ilmu Alloh sesungguhnya, karena pada kesempatannya nanti semua akan kembali lagi kepadaNya."

Dari pembedaran tadi sebenarnya semua para waliyulloh, mengerti betul akan makna yang terkandung dari seorang yang sedang jatuh cinta kepada tuhannya, dan semua waliyulloh yang ada dalam persidangan kala itu tidak menyalahkan apa barusan yang diucapkan oleh, syeikh Siti Jenar.

Hanya saja permasalahannya kala itu, seluruh para wali sedang menapaki pemahaman ilmu bersifat syar’i sebagai bahan dasar dari misi syiar islam untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat luas yang memang belum mempunyai keyakinan yang sangat kuat dalam memasuki pencerahan arti islam itu sendiri. Wal hasil, semua para wali pada saat itu merasa takut akan pemahaman dari syeikh siti jenar, yang sepantasnya pemahaman beliau ini hanya boleh didengar oleh oleh orang yang sederajat dengannya, sebab bagaimanapun juga orang awam tidak akan bisa mengejar segala pemahaman yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar.

Sedangkan pada saat itu, syeikh Siti Jenar yang sedang kedatangan sifat zadabiyah, beliau tidak bisa mengerem ucapannya yang bersifat ketauhidan, sehingga dengan cara yang dilakukannya ini membawa dampak kurang baik bagi masyarakt luas kala itu. Nah, untuk menanggulangi sifat syeikh Siti Jenar ini seluruh para wali akhirnya memohon petunjuk kepada Alloh SWT, tentang suatu penyelesaian atas dirinya, dan hampir semua para wali ini mendapat hawatif yang sama, yaitu :

"Tiada jalan yang lebih baik bagi orang yang darahnya telah menyatu dengan tuhannya, kecuali dia harus cepat cepat dipertemukan dengan kekasihnya". Dari hasil hawatif para waliyulloh, akhirnya syeikh Siti Jenar dipertemukan dengan kekasihnya Alloh SWT, lewat eksekusi pancung. Dan cara ini bagi syeikh Siti Jenar sendiri sangat diidamkannya. Karena baginya, mati adalah kebahagiaan yang membawanya kesebuah kenikmatan untuk selama lamnya dalam naungan jannatun na’im.

Sumber : Idris Nawawi (mystys.wordpress.com)
[Sumber...]
~*~

Category:   Other

Ingredients:
Sebuah buku menarik bertajuk Susuk Malang Melintang (2006) karya Agus Sunyoto diterbitkan untuk meluruskan pandangan keliru tentang ajaran Syekh Siti Jenar -- akar aliran Islam kejawen dan tasawuf wahdatul wujud.

Buku yang terdiri dari tujuh jilid tersebut seperti sengaja menghadirkan antitesa untuk menggugurkan pandangan yang kurang pas tentang wali kontroversial itu, termasuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat Islam tentang ajaran-ajaran sang wali yang cenderung dianggap sesat, seperti ditulis dalam banyak buku yang terbit sebelumnya.

Salah satu informasi penting yang ditemukan oleh Agus adalah bahwa Syekh Siti Jenar tidak meninggal karena dieksekusi seperti dipersepsikan masyarakat selama ini. Jika temuan Agus itu benar, berarti ada semacam penyimpangan sejarah wali-wali di Nusantara, yang berarti juga penyimpangan sejarah Islam, untuk kepentingan penguasa atau kelompok tertentu.

Berdasar penelitian terhadap sejarah Syekh Siti Jenar dari sekitar 300 pustaka kuno, Agus menyimpulkan bahwa persepsi tentang Syekh Siti Jenar selama ini banyak yang keliru. Temuan-temuan penting tersebut dikemukakan Agus pada acara peluncuran bukunya di Surabaya, belum lama ini.

Jika betul memang ada penyimpangan, atau bahkan penggelapan sejarah, dan temuan Agus itu benar, berarti kehadiran buku Susuk Malang Melintang menjadi sangat penting. Meski belum dapat dianggap menyamai The Da Vinci Code karya Dan Brown dalam mengguncang iman penganut agama tertentu, sebagian masyarakat (Jawa) yang menganut 'ajaran sesat' (atau 'yang disesatkan') yang diyakini berasal dari Syekh Siti Jenar bisa jadi terperangah setelah membaca buku itu. Begitu juga mereka yang memiliki persepsi keliru tentang sang wali.

Harapan baiknya adalah, keimanan mereka yang 'sesat' atau 'disesatkan' itu bisa tercerahkan dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Dan, inilah manfaat penting buku: tidak hanya memberi pengetahuan tapi juga meluruskan tesis yang salah dan mengubah opini publik menjadi lebih benar. Dalam konteks itu, buku tidak hanya menjadi agen ilmu pengetahuan, tapi juga agen perubahan.

Seperti ditegaskan dalam peluncuran buku itu, tujuan Agus pun jelas, meluruskan stigma jelek Syekh Siti Jenar. Dan, upaya pelurusannya disepakati oleh budayawan Mohammad Sobary, Setyo Yuwono Sudikan, dan KH Agus Ali Masyhuri, yang tampil sebagai pembahas.

Temuan Agus yang juga penting, dan dibeberkan/bahaskan dalam buku itu, adalah bahwa Syekh Siti Jenar ternyata juga tetap menjalankan syariat (hukum dan amal dalam beragama) Islam dan tidak mengajarkan sasahidan atau ajaran yang sesat dan menyesatkan seperti dipersepsikan orang selama ini.

Para pengikut Syekh Siti Jenar, menurut temuan Agus, menganggap persepsi orang tentang wali ke-sembilan tersebut selama ini merupakan kebohongan, bahkan dalam soal tauhid (keimanan) pun, Syekh Siti Jenar tidak menganggap dirinya adalah Tuhan.

Ajaran yang paling populer dari Syek Siti Jenar, yang banyak ditafsirkan secara keliru sehingga berkembangan kesalahan persepsi tentang sang wali, adalah manunggaling kawula-Gusti (kesatuan Tuhan dan manusia). Ajaran ini, menurut Agus, merujuk pada Alquran bahwa Allah SWT ada dimana-mana tanpa dibatasi ruang, gerak, dan waktu. Tuhan selalu ada dalam setiap ruang kosong.

Dengan tesis-tesis anti-tesisnya itu, seperti diakui budayawan Setyo Yuwono Sudikan, berarti Agus Sunyoto telah melakukan semacam dekonstruksi terhadap sosok Syekh Siti Jenar melalui buku. Ia telah melakukan dekonstruksi ketokohan dan ajaran Syekh Siti Jenar.

Jauh sebelum Agus, budayawan sufistik Abdul Hadi WM juga sudah meyakini bahwa Syekh Siti Jenar bukan tokoh yang sesat. Ada penggelapan informasi tentang sang wali oleh penguasa. Syekh Siti Jenar disingkirkan oleh penguasa Demak karena dianggap berbahaya, seperti nasib yang menimpa Hamzah Fansyuri pada masa Kesultanan Aceh. Jadi, bukan karena persoalan ajaran, tapi lebih untuk kepentingan politik-kekuasaan.

Memang begitulan 'interaksi negatif' antara penguasa dan tokoh kritis. Dari zaman ke zaman, negara memang telah menguatkan hegemoni terhadap ulama, pujangga, dan tokoh masyarakat yang dianggap kritis dan berbahaya. Jika perlu, mereka disingkirkan, seperti dilakukan oleh penguasa Orde Baru terhadap Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh kritis lainnya.

Dengan kekuatan penguasa sebagai panutan dan pemegang pusat informasi, pandangan masyarakat yang umumnya paternalistik pun dapat disesatkan, sehingga karakter sang tokoh benar-benar dihabisi. Di mana-mana, di hampir tiap zaman, penguasa kerap melakukan pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya. Tokoh-tokoh yang semestinya dapat diteladani oleh masyarakat, seperti Mohammad Natsir dan Syeh Siti Jenar, diberi stigma negatif agar dilupakan.

Buku karya Agus itu, seperti diakui Mohammad Sobary, juga membuktikan bahwa sejarah tidak pernah selesai dan kebenaran sejarah juga tidak selalu final. Paling tidak, Agus Sunyoto telah menampar wajah para ilmuwan yang selama ini merasa puas dengan sejarah yang sudah ada. Melalui buku yang ditulis dengan kesungguhan dan kerja keras itu, Agus berhasil membongkar tabir mitos yang selama ini melingkupi Syekh Siti Jenar.

(Ahmadun Yosi Herfanda )

Directions:
Sumber : www.republika.co.id



~*~
Syekh Siti Jenar: Makrifat dan makna Kehidupan





Sang Pembaharuan: Pejuangan dan ajaran Syaikh Siti Jenar


. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

19 December, 2011

Catatan Sementara

Salam sejahtera sdra2 sekelian semoga sehat dan dimurahkan rezeki.

Berikut adalah 40 nasihat Sayyidina Ali Ibn Abi Talib k.w.j sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Nahjul Balagh oleh Sayyidina Ali Ibn Abi Talib dan kitab Al-Bayan Wattabyeen oleh Al-Imam Abu Othman Amru Ibn Bahr Al-Jaahidh r.a.:

1. Pendapat seorang tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2. Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3. Kebesaran seseorang itu bergantung dengan qalbunya yang mana adalah hanya sekeping daging.
4. Mereka yang bersifat pertengahan dalam semua hal tidak akan menjadi miskin.
5. Jagalah ibubapamu, nescaya anak-anakmu akan menjaga kamu.
6. Bakhil terhadap apa yang ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah SWT.
7. Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil daripada seseorang bakhil.
8. Seorang arif adalah lebih baik daripada kearifan. Seorang jahat adalah lebih baik dari kejahatan.
9. Ilmu adalah lebih baik daripada kekayaan kerana kekayaan harus dijaga, sedangkan ilmu menjaga kamu.
10. Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatkan kesusahanmu dengan mendirikan solat.
11. Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam.
12. Mengajar adalah belajar.
13. Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah menjadikan keluargamu hina dalam kemiskinan.
14. Insan terbahagi kepada 3: Mereka yang mengenal Allah, mereka yang mencari kebenaran dan mereka yang tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran. Golongan terakhir inilah yang paling rendah dan tidak baik sekali dan mereka akan ikut sebarang ketua dengan buta seperti kambing.
15. Insan tidak akan melihat kesalahan seorang yang bersifat tawadhu? dan lemah.
16. Janganlah kamu takut kepada sesiapa melainkan dosamu terhadap Allah.
17. Mereka yang mencari kesilapan dirinya sendiri adalah selamat daripada mencari kesilapan orang lain.
18. Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
19. Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun apabila ia mati.
20. Jika kamu mempunyai sepenuh keyakinan akan Al Haq dan kebenaran, nescaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahsia rahsia kebenaran itu.
21. Allah SWT merahmati mereka yang kenal akan dirinya dan tidak melampaui batasnya.
22. Sifat seseorang itu tersembunyi di sebalik lidahnya.
23. Seseorang yang membantu adalah sayapnya seseorang yang meminta.
24. Insan tidur di atas kematian anaknya tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya.
25. Barangsiapa yang mencari apa yang tidak mengenainya nescaya hilang apa yang mengenainya.
26. Mereka yang mendengar orang yang mengumpat terdiri daripada golongan mereka yang mengumpat.
27. Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran.
28. Seorang yang hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba.
29. Orang yang dengki, marah kepada orang yang tidak berdosa.
30. Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan.
31. Sangkaan seorang yang berakal adalah suatu ramalan.
32. Seorang akan mendapat teladan diatas apa yang ia lihat.
33. Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yang paling besar.
34. Kejahatan itu mengumpulkan kecelakaan yang memalukan.
35. Jika berharta, berniagalah dengan Allah dengan bersedekah.
36. Janganlah kamu lihat siapa yang berkata tetapi lihatlah apa yang dikatakannya.
37. Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura-pura.
38. Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada keselamatan.
39. Kebiasaan lisan adalah apa yang telah dibiasakannya.
40. Jika kamu telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, kerana perbuatan itu adalah syukur kepada kejayaan yang telah kamu perolehi.

Allahumma salli 'ala saiyidina Muhammad wa'ala alihi saiyidina Muhammad.











CERAMAH IKIM ON_LINE



http://prodapps.iium.edu.my:8000/OA_HTML/AppsLocalLogin.jsp




Tiga AmaL yg lebih Utama:
SoLat dlm Waktunya, berBakti kpd IbuBapa
& BerJuang fiSabilillah
[HR Bukhari]



5 PERKARA YG PERLU DISEGERAKAN

1. Urusan JENAZAH

2. MengKAHWINkan Anak Gadis yg cukup Umur

3. TAUBAT.

4. Menjelaskan HUTANG.

5. Memberi MiNUMAN pd TETAMU.

Surah al-Israk ayat 79:
“Dan dari sebahagian malam, hendaklah engkau bangun (TAHAJUD), sebagai amalan tambahan untukMu.
Semoga Tuhanmu mengangkat (DARJATmu) ke tempat yg TERPUJI.”



2. Abu Hurairah berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda yg bermaksud; Dipesankan kpdaku oleh kekasihku Rasulullah SAW dengan 3 perkara-

- BerPUASA 3 hari setiap Bulan
- Lakukan 2 rakaat SOLAT Sunat Dhuha
- Melakukan SOLAT WiTiR sebelum tidur
[HR Bukhari & Muslim]



~***~HOMEPAGE LadingEMAS~***~


Hadis Abu Hurairah r.a:
Dari Nabi s.a.w baginda bersabda: Sesiapa yg menjenguk-jenguk ke dalam rumah sesuatu kaum tanpa mendapat izin mereka, maka dihalalkan bagi mereka untuk mencungkil matanya.
(HR Muslim,#4016)

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

ADA RAKAMAN LAIN D SEBALIK RAKAMAN LIWAT SAIPOL ??


Skrip mahkamah yang menarik mengenai kewujudan 2 hard disk 'misteri' yang menceritakan dengan terperinci aktiviti Anwar Ibrahim bersama 5 orang di dalam kondo tempat di dakwa berlakunya kes liwat Saiful Bukhari!

Menarik! Persoalannya, apakah content sepenuhnya 2 hard disk tersebut? 

Di antara skrip mahkamah tersebut :-


Q: Pada 24.09.2008 jam lebih kurang, adakah kamu menerima apa-apa barang daripada bahagian Forensic PDRM?
A: Ya. Saya menerima 2 buah hard disk yang saya tandakan “HD1” dan “HD2” dari C.Insp Fauziah dari bahagian Forensik PDRM.

Q: Adakah ini hard disk yang kamu serahkan sebelum ini?
A: Ya, hard disk yang sama.

Q: Adakah Puan Fauziah yang kamu maksudkan?
A: Ya.

C.Insp Fauziah dicamkan.

Q: Untuk tujuan ini adakah borang serah menyerah dikeluarkan?
A: Ya.

Q: Adakah kamu dan Fauzian tandatangani?
A: Ya.

Q: Saya rujuk saksi kepada P69. Cuba lihat adakah ini borang serah menyerah “HD1” dan “HD2” yang diserahkan kepada kamu dan kamu terima pada hari itu?
A: Ya.

P69 dicamkan.

Q: Di mana kamu simpan kedua-dua hard disk ini?
A: Kedua-dua hard disk ini saya simpan di dalam cabinet besi saya di pejabat saya.

Q: Berkenaan hard disk adakah kamu melihat rakaman di dalamnya?
A: Pada 9.30 pagi 05.07.2008 saya telah lihat rakaman bersama-sama dengan C.Insp Fauziah.

Q: Rakaman daripada kedua-dua hard disk?
A: Ya.

Q: Kamu tahu sama ada diskdimainkan itu adalah disk yang kamu berikan kepadsa C.Insp. Fauziah atau disk lain?
A: Saya tak tahu.

Q: Apa tujuan kamu pergi menonton rakaman?
A: Tujuan saya adalah untuk saya lihat siapakah yang masuk ke dalam kondo dan juga lif dan seterusnya ke tingkat 5 tempat kejadia pada 26.06.2008 di antara pukul 12.00-6.00 ptg.

Q: Adakah siapa-siapa individu di dalam rakaman itu yang kamu boleh cam?
A: Pengadu dalam kes ini.

Q: Selain daripada itu?
A: Saya juga camkan Dato’ Seri Anwar Ibrahim.

Q: Ada camkan orang lain?
A: Saya juga camkan beberapa orang yang lain.

Q: Beberapa orang?
A: Ada 5 orang selain Dato’ Seri Anwar Ibrahim dan pengadu.

Q: Bila saya kata camkan maksudnya yang kamu tengok saja kamu boleh tahu. Ada 5 orang kamu boleh camkan?
A: 5 orang.

Q: Bagaimana kamu cam? Kamu kenal mereka sebelum ini?
A: Saya hanya kenal 1 orang dan yang lain saya camkan bila mainkan rakaman tersebut.

Q: Kenal mereka?
A: Tak kenal.

Q: Pernah jumpa mereka sebelum itu?
A: Tak pernah jumpa.

Q: Kamu tahu nama?
A: Saya tahu nama mereka.

Q: Selain dari itu, apa yang kamu lihat?
A: Saya juga lihat pada kenderaan yang masuk.

Q: Ada kamu target kenderaan-kenderaan tertentu untuk disiasat?
A: Ya.

Q: Boleh kamu beritahu apakah nombor kenderaan yang kamu kenalpasti untuk siasat lanjut?
A: WMK 6, WPK 5925, WND 1173 (Perdana), BHA 5476 (Honda Accord), WNK 6238 (Toyota Harrier) dan DAE 5 dan WNK 5251.

Q: Bagi kesemua kereta ini ada semak dengan JPJ siapakah pemilik berdaftar?
A: Ada.

Q: Boleh beritahu mahkamah yang mulia ini nama pemilik berdaftar bagi kenderaan—kenderaan ini?
A: WND 1173 (Perdana) – Malaysian Institute of Economic Research;
BHA 5476 (Honda Accord) – Nik Mahmood b. Nik Hassan;
WMK 6 (MG Rover) – Dato’ Seri Anwar Ibrahim;
WNK 6236 – Omar b. Malek Ali Merican, Chief Operating Officer of Bursa Malaysia;
DAE 5 – Dato’ Nik Mohd Sidek;
WMK 5251 – Deutsch Bank;
WPK 5925 – En. Zaki.

Q: Adakah kamu kesan dan rakam percakapan mereka semua ini?
A: Ya.

Q: Daripada beberpaa nama ini, siapa yang kamu sendiri rakam percakapan?
A: Daripada semua penama yang saya beri saya telah rakamkan percakapan Prof . Datuk Dr. Mohamed Ariff.

Q: Dia guna kereta apa mengikut siasatan kamu?
A: Beliau tekah menggunakan kereta WND 1173 Jenis perdana Hitam SETERUSNYA

http://azmykelanajaya.blogspot.com/2011/10/gempar-siapakah-gadis-ini-yg-ada-video.html
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

14 December, 2011

Poligami ~ Bermadu benar2 Manis..?

Ingin saya berkongsi dengan semua. menyokong tidak/menolak pun tidak. tepok dada tanya selera. Komen anda-anda-anda amat-amat saya harapkan. Artikel yang saya ceduk 100% dari SINI. Tujuan saya cuma nak tau komen dari pembaca. Saya hargai komen anda!
 
Kenapa wanita enggan berpoligami?

Ramai dan kebanyakan isteri paling fobia dengan istilah ‘madu’, mereka sanggup berbuat apa sahaja termasuk meminta pertolongan bomoh dan melakukan perbuatan khurafat asalkan diri tidak di dua tiga atau empatkan (dimadukan).

Sesungguhnya, ‘mengharamkan’ dan membenci apa yang dihalalkan oleh agama secara tidak lansung bermakna kita mengingkari suruhan agama. Ini boleh mengundang dosa.

Mungkin ramai yang tidak menyedarinya dan mungkin juga ada yang sedar, tapi berpura-pura tidak tahu, malahan memberi pelbagai alasan dan masih lagi ingin menolak sekeras-kerasnya poligami.

Kenapa para isteri menolak poligami?

Antara faktor utama adalah persekitaran, masyarakat sering menggambarkan perkara yang negatif apabila melibatkan soal poligami, tak kurang ramai yang mencemuh dan memandang serong apabila wanita dimadukan atau bermadu.

Isteri kedua, ketiga dan keempat sering dituduh sebagai perampas, dan sering didoakan agar pernikahan tidak berkekalan.

Siapa yang sanggup terjun ke ‘lombong cemuhan dan fitnah?[/B], mungkin ada tapi tak ramai yang sanggup menahan telinga mendengar cemuhan dan kutukan dari masyarakat.

Faktor media dan pengalaman dari mereka yang pernah bermadu, sering menggambarkan hidup yang penuh dengan derita, sengsara dan tunggang langgang setelah bermadu menjadi antara faktor mereka enggan bermadu.

Jarang lelaki dapat berbuat adil dengan isteri-isteri mereka, kerana selalunya niat mereka berpoligami serong, bukan kerana Allah tapi kerana tuntutan nafsu semata-mata, maka, bila nafsu mengawal diri, pasti pincanglah sesuatu institusi.

Ada suami mengabaikan nafkah zahir dan batin isteri pertama setelah ada pengganti yang baru, lebih menyedihkan, isteri pertama di aniaya dan anak-anak menjadi mangsa.

Lelaki sering menjadikan ‘Sunnah Nabi’ sebagai alasan untuk berpoligami[/B] namun malangnya suruhan serta tuntutan Nabi dan agama yang lain-lainnya ditolak tepi dan diabaikan.

Sudahnya, meranalah seluruh isi keluarga. Kebahagiaan yang ingin dikecapi sebaliknya derita yang diperolehi.

Dan mungkin juga, ada satu pihak menangis demi membahagiakan pihak yang lain.

Isteri juga enggan bermadu kerana ada di antara mereka terlupa bahawa setiap apa yang kita miliki di dunia ini adalah semuanya pinjaman dari Dia yang Esa.

Mereka yakin dan percaya, suami adalah hak milik isteri.

Apabila ini terjadi, mereka takut kehilangan hak milik mereka apatah lagi berkongsi hak milik dengan wanita lain.

Emosi yang sembilan gagal dikawal akal yang satu, lalu sering terjadi, mereka lebih rela diceraikan daripada dimadukan. Kedua-duanya halal, tapi satu dibenci dalam Islam dan satu lagi dituntut jika kena caranya.

Namun masih ramai yang tidak menerima secara positif.

Syaitan sudah bersumpah untuk membawa anak cucu adam bersama mereka ke neraka kelak, maka syaitan sentiasa berusaha untuk menyesatkan dan memberi perkhabaran palsu kepada manusia.

Syaitan sering membisikkan perkara-perkara yang negatif ke dalam diri manusia maka siapa yang tidak kuat imannya sering tergoda dan terpengaruh.

Malah percaya dengan bisikan syaitan lalu takut dan ragu-ragu untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah malahan bersenang hati untuk melakukan kejahatan yang bertentangan dengan tuntutan Agama.

Selain itu, manusia sering dihidapi penyakit rohani atau penyakit hati yang sukar di lihat apatah lagi untuk di ubati.

Antara penyakit hati yang paling merbahaya adalah ‘keras hati’.

Dimana mereka tidak takut atau gerun bila melakukan kejahatan dan tidak pula berasa seronok bila melakukan ketaatan kepada Allah.

Penyakit hati yang lain pula antaranya adalah tamak, dengki, cemburu, iri hati.

Dan adakalanya, apabila penyakit ini kian parah, mereka sanggup menganiaya manusia lain pula.

Maka, kerana adanya penyakit hati ini, tak ramai antara kita yang sanggup mengambil risiko bermadu atau dimadukan.

Kesimpulannya

Demikianlah antara faktor kenapa kebanyakan wanita enggan berpoligami. Seandainya, punca-punca itu dapat di kikis atau dibuang, nescaya, para isteri tidak lagi gentar dengan istilah bermadu.

Jika semuanya baik lelaki atau wanita sedar hakikat sebenar sebuah pernikahan, insyaAllah, walau apa jua ujian dan dugaan mendatang, sesebuah institusi kekeluargaan itu pasti tetap akan berdiri kukuh.

Pernikahan adalah ibarat sebuah bahtera yang berlayar dilautan luas.

Suami adalah nakhoda dan isteri (isteri-isteri) adalah pembantu.

Jika nakhoda itu bijak mengemudi kapal, bistari mengawal anak-anak kapal, berfikir sebelum membuat sebarang keputusan, tahu arah yang ingin dituju tanpa was-was, InsyaAllah kapal tidak akan sesat dan selamat sampai ke destinasi yang ingin di tuju.
iluvislam.com
Namun, harus diingatkan juga, tanpa bantuan dan persefahaman dari pembantu kapal, bahtera itu mungkin berada statik tiada kemajuan atau lebih teruk dari itu, bahtera itu mungkin akan karam.

Hancur dan musnah.

Dalam pernikahan, mesti ada tolak ansur, perlu ada give and take. Baik isteri mahupun suami haruslah saling menghormati dan saling menghargai. Harus ada yang mendengar bila satu pihak bercerita dan begitu pula sebaliknya.

Perhubungan dua hala adalah penting. Komunikasi antara suami isteri serta anak-anak perlu dijaga, agar jika ada sebarang masalah yang timbul, dapat dibincangkan dan diselesaikan dengan baik.

Lebih penting dari itu, niat bernikah juga kena betul.

Jangan diselewengkan. Jika niat ikhlas kerana Allah dan agama, insyaAllah walau apa jua dugaan mendatang, tiada apa yang mampu menggoyahnya.

Tidak kira suami bernikah satu atau empat, [B]jika asas agama adalah kukuh[/B], kebahagiaan dalam berumah tangga sedikit pun tidak akan goyah.

Hidup di dunia sementara, kehidupan di akhirat itu kekal abadi. Jadi, harus disematkan dalam diri dan jiwa, cita-cita yang paling utama adalah bahagia di syurga kerana itulah yang paling abadi.

Kita manusia hanya merancang, namun Allah jualah yang Maha Mengetahui. Dalam apa jua tindakan atau keputusan yang diambil, mohonlah petunjuk dari Ilahi. InsyaAllah selamat dunia dan akhirat.

“Madu jangan terus ditelan, hempedu jangan terus dibuang, kerana di sebalik manis dan pahit itu, mungkin ada racun atau penawar yang tersembunyi. “




WallahHu'Alam.


. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

13 December, 2011

Wanita Menurut Al-Quran dan Bible

Kedudukan Wanita Menurut Al-Quran dan Bible



Apa kata Bible tentang wanita?


“Wanita harus belajar dengan berdiam diri dan dengan rendah hati. Aku tidak membenarkan
wanita mengajar atau memerintah lelaki; wanita mesti berdiam diri. Hal ini demikian kerana Adam dicipta dahulu, kemudian barulah Hawa.
Lagi pula bukan Adam yang ditipu, tetapi wanita yang tertipu, sehingga melanggar perintah Allah.”  
(1 Timothy 2: 11-14)

“Kaum wanita haruslah berdiam diri di dalam gereja. Mereka tidak dibenarkan berkata-kata; mereka harus patuh kerana demikianlah ajaran Taurat. Jika mereka hendak mengetahui sesuatu, mereka harus bertanya kepada suami mereka di rumah. Amatlah memalukan jika seseorang wanita berkata-kata di perjumpaan jemaah.” (1 Korintus 14:34-35)

“Jika seorang wanita tidak menudung kepala ketika berdoa atau menyampaikan perkhabaran daripada Allah di hadapan orang ramai, dia memalukan suaminya. Wanita itu seperti wanita yang kepalanya dicukur. Jika seorang wanita tidak mahu menudung kepalanya, lebih baik dia menggunting rambut. Tetapi sangat memalukan jika seorang wanita dicukur kepalanya atau digunting rambutnya.
Oleh itu lebih baik dia menudung kepalanya. Seorang lelaki tidak perlu menudung kepala kerana dia mencerminkan rupa dan kemuliaan Allah.
Tetapi wanita mencerminkan kemuliaan lelaki, kerana lelaki tidak dijadikan daripada wanita, melainkan wanita dijadikan daripada lelaki.
Begitu juga lelaki tidak dijadikan untuk kepentingan wanita, tetapi wanita dijadikan untuk kepentingan lelaki.
Oleh itu, kerana malaikat-malaikat, seorang wanita harus menudung kepala sebagai tanda bahawa dia di bawah kekuasaan suaminya.” (1 Korintus 11:5-10)

“Baiklah kamu pertimbangkan sendiri: patutkah seorang wanita berdoa kepada Tuhan di hadapan orang ramai dengan tidak menudung kepala?”
(1 Korintus 11:13)

“Manusia itu menjawab:
“Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka ku makan”.
Maka berfirmanlah TUHAN kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kau perbuat ini?”.
Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka ku makan”.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ular itu: “Kerana engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perut mu lah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanamu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”.
FirmanNya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Ku buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan dia akan berkuasa atasmu”.” (Kejadian 3:12-16)

“Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak lelaki, maka najislah dia selama TUJUH HARI. Sama seperti pada hari-hari dia bercemar kain dia najis. Dan pada hari yang kelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu. Selanjutnya TIGA PULUH TIGA HARI lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh dia kena kepada sesuatu apa pun yang kudus dan tidak boleh dia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genab hari-hari pentahirannya. Tetapi jikalau dia melahirkan anak perempuan, maka najislah dia selama DUA MINGGU, sama seperti pada waktu dia bercemar kain, selanjutnya ENAM PULUH ENAM HARI lamanya dia harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas.” (Imamat 12:2-5)

“Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit daripada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu. Orang yang dikenan Allah terhindar daripadanya, tetapi orang yang berdosa ditangkapnya. Lihatlah, ini yang kudapati, kata Pengkhutbah: Sementara menyatukan yang satu dengan yang lain untuk mendapat kesimpulan, yang masih kucari tetapi tidak kudapati, kudapati seorang lelaki yang lurus di antara seribu, tatapi tidak kudapati seorang perempuan yang lurus di antara mereka.” (Pengkhutbah 7:26-28)

“Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, dia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya menjadi najis sampai matahari terbenam. Segala sesuatu yang ditidurinya selama dia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan dia menjadi najis sampai matahari terbenam.

Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan dia menjadi najis sampai matahari terbenam. Juga pada waktu dia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, dia menjadi najis sampai matahari terbenam. Jikalau seorang lelaki tidur dengan perempuan itu, dan dia kena cemar kain perempuan itu, maka dia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.

Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelahan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila dia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelahannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni dia najis.

Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama dia mengeluarkan lelahan , haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya. Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan dia harus mencui pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan dia menjadi najis sampai matahai terbenam.
Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, dia harus menghitung tujuh hari lagi sesudah itu barulah dia menjadi tahir. Pada hari yang kelapan, dia harus mengambil dua ekor burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Khemah Pertemuan.
Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan perdamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, kerana lelehannya yang najis itu.” (Imamat 15:19-30)


Dengan kata lain, Bible mengajar bahawa:

1. Wanita harus mendiamkan diri dan mengenepikan keinginan diri sendiri.
2. Wanita tidak patut mengajar.
3. Wanita tidak mempunyai kuasa ke atas lelaki, sebaliknya harus berdiam diri.
4. Adam dan Hawa tidak sama dalam dosa mereka. Adam tidak tertipu, sebaliknya Hawa tertipu.
5. Wanita diperintahkan mematuhi kaum lelaki. Tuhan menetapkan bahawa lelaki memerintah wanita selamanya.
6. Wanita mesti berdiam diri di dalam Gereja. Adalah memalukan jika mereka bercakap. Jika mereka mempunyai soalan, mereka perlu bertanya kepada suami mereka sebelum pergi ke gereja dan suami mereka akan bertanya bagi pihak mereka di gereja.
7. Wanita tidak boleh sembahyang atau membuat pengakuan dengan kepalanya tidak ditutup.
8. Jika wanita bersembahyang dengan kepalanya tidak ditutup, lebih baiklah dia mencukur kepalanya.
9. Lelaki dicipta daripada rupa dan kemuliaan Tuhan, dan wanita dicipta daripada kemuliaan lelaki, maka lelaki berkuasa ke atas mereka.
10. Wanita yang melahirkan bayi lelaki tidak suci selama seminggu, tetapi wanita yang melahirkan bayi perempuan tidak suci selama DUA minggu. Maka bayi perempuan adalah DUA KALI tidak suci berbanding bayi lelaki.
11. Adalah mungkin untuk menemui seorang lelaki yang lurus dalam seribu lelaki, tetapi adalah mustahil untuk menemui walau seorang wanita yang lurus dalam seribu wanita.
12. Wanita adalah perangkap, hatinya adalah jerat, dan tangannya adalah belenggu. Lelaki yang mematuhi Tuhan akan terlepas daripadanya, tetapi beliau akan memerangkap mereka yang berdosa.
13. Jika seorang wanita yang sedang haid menyentuh kerusi, katil atau apa sahaja, maka apa yang disentuhnya menjadi tidak suci. Sesiapa yang menyentuh barang tersebut juga menjadi tidak suci. Mereka mesti mandi dan membersihkan pakaian mereka kerana telah menyentuh barang yang disentuh oleh seorang wanita yang sedang haid.

Apa yang dikata mengenai orang-orang kudus Kristian mengenai wanita:

“Wanita adalah anak kepalsuan, pengawal neraka, musuh kedamaian; kerananya Adam kehilangan Syurga” (St. John Demanscene)

“Wanita adalah alat syaitan yang digunakan untuk mendapatkan roh kita” (St. Cyprian)

“Wanita adalah lengan syaitan, suaranya adalah bisikan ular” (St. Anthony)

“Wanita adalah racun ular, dan memiliki kejahatan naga” (St. Gregory)

Semasa St. Tertulian bercakap dengan “saudara-saudara perempuan seagama yang dikasihinya”, 
beliau berkata, “Tidakkah kamu tahu bahawa setiap daripada kamu adalah Hawa? Hukuman Tuhan ke atas jantina kamu berterusan sehingga ke hari ini: kesalahan tersebut harus berterusan. Kamu adalah pintu masuk syaitan. Kamu adalah pembuka pohon terlarang. Kamu adalah yang pertama melanggar undang-undang tuhan. Kamulah yang memujuknya yang tidak dapat diserang oleh syaitan. Kamu dengan mudah telah memusnahkan rupa Tuhan, iaitu lelaki,.”.
St. Augustine menulis kepada sahabatnya, “Apa bezanya jika dia adalah seorang isteri atau seorang ibu, dia masih Hawa, penggoda yang mesti kita berjaga-jaga terhadapnya.”. 
Beberapa abad kemudian, St. Thomas Aquinas masih menganggap wanita tidak sempurna,
“Merujuk kepada sifat individu, wanita tidak sempurna, kerana kuasa aktif di dalam benih lelaki berkecenderungan untuk menghasilkan apa yang mirip kepada jantina lelaki yang sempurna; manakala wanita dihasilkan daripada kecacatan dalam kuasa aktif atau daripada bahan yang kurang sihat, atau daripada pengaruh luar.” (Semua petikan-petikan ini diperolehi daripada buku Karen Armstrong bertajuk “The Gospel According to Woman”, London: Elm Tree Books, 1986, m.s. 52-62. Juga lihat buku oleh Nancy van Vuuren, “The Subversion of Women as Practiced by Churches, Witch-Hunters and Other Sexists Philadelphis”, Westminster Press, m.s. 28-30).

Lelaki Yahudi Ortodoks memulakan sembahyang pagi mereka dengan membaca, “Dirahmati Tuhan, Raja semesta Alam, kerana Dia tidak menjadikan aku wanita”. 
Wanita pula bersyukur kepada Tuhan setiap pagi kerana, “menjadikanku menurut kehendakMu” (Thena Kendath, “Memories of an Orthodox Youth”, dalam Susannah Heschel, penyunting. “On Being a Jewish Feminist”, New York: Schocken Books, 1983, m.s. 96-97).

Menurut Talmud Yahudi, “wanita dikecualikan daripada mempelajari Taurat”. Pada abad pertama Masihi, Rabai Eliezer berkata, “Jika seorang lelaki mengajar anak perempuannya Taurat, seolah-olah beliau mengajarnya kegasangan.” (Leonard J. Swidler, “Women in Judaism: The Status of Women in Formative Judaism”, Metuchen, N.J: Scarecrow Press, 1976, m.s. 83-93).

Menurut Rabai Dr. Menachem M. Brayer (Profesor dalam Kesusasteraan Biblikal di Yeshiva University) di dalam bukunya “The Jewish Woman in Rabbinic Literature”, adalah menjadi kebiasaan wanita Yahudi keluar ke tempat awam dengan kepalanya ditudung, malah kadang kala seluruh wajahnya juga ditutup dan hanya satu mata kelihatan
(“Psychosocial Perspective”, Hoboken, N.J: Ktav Publishing House, 1986, m.s. 239).

Beliau memetik Rabai-rabai purba yang masyhur berkata,
“Tidak layak wanita-wanita Israel keluar tanpa kepalanya ditudung”, dan, “Terkutuklah lelaki yang membiarkan rambut isterinya dilihat… wanita yang mendedahkan rambutnya sebagai perhiasan membawa kepapaan”.
Undang-undang Rabai melarang doa dibaca jika terdapat wanita yang telah berkahwin yang tidak menutup kepalanya kerana rambut yang terdedah dianggap “bogel”
(Ibid, m.s. 316-317.
Juga lihat Swidler, op. Cit. M.s. 121-123).
Dr. Brayer juga menyebut bahawa, “Semasa zaman Tannaitik, wanita Yahudi yang tidak menudung kepalanya dianggap menghina kesuciannya. Jika kepalanya tidak ditudung, dia boleh didenda empat ratus zuzim atas kesalahan ini.”.
Dr. Brayer juga menjelaskan bahawa tudung wanita Yahudi tidak hanya dianggap sebagai lambang kesopanan. Kadang-kala ia melambangkan maruah dan martabat wanita bangsawan. Ia juga lambang seorang wanita tidak boleh disentuh kerana beliau adalah milik suci suaminya (24. Ibid, m.s. 139).

Jelas bahawa di dalam Perjanjian Lama, mendedahkan kepala wanita adalah hal yang amat memalukan dan inilah sebabnya seorang paderi perlu membuka tudung seorang wanita yang disyaki berzina dalam perbicaraannya (Bilangan 5:16-18).

St. Tertullian di dalam karyanya yang terkenal, “On the Veiling of Virgins” menulis, “Wanita-wanita muda, pakailah tudungmu semasa di jalanan, kamu juga perlu memakainya di gereja, kamu juga perlu memakainya semasa berada di kalangan orang-orang yang tidak dikenali, dan pakailah ia semasa bersama saudara-saudara lelakimu…”. Di antara undang-undang Kanon gereja Katolik hari ini, terdapat peraturan yang memerlukan wanita menudung kepala mereka di gereja (Clara M. Henning, “Cannon Law and the Battle of the Sexes”, dalam Rosemary R. Ruether, suntingan, “Religion and Sexism: Images of Woman in the Jewish and Christian Traditions”, New York: Simon and Schuster, 1974, m.s. 272).

Beberapa mazhab Kristian, seperti Amish dan Mennonit, menetapkan wanita mereka perlu bertudung sehinggalah ke hari ini. Alasan untuk bertudung yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin Gereja adalah, “Menudung kepala adalah lambang penyerahan kepada lelaki dan Tuhan”. Logik yang sama dikemukakan oleh St. Paul di dalam Perjanjian Baru (Donald B, Krabyll, “The Riddle of the Amish Culture”, Baltimore: John Hopkins University Press, 1989, m.s. 56).

Wanita Russia Ortodoks juga dikehendaki menudung kepala semasa di gereja. Kebanyakan mereka tidak melakukannya di Amerika, tetapi wanita-wanita di Russia dan di banyak negara-negara Eropah Timur, seperti Greek dan timur tengah, memakai selendang menutupi kepada mereka apabila berada di tempat awam.

Ini hanyalah sebahagian kecil contoh. Untuk melihat petikan-petikan mengenai hal ini, sila dapatkan buku
“Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition: The Myth and the Reality”, oleh Dr. Sherif Abdel Azeem, World Assembly of Muslim Youth.

Selanjutnya, menurut Perjanjian Lama, seorang balu yang tidak mempunyai anak mesti mengahwini saudara lelaki suaminya, walaupun beliau telah mempunyai anak tanpa mengira sama ada balu tadi bersetuju, untuk menghasilkan zuriat daripadanya (Kejadian 38).

Selanjutnya, menurut Bible:

“Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengannya, dan keduanya kedapatan, maka haruslah lelaki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puuh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya sebab lelaki itu telah memperkosanya; selama hidupnya tidak boleh lelaki itu menceraikannya.” Ulangan 22:28-30

Kita perlu bertanyakan satu soalan yang mudah di sini, siapakah yang sebenarnya dihukum: lelaki yang memperkosa gadis tersebut atau gadis yang diperkosa? Siapakah yang dapat menghalang seorang lelaki daripada memperkosa gadis tercantik di bandar, memaklumkan semua orang akan hal tersebut, dan kemudian meminta mahkamah memaksa gadis tersebut menjadi isterinya?

Menurut Bilangan 27:1-11, balu dan saudara perempuan tidak boleh mewarisi harta langsung. Anak perempuan hanya mewarisi harta jika bapa mereka tidak mempunyai anak lelaki.

Apa kata AlQuran pula tentang wanita?

Maka apa pula ketetapan AlQuran mengenai wanita? Memang wanita diperintahkan oleh Allah supaya menutup kepala mereka dan berpakaian sopan, tetapi di dalam Islam ini bukanlah lambang merendahkan diri atau menyerah kepada lelaki, sebaliknya ia adalah lambang kesucian, kesopanan dan ketakwaan kepada Allah.

Ini juga adalah sebagai tanda kepada semua lelaki yang berurusan dengannya supaya menghormatinya. Bandingkan keadaan ini dengan keadaan di Barat apabila seseorang bertemu dengan rahib atau paderi, bagaimana pakaian rahib dan paderi tersebut adalah tanda kepada mereka yang menemuinya untuk tidak berkelakuan atau bercakap yang tidak sopan.

Apabila wanita menjaga dan menutup aurat dengan baik, bermakna wanita itu mahal, bukan barang murah untuk dibuat pameran merata-rata. Suatu yang mahal itu mesti dijaga dengan rapi dan elok. Dan yang paling penting, ianya untuk mengelakkan dari menggoda dan merangsang nafsu seks para lelaki, agar maksiat dan jenayah rogol dan seumpamanya dapat dielakkan.

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Ahzab (33) : Ayat 59 (juga lihat Al-Nur (24):31)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau hamba-hamba yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita, dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ” (Surah An-Nur (24) : 31)

Bagaimana pula dengan hak-hak wanita dalam Islam? Adakah benar mereka adalah “warga kelas dua”? Mari kita baca apa kata AlQuran:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajipannya menurut cara yang baik”
(Surah Al-Baqarah (2) : 228)

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak mensia-siakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki atau perempuan (kerana) sebahagian kamu adalah keturunan sebahagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanKu, yang berpegang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisiNya pahala yang baik.”
(Surah Aali-’Imran (3) : 195)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak daripada sebahagian lain. (Kerana) bagi lelaki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebahagian daripada kurniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Surah Al-Nisaa (4) : 32)

” Bagi lelaki ada bahagian daripada harta peninggalan ibu bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bahagian (pula) daripada harta peninggalan ibu bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (Surah Al-Nisaa (4) : 7)

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik lelaki mahu pun wanita, sedang dia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” 
(Surah Al-Nisaa (4) : 124)

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah daripada yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberikan rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Surah Al-Taubah (9) : 71)

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik lelaki mahu pun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(Surah Al-Nahl (16) : 97)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri daripada jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(Surah Al-Rum (30) : 21)

“Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik lelaki mahu pun perempuan, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.” (Surah Al-Mukmin (40) : 40)

19 hadith tentang wanita

Berikut adalah petikan 19 hadith tentang wanita dari kitab Tanbihul Ghafilin.

1 - Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah s.a.w. akan hal tersebut, jawab Baginda s.a.w., “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.

2 - Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w.t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

3 - Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.

4 - Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5 - Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6 - Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah s.w.t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama
Allah s.w.t.

7 - Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang takutkan Allah s.w.t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8 - Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9 - Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10 - Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11 - Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.

12 - Aisyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w, siapakah yang lebih besar haknya
terhadap wanita? Jawab Rasulullah s.a.w., “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah s.a.w, “Ibunya”.

13 - Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14 - Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di
langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15 - Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16 - Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17 - Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18 - Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19 - Daripada Aisyah r.a. “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”

Yang membezakan manusia hanyalah ketaqwaan

Walaupun Allah s.w.t mengatakan bahawa lelaki itu adalah pemimpin kepada wanita, tidak bermakna wanita itu kedudukannya hina di sisi lelaki. Akan tetapi wanita kedudukannya adalah sebagai penasihat, yang mana bukan satu kedudukan yang sembarangan, dan bukan seperti seorang hamba abdi. Dan kaum lelaki tidak boleh menzalimi kaum wanita.

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka, sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh kerana Allah telah memelihara (mereka), wanita-wanita yang kamu khuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pukullah mereka, kemudian jika mereka menta'atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Surah An-Nisaa' 4 : 34)

Rasulullah S.a.w bersabda yang maksudnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk-bentuk tubuhmu dan harta kamu tetapi akan melihat isi hati kamu dan amal-amalmu”. (Hadith Riwayat Muslim, Shahihul Muslim, tafsir Ibnu Katsir juz 7 hal 322).

Hadis Abu Hurairah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w telah bersabda: Seorang wanita tidak boleh berpuasa ketika suaminya ada bersama kecuali dengan izin suaminya. Dia juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya ketika suaminya ada bersama kecuali mendapat keizinan suaminya dan apapun yang dia belanjakan dari hasil kerja suaminya tanpa perintah atau izin suaminya itu, maka separuh dari pahalanya adalah untuk suaminya.
(Riwayat Muslim, #1704)
Sabdanya lagi yang bermaksud, “Tiada kelebihan seseorang terhadap yang lainnya melainkan dengan taqwa kepada Allah”. (Hadith Riwayat Abu Bakar Albazzar, tafsir Ibnu Katsir juz 7 hal 322).

Hanya Taqwa yang membezakan antara manusia dan tiada manusia yang dapat menentukan tahap KETAQWAAN seseorang melainkan Allah sahaja yang tahu. Ini bermakna kita tidak boleh membeza-bezakan kelebihan yang ada pada seseorang kerana kelebihan yang dipandang oleh Allah hanyalah taqwa dan hanya Dia sahaja yang tahu.
WallahHu'Alam.
[sumber...]

. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

Imam al-Ghazali

Akhir Kehidupan Imam al-Ghazali


~*~Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali's Last

~*~
Babak di saat terakhir kehidupan Imam al-Ghazali petikan dari dokumentari 'Al-Ghazali: Alchemist of Hapiness'.


Mengalihkan Tumpuan Pada Hadis Di Akhir Hayatnya

Didalam Tabaqat al-Subki menjelaskan bahawa Imam al-Ghazali melalui peringkat ketidak stabilan pada awalnya dan keadaan menjadi lebih jelas pada peringkat akhir hayatnya. Telah diriwayatkan bahawa beliau pada akhir hayatnya kembali kepada hadis-hadis sahih, dimana beliau sendiri mempelajari dan menghafal kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dikatakan pada penghujung penghidupannya, beliau telah mendengar Sahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad Abdul Hafsi, dan Sunan Abu Daud dari Qadhi Abu al-Fath al-Hakimi al-Thusi.

Diceritakan oleh murid beliau, Abdul Ghafur al-Farisi mengenai tahap akhir penghidupan gurunya: “Pada peringkat akhir beliau telah menunjukkan minat yang mendalam berkenaan hadis al-Mustafa (Hadis Nabi s.a.w.) dan mentelaah Sahih Bukhari dan Muslim.

Menurut Ibnu Katsir: “(Pada akhir hayat) dia telah pulang ke negerinya Tus dan tinggal disana, membentuk perhubungan, mengadakan rumah yang baik, menanam tanan-tanaman di kebun yang indah, membaca al-Quran dan menghafal hadis-hadis sahih. Dikatakan pada akhir hayatnya, beliau lebih cenderung kepada mendengar hadis-hadis Bukhari dan Muslim dan menghafalmnya.

Imam Az-Zahabi berkata: “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadis dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Sahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadis dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang puteri.”

Wafatnya Imam al-Ghazali
Kubur Imam al-Ghazali yang sebenar telah dijumpai oleh para arkeologi Khurasan pada tahun 1995 di Tus.

Adik Imam al-Ghazali, Ahmad menceritakan saat menjelang ajal abangnya:
“Pada waktu subuh hari Isnin, abangku Abu Hamid mengambil wuduk lalu bersolat. Kemudian beliau berkata:
“Bawakan kain kapanku,” lalu diambil dan dicium serta diletakkan di mata sambil berkata lagi:
“Aku patuh dan taat untuk masuk kepada malaikat.”
Kemudian al-Ghazali mengunjurkan kakinya dan menghadap ke kiblat dan wafat sebelum matahari terbit.”

Imam al-Ghazali wafat pada pagi Isnin, 14 Jamadilakhir 505H/19 Disember 1111M di Tus dengan kitab hadis atas dadanya. Jenazah beliau dikebumikan di makam al-Tabaran, bersebelahan dengan makam penyair besar yang terkenal, Firdausi.

Diceritakan bahawa Syeikh Abul Hasan al-Syadzili bermimpi bahawa dia melihat Nabi s.a.w. menunjukkan Imam al-Ghazali kepada Nabi Musa dan Isa, sambil bertanya kepada kedua mereka, “Adakah terdapat orang alim yang bijaksana dalam umat anda berdua?” Jawab keduanya, tidak ada.
WallahHu'Alam.

. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~
~*~ Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... ~*~