QURAN dan TerJemahan ~ PerHatikan Pesanan Allah dlm KiTabNya ini

AL QURAN

Listen to Quran
~*~*~*Al-Quran OnLine
Showing posts with label Wuduk. Show all posts
Showing posts with label Wuduk. Show all posts

18 February, 2011

Cahaya Wudhu

I want you to take a look at: majelisrasulullah.org - Cahaya Wudhu , Senin 07 Februari 2011





Cahaya Wudhu
Senin, 07 Februari 2011



قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
( رواه البخاري )
“Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu'nya, maka barangsiapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya, maka lakukanlah.” ( Shahih Al Bukhari )
ImageSebelum saya melanjutkan tausiah, ada pertanyaan mengapa hadits ini harus dibaca dulu bersama-sama?, tidak harus dibaca namun (maksud kita) hanya dengan niat mengambil barakah. 
Sebagaimana ta’lim (pembelajaran) itu ada 3 macam, yang pertama adalah belajar dengan membaca buku, yang kedua adalah belajar dengan guru, dan yang ketiga adalah ta’lim (belajar) dengan cara talaqqi. 
Seperti yang kita fahami bahwa belajar dengan buku tanpa guru bisa jadi kesalahannya lebih banyak daripada ta’lim dengan guru langsung, namun belajar langsung kepada guru pun terkadang salah faham juga atas apa-apa yang disampaikan oleh gurunya. Dan yang paling utama adalah belajar dengan cara talaqqi, talaqqi adalah ucapan langsung dari gurunya kemudian diucapkan lagi oleh muridnya. 
Dan Ulama’ masa kini menggunakan ketiganya, jadi kitab atau bukunya ada, syarah guru serta talaqqinya juga ada. Bahkan kitab-kitab seperti Shahih Al Bukhari dan terjemahannya sangat mudah kita dapatkan. 
Namun ta’lim yang paling utama adalah Talaqqi karena inilah yang disebut dengan sanad keguruan, dimana seorang guru belajar langsung kepada gurunya sehingga bersambung kepada Al Imam Bukhari dan sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Setelah kita membaca hadits tadi dan acara selesai maka selesailah pembacaannya namun ruh kita terus bersambung kepada Al Imam Al Bukhari sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Cahaya Allah subhanahu wata’ala yang menerangi kita dengan rahmat-Nya, gelombang rahmat-Nya terus mencari tempat-tempat yang pantas dijadikan tempat untuk bergabung, seperti gelombang-gelombang yang muncul, banjir, atau tsunami kesemuanya mengarah ke tempat yang lebih rendah, maka majelis-majelis dzikir dan majelis-majelis ta’lim itu adalah tempat mengarahnya para malaikat pembawa rahmat, namun yang paling banyak mendapatkan bagian rahmat adalah orang yang paling rendah hati dan tidak menyombongkan diri, tidak riya’ namun dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling banyak dosa dan bersyukur karena telah diizinkan oleh Allah untuk duduk di majelis itu, maka orang yang seperti itu akan dimuliakan oleh Allah.
مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ
“Barangsiapa yang merendahkan hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya.”


Maka mereka itulah genangan rahmat Allah, kita berkumpul di majelis ini dari tumpahruahnya rahmat Ilahi mengenai semua yang hadir, lalu sedikit demi sedikit genangan rahmat itu akan mengarah kepada yang paling rendah hati dan tawadhu’, dalam hatinya tidak ada rasa sombong. 


   Inilah medan untuk mencapai rahmat Ilahi, dan dimanapun rahmat Allah itu bertebaran bahkan melebihi padatnya udara yang ada di muka bumi karena udara adalah bagian dari rahmat Allah, dan melebihi lautan karena lautan adalah bagian dari rahmat Allah, dan melebihi debu yang ada dipermukaan bumi dan terpendam di dalam bumi karena kesemuanya adalah bagian dari rahmat Allah. 


   Kehidupan, kematian, alam barzakh dan hari kiamat adalah merupakan bagian dari rahmat Allah, bahkan orang yang di neraka sekalipun masih mendapatkan rahmat Allah, dari mana? 
Yaitu dari syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah munculkan rahmat-Nya di neraka berupa syafaat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selama mereka meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah. 


   Jika di neraka saja rahmat Allah masih terus ada dan tidak bisa terputus maka terlebih lagi untuk kita yang masih hidup di dunia, yang masih akan melewati fase[bab] sakaratul maut, alam kubur, barzakh dan hari kiamat, masih tersisa 3 fase di hadapan kita dimana zaman yang masih akan kita lewati yang kesemuanya itu penuh dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala yang masih akan kita dapatkan, dan semakin banyak kita mendoakan kaum muslimin lainnya maka semakin banyak pula bagian rahmat yang akan kita dapatkan dari doa-doa kita untuk orang muslim lainnya, dengan doa seperti :
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
“Wahai Allah ampunilah (dosa) ku, dan semua orang muslim laki-laki dan muslim perempuan ”


   Maka dari doa itu kesemua muslimin muslimat termasuk dalam doanya, terlebih lagi jika dia hadirkan hatinya dalam mendoakan kaum muslimin, dengan mendoakan yang hidup atau yang telah wafat, yang hidup semoga semakin diluaskan rizkinya, yang telah wafat semoga dijauhkan dari siksa kubur, yang terkena bencana alam semoga diberi kesabaran, yang dalam kesusahan semoga diberi kemudahan, yang kaya raya semoga diberi hidayah dan mau mnegeluarkan hartanya untuk fakir miskin, dan yang terjebak dalam kerusakan aqidah semoga diberi hidayah, semakin dalam doa kita untuk mereka maka semakin besar anugerah Allah untuk kita, dan hal itu tidak bisa diamalkan kecuali oleh orang-orang yang dicintai Allah, karena jiwa yang seperti itu sejiwa dengan jiwa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu memikirkan keadaan ummatnya. 


   Bahkan ketika beliau akan wafat yang dipanggil adalah “ummatku, ummatku”, dan ketika beliau dibangkitkan pertama kali yang disebut adalah “ummatku, ummatku”, demikian keadaan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 
 Dan mengenai sebagian kaum yang belum mau beriman dan belum mau taat kepada Allah, bahkan selalu ingin berbuat kemaksiatan dan kemungkaran saja, maka Allah telah menjelaskan kepada kita dalam masalah ini yaitu untuk tidak memusuhi mereka dan tidak terlalu memaksa mereka untuk beriman dan taat kepada Allah, karena mereka masih belum diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
(يونس : 99 )
“ Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” ( QS. Yunus : 99 )


Jika Allah menghendaki maka tidak akan ada lagi orang yang bermaksiat, semuanya akan Allah beri hidayah, jika Allah berkehendak maka Allah mampu melakukannya. 
Maka Allah bertanya kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
“apakah engkau membenci manusia yang belum beriman, sampai ia beriman? 


 Dan terkadang kita tidak berlaku sopan dan baik kepada orang yang bermaksiat sampai ia beriman. Hal ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada saudara saudari kita yang belum mendapatkan hidayah adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan, dan membenci mereka adalah hal yang dilarang Allah , karena jika Allah mau maka semua manusia akan diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala. 
Teguran langsung dari Allah ini adalah tuntunan Ilahi agar kita senantiasa berbuat baik kepada semua orang baik yang beriman atau tidak. Namun tentunya ada perbedaannya juga cara memperlakukan antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, antara orang yang shalih, antara orang tua atau kakak dan adik kita, antara ulama’ guru-guru dan para shalihin, masing-masing punya cara. 
Kelakuan kita dengan orang tua kita yang muslim atau yang non muslim pun harus tetap berbuat baik kepadanya. 
Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan riwayat lainnya dimana salah seorang wanita bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata :
“ibuku datang kepadaku dalam keadaan musyrikah ( dari golongan kuffar quraisy dan belum masuk Islam) apakah aku harus menyambutnya?”, 
 maka Rasulullah berkata : “Ya, jika dia datang sambut dan jamulah dia”. 


 Demikian budi pekerti kerukunan antara ummat beragama yang perlu kita perhatikan. Ada habl minannaas ( hubungan dengan manusia) dan ada habl minallah (hubungan dengan Allah), selanjutnya kita mengarah pada hubungan kita dengan Allah. Hadits yang telah kita baca tadi :
إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ
“Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu'nya”


Dalam hadits ini Al Imam Ibn Hajar berpendapat bahwa terdapat 2 hadits, hadits yang diatas adalah hadits yang pertama dan hadits berikut adalah hadits yang kedua:
فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
“Maka barangsiapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya maka lakukanlah.”


Jadi kalau kita berwudhu, batas wajah adalah lebarnya dari telinga kanan sampai ke telinga kiri dan panjangnya dari tempat tumbuh rambut kira-kira satu telunjuk dari tempat tumbuhnya alis hingga ke dagu. 
Dan jika ingin mendapatkan kemuliaan yang ada dalam hadits tadi maka lebihkan sedikit ketika membasuh anggota wudhu’.
 Maka ketika membasuh muka dilebihkan hingga sampai ke rambut dan ke leher, jika membasuh tangan maka dilebihkan hingga ke atas siku, dan membasuh kaki dilebihkan hingga ke tengah betis, begitu juga dengan anggota wudhu yang lainnya. 
Dan menurut Al Imam Ibn Hajar hadits ini terdapat 2 makna, yang pertama bahwa yang dimaksud “ghurran muhajjilin” orang yang dibangkitkan dengan wajah yang terang benderang di hari kiamat adalah yang melebihkan air dalam membasuh anggota wudhu, namun menurut pendapat yang kedua bahwa yang dimaksud adalah orang yang memperbanyak wudhu.


 Jadi semakin banyak berwudhu’ maka semakin indah dan cerah wajahnya di hari kiamat karena cahaya Allah. Wudhu adalah make up yang tidak akan hilang, karena cahaya wudhu itu tidak sirna di alam kubur, tidak pula sirna di barzakh atau di hari kiamat. 
Make up dan kosmetik yang lain akan hilang jika terkena air , maka make up wudhu lah yang paling agung. 
Maka jika ingin memiliki wajah yang cerah dan sejuk dipandang perbanyaklah berwudhu namun jangan diniatkan untuk memperindah wajah namun karena untuk mengikuti sunnah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. 


Orang yang terbiasa berwudhu kemudian dia tidak berwudhu maka orang yang biasa melihatnya akan merasakan perbedaan ketika melihat wajahnya. Dikatakan bahwa Al Arif billah jika mereka keluar rumah tanpa berwudhu maka seakan-akan mereka keluar rumah tanpa pakaian, karena orang yang berwudhu itu dijaga daripada hal-hal yang membahayakan seperti sihir, sifat sedih, sifat benci, sifat iri dan lainnya. 


Semoga wajah kita cerah dan terang benderang di hari kiamat dengan cahaya wudhu, sebagaimana hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah kita baca tadi, amin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita merenungi hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimana ketika beliau di Madinah Al Munawwarah didatangi oleh seorang sahabat dari kalangan Anshar dan berkata :

“wahai Rasulullah, unta merah kami mengamuk dengan sangat beringasnya”, 
unta merah adalah unta yang terbesar di Madinah Al Munawwarah. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “bawa aku padanya”, 
kemudian rasulullah meminta dibukakan pintu jebakan itu, maka para sahabat berkata :
“wahai rasulullah unta itu sedang sangat beringas” 
 maka rasulullah berkata : “ segala sesuatu yang ada di langit dan bumi mengenal dan mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali pendosa dari golongan jin dan manusia maka mereka tidak mengenal aku”. 


Wahai Rasulullah, kami adalah pendosa dan hati kami terguncang mendengar hadits ini, awalnya kami gembira bahwa engkau dikenal seluruh makhluk di langit dan bumi, namun kalimat terakhir “kecuali pendosa dari golongan jin dan manusia maka mereka tidak mengenalku”, 
 Apakah kami tidak mengenalmu wahai rasulullah?!. 
Wahai Allah kami semua hadir untuk berdzikir dan bershalawat, maka jangan sisakan satu pun dari kami kecuali kesemuanya telah dikenali oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengenal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. 
 Hadirin hadirat, perbanyak dzikir, perbanyak ibadah, perbanyak doa dan munajat. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika terakhir nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, kalimat terakhir yang diucapkan oleh nabiyullah Ibrahim AS adalah :
حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah  adalah sebaik-baik Pelindung."
Ayat ini diwariskan kepada kita dengan firman yang selalu kita baca setiap di awal maulid :
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
( التوبة : 129 )
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” ( QS. At Taubah : 129 )
Dan sebagaiamana riwayat Al Imam Abu Daud Radhiyallahu ‘anhu :
مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ اللَّهُ مَا أَهَمَّهُ صَادِقًا كَانَ بِهَا أَوْ كَاذِبًا
“Barangsiapa dipagi hari atau sore membaca “Hasbiyallah Laa ilaaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsy al ‘azhiim” 7 kali, maka Allah akan melindunginya dari apa apa yg dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan” (HR Abu Dawud)


Dan terlebih lagi Jika kita hadirkan makna kalimat itu disaat kita membacanya. 
Wahai Allah rangkullah kami dalam kasih Sayangmu dan jadikanlah kami hanya selalu berharap kepada-MU, sehingga kami tidak lagi meminta dan mengharap kepada selain-Mu…
َقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.


Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rencana acara maulid akbar kita hari Selasa yang akan datang insyaallah menjadi maulid terbesar di dunia. Tepat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1432 H akan bersatu kaum muslimin muslimat dari berbagai penjuru di Jabodetabek, pulau Jawa, Sumatera , Sulawesi dan lainnya akan bersatu di Jantung Ibukota negara muslim terbesar yaitu di Monas Jakarta. 

Kita bersama-sama untuk mendapatkan rahmat dan kedamaian dari Allah untuk bangsa kita, kota kita dan negeri lainnya, amin. Dan malam Selasa yang akan datang majelis di masjid Al Munawwar insyaallah akan kedatangan Al Allamah Al Musnid Al Habib Salim As Syathiri namun pada hari Selasa majelis di Monas beliau tidak bisa hadir karena ada jadwal lain di hari itu dan beliau memilih untuk hadir di malam Selasa majelis di masjid Al Munawwar insyaallah. Selanjutnya pembacaan qasidah Yaa Arhamarrahimin, kemudian talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas yatafaddhal masykuuraa.

~*~05. Cara Cara Berwudhuk - Ustaz Kazim Elias


Petikkan ~
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=326&Itemid=1

28 April, 2010

Wuduk ~ Wuduk Zahir & Batin

Wuduk (Mengambil air sembahyang)

Untuk menunaikan/dirikan SOLAT/sembahyang, diwajibkan kita berWUDUK (mengambil air sembahyang atau mengangkat hadas kecil) terlebih dahulu. Jika kita tidak berwuduk adalah haram hukumnya, begitu juga jika kita ingin melakukan:-

* 1. SoLat2 sunat.
* 2. Thawaf di Baitullah [Wajib berWuduk].
* 3. Menyembahyangkan mayat/Jenazah[Sunnat berWUDUK].
* 4. Sujud tilawah atau sujud syukur.
* 5. Memegang (menyentuh/membawa) Al-Quran, tetapi dibolehkan, diharuskan menyentuh/membawa/memegang jika kandungan isi Al-Quran itu lebih banyak tafsiran dari isi ayat Al-Quran.

Rukun Wuduk

Rukun berwuduk ada 6 (enam);

1. Berniat untuk wudhu, dan melafazkan

"Nawaitu rafa'al hadathil asghari Lillahi Ta'ala" ertinya "Sahaja Aku mengangkat hadath kecil kerana Allah Ta'ala" atau "Nawaitu Udu'a Lillahi Ta'ala" bermaksud "Sahaja aku mengangkat wuduk fardu kerana Allah Ta'ala". Sebelum berniat berkumur dan bersihkanlah hidung tangan dan kaki serta mulakanlah dengan membaca "Bismillah hirrahman nirrahim" dan niat.

2. Membasuh muka (dgn meratakan)
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, pancarkan NurMu WajahKu, Ya Allah,
Jgn Engkau Gelapkan Mukaku sbgaimana Engkau gelapkan Muka Musuh2Mu Ya Allah"]
3. Membasuh tangan hgga sampai kedua siku (dgn meratakan)
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah,Kurniakan Kitab AmalanKu di tgn KananKu Ya, Allah,
bukan ditgn Kiri atau dibelakang belikatKu, Ya Allah"]
4. Mengusap sebagian kepala
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Naungilah Aku dibawah ArasMu, & LindungiKu
dari dari PanasTeriknya di Padang Masyar nanti Ya Allah"]
5. Membasuh kaki hgga sampai kedua mata kaki[Buku Lali] (dgn meratakan)
[Bc doa dlm hati,"Ya Allah, tetapkan Ku diatas SiratulMustaqimMu berSama2 
dgn Org yg Kau Redhai, Jgn Kau gelincirkanku bilamane Kau gelincirkan Musuh2Mu
darinya, Ya Allah"]
6. Tertib (berurutan)


Sunat-Sunat Wuduk

Perkara-perkara yang disunatkan ketika berwuduk:-

* 1. Menghadap ke arah Qiblat [Niat].

* 2. Membaca "A'uzubillahi minasyaitonirrajim" dan "Bismillah hirrahman nirrahim".
[Bc dlm hati, "Ya Allah Aku berLindung dgnMu dari Syaitan yg direjam,
Ya Allah Dgn Namamu Yg Amat Pemurah Lagi Amat Mengasihani"]

* 3. Membasuh kedua telapak tangan hgga kepergelangan tangan sebelum berwuduk.
[Bc dlm Hati,"Ya Allah, Ampunkan dosaku, Murahkan &KurniakanKu 
dgn Rezki yg HaLaL & bukan rezki yg Haram & Jauhilah daku dari
gangguan Syaitan & Kuncu2nya"]
* 4. Berkumur atau bersugi.
[Bc doa dlm hati,"Ya Allah jadikan LidahKu dan Mulutku senantiasa
Zikir/ingat kpdMu, Ya Allah"]

* 5. Memasukkan sedikit air ke dalam hidung untuk membersihkannya dan mengeluarkannya kembali.
[Bc doa dlm hati,"Ya Allah, KurniakanKu bau2an dari Syurga, bukan bauan busuknya dari
 Neraka, Ya Allah"]
* 6. Menyapu air ke kepala.
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Naungi Aku dibawah ArasMu, & LindungiKu dari dari PanasTeriknya di Padang Masyar nanti Ya Allah"]
* 7. Memusing-musingkan cincin jika ada di jari. 

* 8. Menjelai-jelai janggut atau misai dengan air sehingga rata.

* 9. Meratakan air di telinga, kanan & Kiri
[Bc doa dlm hati,"Ya Allah, kurniakan Aku berita yg baik dari Syurga, bukan berita
buruk dari Neraka-Mu Ya Allah]

* 10. Menyapu Tengkok.
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Jgn Engkau belengguKu tengkokKu dgn belenggu rantai
dari nerakaMu Ya Allah "].
* 11. Menjelai/gosok jari-jari tangan dan kaki.

* 12. Mendahulukan basuhan anggota kanan, dari yang kiri. 
[Bc doa dlm hati]

* 13. Mengulang 3 Kali setiap basuhan. 
[Bc doa dlm hati]

* 14. Jangan meminta bantuan orang lain seperti tolong menuangkan air sewaktu berwuduk.

* 15. Jangan mengelap atau mengeringkan anggota wuduk dengan kain atau sebagainya.

* 16. Elakkan percikkan air jangan sampai jatuh semula ke bekas atau ketimba [air Mustakmal] dan Kawan2 sebelah kita.

* 17. Berjimat ketika menggunakan air.
[Boleh gune spray jk perlu, ibarat titisan embun]

* 18. Jangan berkata2 atau bersembang ketika mengerjakan wuduk.

* 19. Membaca Doa Selepas Wuduk setelah selesai berwuduk.

"Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa waj'alnii minal mutathahhiriin.",
artinya: "Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat, dan masukkanlah ke dalam golongan orang2 yg bersuci."

* 20. Kemudian dilanjutkan dengan sholat sunnat wudhu sebanyak 2 (dua) raka'at.

Bahawa Ia (Usman ra.) minta air lalu berwuduk. Beliau 
*membasuh kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan mengeluarkan air dari hidung. 

*Kemudian membasuh wajahnya tiga kali[3x]
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Limpahilah WajahKu dgn NurMu Ya Allah "].

*Lantas membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, tangan kirinya juga begitu. [3x]

*Setelah itu mengusap kepalanya[sekali],
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Naungi Aku dibawah ArasMu, & LindungiKu dari dari PanasTeriknya di Padang Masyar nanti Ya Allah"]
*kemudian membasuh kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali, begitu juga kaki kirinya. [3x]
[Bc doa dlm hati, "Ya Allah, Tetapkan Aku di atas Siratul MustaqimMu, & bersama2 dgn Org2 yg Engkau Redhai Ya Allah"]
~*~Kemudian berkata: "Aku pernah melihat Rasulullah saw. berwuduk seperti wuduku ini, lalu beliau bersabda:
Sesiapa yg berwudu seperti cara wuduk-Ku ini, lalu SOLAT dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (H.R. Usman bin Affan ra). 

Dari Umar bin Khattab r.a, dari Nabi s.a.w., bahawasanya baginda bersabda yang bermaksud:
"Tidaklah salah orang di antara kamu berwudhu', maka ia sempurnakan wudhu'nya kemudian berkata,
"Aku bersaksi bahawa tidak ada tuhan kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya", kecuali dibukakan baginya delapan pintu Syurga, ia boleh masuk dari mana sahaja yang dikehendakinya."
(Hadis Riwayat Muslim )

 
Sabda Rasullullah SAW: "Sesiapa yg mengambil wudhuk dengan baik, dosa-dosanya keluar dari badannya sehingga keluar dari bawah jari-jarinya."
[Hadis Riwayat Muslim(361)]

Di dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud :
"Jika seorang hamba yang Muslim atau Mukmin berwudhu', ketika ia basuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya semua kesalahan yang dilihat dengan kedua matanya bersama air atau bersama tetes air terakhir. Jika membasuh kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya semua kesalahan yang dilakukan tangannya bersama keluarnya air atau tetes terakhir air. Jika membasuh kedua kakinya, keluarlah semua kesalahan yang diperbuat kakinya bersama air atau tetes terakhir air, sampai ia selesai wudhu' dalam keadaan bersih dari dosa."
(Hadis Riwayat Muslim).

 


Sabda Rasullullah SAW: "Sesiapa yg mengambil wuduk dgn baik kemudian dia berkata, 
Asyhadu al laa ilaaha illAllah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'Abdahu wa rasulluh, Allah hummaj 'alni minat tawwaabin, waj'alni minal mutatohhiriin
(maksudnya:Aku bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah satu(Tuhan) saja tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.Allah jadikanlah aku dari kalangan orang yang byk bertaubat dan jadikanlah aku dari kalangan orang2 yg menyucikan diri),
akan dibuka untuknya kesemua lapan pintu-pintu syurga agar dia memasukinya dari mana dia suka.
~ (Hadis Riwayat Al-Tarmizi(50);Sahih:Sahih Al-Tarmizi(55) dan Al-Nasai(148);Sahih:Sahih Al-Nasai(148))


CARA WUDUK RASULULLAH
~*~*~*~*~*~

Isam Bin Yusuf

Assalamualaikum.
Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk solatnya. Namun, dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?".
Hatim berkata, "Apabila masuk waktu solat, aku berwuduk zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimanakah wuduk zahir dan batin itu?."
Hatim berkata, "Wuduk zahir sebagaimana biasa iaitu membasuh semua anggota wudhuk dengan air. Sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara:-
  1. ] Bertaubat
  2. ] Menyesali dosa yang telah dilakukan
  3. ] Tidak tergila-gilakan dunia
  4. ] Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya')
  5. ] Tinggalkan sifat berbangga
  6. ] Tinggalkan sifat khianat dan menipu
  7. ] Meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata,
  "Kemudian aku pergi ke Masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap ke Qiblat. Aku berdiri dengan penuh keWaspadaan dan aku rasakan aku sedang berhadapan dengan ALLAH, Syurga di sebelah kananku, Neraka di sebelah kiriku, Malaikat Maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Siratal Mustaqim' dan menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik."
Setiap bacaan dan doa dalam solat ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun."

Apabila Isam mendengar menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Sampaikanlah walau pun satu ayat.

Sampaikanlah kisah ini kepada sahabat-sahabat kita yang lain..........
insya-Allah ..

~*~*~*~

Bolehkan Berwudhuk Tanpa Menanggalkan Khuf (kasut/Stokin kulit), al


-Jaurab (Stokin), Muq, Kasut, Dan Seumpamanya (Penutup Kaki)   

   
 Muq, Kasut, Dan Seumpamanya (Penutup Kaki)       
Apr 24th, 2007 by alfiqrah       
       
Berkenaan Khuf (Kasut Yang Diperbuat Daripada Kulit)       
       
1 – Memakai khuf dalam keadaan suci (berwudhuk)       
       
“Aku bermusafir bersama Nabi s.a.w. dalam satu perjalanan.


Lalu aku ingin membuka menanggalkan khuf Baginda. Kemudian


baginda bersabda: Biarkan kedua-duanya. Ini kerana, aku


memakainya dalam keadaan kedua-duanya suci. Lalu baginda


menyapu di atas[bahagian atas khuf itu shj] kedua-dua khufnya.”
(Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, an-Nasai, Abu Daud, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi)     
       
Kata imam an-Nawwi rahimahullah:       
       
“…bahawa tidak boleh menyapu khuf kecuali memakainya selepas
menyempurnakan wudhuk.” (Rujuk syarh sahih Muslim, jil. 3. 170)    
       
2 – Khuf mestilah dalam keadaan suci (dari najis)       
       
Abu Said al-Khudri r.a. berkata: “Ketika Rasulullah s.a.w.


mengimami solat para sahabatnya maka baginda telah


menanggalkan kedua-dua belah seliparnya lalu meletakkan


kedua-duanya di sebelah kirinya. Apabila para sahabat melihat


perbuatan itu, mereka juga menanggalkan selipar mereka.       
       
Setelah selesai solat, baginda bertanya: Mengapa kamu semua


menanggalkan selipar kamu? Jawab mereka: Kami telah melihat


engkau menanggalkannya, lalu kami pun menanggalkan selipar


kami.       
       
Sabda Rasulullah s.a.w: Sesungguhnya Jibril telah datang


kepadaku memberitahu bahawa terdapat kotoran (najis). Oleh


itu, apabila sesorang datang ke masjid, lihatlah selipar


mereka. Jika dia melihat ada kotoran atau najis pada


seliparnya, sapukanlah ke tanah dan solatlah menggunakan


selipar itu.”
(Hadis Riwayat Abu Daud, ahmad, ad-Darimi, Ibn


Khuzaimah, dan al-Hakim. Disahihkan oleh al-Hakim dan


dipersetujui oleh az-Zhahabi dan al-Baohaqi. Juga al-Albani


di dalam al-Irwa, m/s. 284)       
       
3 – Sapuan hanya boleh dibuat jika berhadas kecil. Jika hadas

besar, wajiblah menanggalkannya dan mandi wajib       
       
Sofwan bin ‘Assal r.a. berkata: “Apabila kami bermusafir,


Rasulullah s.a.w. memerintahkan kami agar tidak menanggalkan


khuf selama tiga hari tiga malam dan tidak menanggalkannya


jika buang air besar, air kecil, dan tidur kecuali kerana


junub.” (Riwayat Tirmidzi, Ahmad, an-Nasai’e, Ibn Khuzaimah,


Abdul Razzaq, Ibn abi Syaibah, dan al-Baihaqi. Disahasankan


oleh al-Albani di dalam al-Irwa, m.s. 104)       
       
Kata al-Imam as-Syaukani r.h.: “Hadis ini merupakan dalil


bahawa tidak perlu menanggalkan khuf dalam tempoh yang


ditetapkan disebabkan berhadas kecil selagi mana tidak


berjunub.” (Nail al-Authar, jil. 1, m.s. 231)       
       
4 – Waktu (sela masa) dibolehkan bagi menyapu khuf       
       
Ali bin Abu Talib r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. menetapkan


(tempoh menyapu khuf) tiga hari tiga malam bagi musafir dan


sehari semalam ketika bermukim.” (HR Muslim)       
       
Sheikh Ibn Uthaimin r.h. menjelaskan hal ini sebagai katanya:

“Berdasarkan kaedah ini, ia jelas menunjukkan kepada kita


bahawa pendapat paling rajih (tepat) adalah permulaan tempoh


(hari) sapuan dikira ketika mula menyapu khuf dan bukannya


ketika (mula) berhadas.” (Rujuk Syarh al-Mumti’, jil. 1. m.s.


208)       
       
Imam an-Nawawi juga menjelaskan sebagai katanya: “Hadis ini


merupakan hujah yang terang dan dalil yang jelas bahawa


syarat menyapu khuf telah ditetapkan waktunya, iaitu selama


tiga hari tiga malam bagi musafir dan sehari semalam ketika


bermukim. Inilah pendapat yang dipegang oleh Abu Hanifah, as


-Syafie, Ahmad, dan jumhur ulama terdiri daripada para


sahabat serta generasi selepas mereka.” (Rujuk Syarh Sahih


Muslim, jil. 3, m.s. 176 dan al-Muhalla, jil. 2, m.s. 87-89)   
       
5 – Kaedah sapuan ke atas khuf       
       
Ali bin Abu Talib r.a. berkata: “Kalaulah hukum-hukum agama


ini terbina atas dasar akal, tentulah menyapu di bahagian


bawah khuf itu lebih afdhal berbanding atasnya. Aku telah


melihat Rasulullah s.a.w. menyapu di atas kedua-dua belah


khufnya. (Hadis Riwayat Abu Daud, ad-Darimi, Daruqutni, al-


Baihaqi. Ibnu Hajar mengklasifikasikan sanadnya sebagai


sahih. Dan al-Albani turut mensahihkannya di dalam al-Irwa,


m/s. 103)       
       
Al-Sha’nani r.h. menjelaskan: “Bahawa hadis ini menunjukkan


sapuan hanya di atas khuf dan tidak ada cara selain itu.


Jangan sesekali menyapu di bawah khuf.” (Rujuk Subul al-


Salam, jil. 1, m/s. 22)       
       
Ibn Qayyim juga menjelaskan: “Rasulullah s.a.w. menyapu di


atas kedua-dua belah khufnya. Tidak sahih riwayat mengenai


sapuan di bawah khuf kecuali terdapat hadis yang munqati’


(terputus sanadnya). Sedangkan, hadis yang sahih menyatakan


sebaliknya.” (Rujuk Zaad al-Ma’ad, jil. 1, m/s. 199)       
       
Al-Auza’i r.a. berkata: “Nabi s.a.w. menyapu dengan kedua-dua


belah tapak tangannya di atas kedua-dua belah khufnya sekali


sapuan menarik ke atas hingga ke betis.” (Rujuk al-Ausot,


jil. 1, m/s. 454)       
       
Sapu dengan sekali sapuan sahaja:       
       
Al-Fadhl bin Bisyrin berkata: “Aku telah melihat Jabir bin


Abdullah berwudhuk lalu menyapu di atas kedua-dua belah


khufnya sekali sapuan, iaitu daripada hujung khuf ke atas.

Kemudian, dia telah menunaikan solat lima waktu. Katanya: Aku


telah melihat Rasulullah s.a.w. melakukan begitu. Oleh itu,


aku pun turut melakukan seperti apa yang aku lihat Rasulullah


s.a.w. lakukan.” (Rujuk al-Ausot, jil. 1, m/s. 453)       
       
Nafi’ berkata: “Aku telah melihat Ibn Umar r.a. menyapu atas


kedua-dua belah khufnya, iaitu sekali sapuan menggunakan


kedua-dua belah tangannya. (Rujuk Abdul Razzaq, jil. 1, m/s.


220 dan Ibn al-Mundzir dalam al-Ausot, jil. 1, m/s. 445)   

   
       
Berkenaan Selain Khuf (Kasut, stokin, dan seumpamanya…)       
       
6 - Bolehkah Menyapu Kepada Sarung Kaki (al-Jaurab)

Menggantikan Khuf?       
       
Al-Mughirah bin Syu’bah r.a. berkata: “Sesungguhnya


Rasulullah s.a.w. telah berwudhuk lalu menyapu bahagian atas


kedua-dua belah khuf dan seliparnya.” (Hadis Riwayat Abu Daud

dan Tirmidzi - sebagai hasan sahih. Juga disahihkan oleh al-

Albani di dalam al-Irwa dan Tamam al-Minnah)       
       
Al-Syaukani r.h. berkata: “Hadis telah menunjukkan bahawa


boleh menyapu di bahagian atas al-Jaurab.” (Rujuk Nail al-


Authar, jil. 1, m/s. 228)       
       
Abu Musa al-‘Asy’ari r.a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah


s.a.w. telah berwudhuk lalu menyapu bahagian atas kedua-dua


belah al-Jaurab dan seliparnya.” (Hadis Riwayat Ibn Majah –


Disahihkan oleh al-Albani di dalam Sunan Ibn Majah)       
       
‘Amru bin Huraith RA berkata: “aku telah melihat ali bin


abu Talib kencing. Kemudian, beliau berwudhuk sambil menyapu


di bahagian atas kedua-dua belah al-Jaurab.”
(Hadis riwayat Ibn abi syaibah, jil. 1, m/s. 189 dan Ibn al-Mundzir dalam al-Ausot, jil. 1, m/s. 462)       
       
Hammam bin al-Harith RA berkata:
“Abu Mas’ud telah menyapu di bahagian atas kedua-dua belah al-Jaurab.”
(Hadis Riwayat Abdul Razzaq, jil. 1, m/s. 200, Ibn Abi syaibah, jil. 1, m/s. 188 dan Ibn al-Mundzir dalam al-Ausot, jil. 1, m/s. 462)   

   
       
Menurut Qatadah r.a., bahawa Anas bin Malik r.a. telah
berkata:
“Rasulullah s.a.w. telah menyapu di bahagian atas
kedua-dua belah al-Jaurab.”
(Hadis riwayat Abdul Razzaq, jil. 1, m/s. 200, Ibn Abi Syaibah, jil. 1, m/s. 190 dan Ibn al-Mundzir dalam al-Ausot, jil. 1, m/s. 462-463)       
       
Yahya al-Buka’ r.a. pernah mendengar Ibn Umar r.a. berkata:

“Menyapu di bahagian atas al-Jaurab sama seperti menyapu di
bahagian atas kedua-dua belah khuf.”
(Hadis riwayat Abdul Razzaq, jil. 1, m/s. 200, Ibn abi Syaibah, jil. 1, m/s. 189, Ibn al-Mundzir dalam al-Ausot, jil. 1, m/s. 463 dan al-Baihaqi, jil. 1, m/s. 285)       
       
Ibn Taimiyyah r.h. menjelaskan:
“Boleh menyapu di bahagian atas al-Jaurab apabila ia digunakan semasa berjalan sama ada diperbuat daripada kulit atau tidak mengikut pendapat ulama adalah yang paling sahih (tepat).”
(Rujuk Majmu’ al-Fatawa, jil. 21, m/s. 214-215)       
       
Ibn Qayyim r.h. berkata: “Mengenai keharusan menyapu di


bahagian atas al-Jaurab adalah pendapat kebanyakan para


ilmuan. Antara mereka yang kami maksudkan adalah terdiri


daripada para sahabat, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih,


Abdullah bin al-Mubarak, Sufyan al-Tsauri, ‘Atho’ bin abi


Rabah, al-Hasan al-Basri, Said bin al-Musayyab, dan Abu


Yusuf. Kami tidak mengetahui bahawa terdapat sebahagian


sahabat mengingkari perbuatan nama-nama yang kami sebutkan.”

(Rujuk Tahzib al-Sunan, jil. 1, m/s. 188-189, dan al-syarh al-Mumti’, jil. 1. m/s. 193)       
       
Sheikh ‘Uthaimin r.h. menjelaskan:
“Apa sahaja yang dipakai pada kaki sama ada dinamakan khuf, jaurab (stokin), muq, dan seumpamanya, hukum menyapu di bahagian atasnya adalah boleh.


Ini kerana, ‘illah (sebab dan tujuan) semua itu adalah sama.”

(Rujuk al-Syarh al-Mumti’, jil. 1, m/s. 193)       
       
7 – Bolehkah Menyapu Di Atas Khuf dan al-Jaurab Yang koyak?     
Sufyan at-Tsauri r.a. berkata:       
       
“Sapulah di bahagian atas apa sahaja yang dipakai di kaki.
Bukankah engkau dapati khuf golongan muhajirin dan ansar
berkenaan koyak, uzur, dan lusuh.”
(Hadis riwayat abdul Razzaq dan al-Baihaqi)       
       
Sheikh Ibn ‘Uthaimin r.h. berkata:
“Pendapat paling rajih (tepat) ialah boleh menyapu bahagian atas al-Jaurab yang koyak atau nipis sehingga menampakkan kulitnya.”
(Rujuk Majmu’ Fatawa Ibn ‘Uthaimin, jil. 11, m/s. 167 dan Risalah al-Mashu ‘Ala al-Jaurabain, m/s. 84-86)       
       
8 – Adakah Terbatal Wudhuk Sekiranya Berhadas, Dan

Kemudiannya Berwudhuk Semula Berserta Khufnya (dengan memakai

khuf) Lalu Membuka Khuf (Selepas Wudhuk)       
       
Ibn Taimiyyah menjelaskan bahawa:
“Tidak terbatal wudhuk orang yang menyapu khuf dan serban disebabkan dia menanggalkannya (membuka kasut setelah berwudhuk dengannya;
juga bagi serban yang menggantikan sapuan ke atas kepada).
Begitu juga tidak terbatal tempohnya disebabkan perbuatan
itu. Dia juga tidak wajib menyapu kepala atau membasuh kedua
-dua kakinya (selagi masih berada di dalam tempoh sapuan).”

(Rujuk al-Ikhtiyarat, m/s. 15, Risalah al-Mas-hu ‘Ala al-Jaurabain, m/s. 86-88 dan majmu’ Fatawa Ibn ‘Uthaimin, jil. 11, m/s. 179)       
       
9 – Terbatalkah Wudhuk Serta-Merta Disebabkan Tempoh Sapuan

Telah Tamat?       
       
Sheikh Ibn ‘Uthaimin r.h. berkata:
“Wudhuk tidak terbatal disebabkan tempoh sapuan telah tamat. Ini kerana, apa yang ditetapkan oleh Nabi s.a.w. hanyalah tempoh (yang membolehkan) sapuan yang berakhir bukannya tempoh wudhuk berakhir. Baginda langsung tidak menetapkan tempoh suci berakhir (terbatal wudhuk) sehingga kita sanggup mengatakan bahawa apabila tempoh sapuan telah tamat maka wudhuk pun terbatal.
Bahkan, apa yang ditetapkan ialah mengenai sapuan.

Sepatutnya kita katakan: Apabila tempoh telah tamat, tidak

boleh menyapu khuf.       
       
Tetapi, jika kamu menyapu khuf dalam tempoh belum berakhir,

engkau berada dalam keadaan suci (berwudhuk). Kamu berada

dalam keadaan wudhuk yang sempurna berdasarkan dalil syarak.

Setiap perkara yang dilakukan dengan sempurna berdasarkan

dalil syarak, sudah tentu tidak membatalkan wudhuk kecuali

ada dalil syarak yang lain membuktikan ia terbatal.

Sedangkan, tidak ada dalil mengenai perkara itu.”
(juk Majmu’ Fatawa Ibn ‘Uthaimin dan Rasa-il al-Sheikh al-‘Uthaimin, jil. 11, m/s. 179 dan Risalah al-Mas-hu ‘Ala al-Jaurabain, m/s. 92-93)       
       
Kesimpulan:       
       
Al-Albani berkata: “Setelah mengetahui perkara itu, seseorang
tidak boleh lagi berbelah bahagi untuk menerima rukhsah
(keringanan) ini selepas tsabit hadis mengenainya. Lebih-
lebih lagi setelah para sahabat melakukannya.”
(Rujuk Risalah al-Mas-hu ‘Ala al-Jaurabain, m/s. 54)       
       
i - Apabila seseorang itu berwudhu’ dengan sempurna lalu

kemudian terus memakai kasut dalam keadaan wudhuk (memakai

kasut dalam keadaan berwudhuk – suci dari hadas) maka apabila

dia hendak mengulangi wudhuknya di kemudian masa dia tidak

perlu membasuh kaki dengan air (tidak perlu buka penutup

kakinya) tetapi mencukupi dengan menyapu di bahagian atas

kasut tersebut.       
       
ii - Syarat kasut yang dipakai adalah sesuatu yang menutupi

dari jari-jari kaki sehingga ke buku lali (angkle). Jikalau

kasut tersebut tidak mencapai hingga ke buku lali maka

memadai dengan memakai sarung kaki yang menutupi buku lalinya

itu.       
       
iii - Kebolehan menyapu di atas kasut terhad kepada satu hari

penuh bagi orang yang berada di kampung halaman atau tiga

hari penuh bagi orang yang berada dalam perjalanan.       
       
Antara Faedah Dan Hikmah Keringanan Daripada Hal Ini:       
       
i – Merupakan contoh keringanan (rukhsah) yang ditunjukkan

oleh sunnah Rasulullah s.a.w. yang wajar diikuti.       
       
ii – Memberi keringanan dan kemudahan ketika dalam perjalanan

di tempat-tempat yang menyukarkan kita untuk membuka kasut,

seperti di dalam hutan, padang pasir yang panas, dan tempat

bersalji yang sejuk.       
   
Wallah Hu A'lam...

~*~Wuduk Wanita


~*~05. Cara Cara Berwudhuk - Ustaz Kazim Elias




. .
~***~Taman KoperasiBENA~***~
~*~ Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... ~*~