QURAN dan TerJemahan ~ PerHatikan Pesanan Allah dlm KiTabNya ini

AL QURAN

Listen to Quran
~*~*~*Al-Quran OnLine
Showing posts with label Abu Hanifah. Show all posts
Showing posts with label Abu Hanifah. Show all posts

27 October, 2011

Air Zam-zam dari Syurga...

Air Zam-zam dari syurga dan fadhilatnya.

by Mohamed Ibrahim Maricar on Monday, October 24, 2011 at 8:55am
Dr. MASARU EMOTO, did an experiment on Zamzam water. The ZamZam water crystal formation is a beautiful double crystal (one over another one) with six points when the water was dilluted by 1000.

Fadilah air Zam-zam
Manfaat air Zam-zam sangat banyak bahkan relatif sesuai dengan keinginan dan niat orang yang meminumnya. Ini sesuai dengan hadits dan pendapat para sahabat Nabi serta para ulama', bahkan Sheikh Sirajuddin Al Balqini berpendapat” sesungguhnya Air Zam-zam lebih utama dari pada air telaga kautsar, kerana hati Nabi dicuci dengan air zam-zam.



Ibnu Abbas mengatakan bahwa air Zam-zam adalah mata air syurga. Ketika Nabi bermi’raj, disana beliau melihat empat sungai yang mengalir yaitu Furat, Nil serta dua mata air yang tak terlihat. Dari satunya adalah sungai yang mengalir ke bumi yaitu air Zam-zam .
Rasulullah Saw bersabda bahwa air yang terbaik di atas dunia ini adalah air Zamzam :
“Sebaik-baik air di atas dunia ini adalah air Zamzam”. HR. Thabrani.
 Melihat air Zam-zam termasuk ibadah, dalam sebuah hadisnya yang di riwayatkan Jabir RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda;
 "Lima perkara merupakan ibadah, melihat Mushaf (Al Qur’an), melihat ka’bah, melihat kedua orang tua, melihat air zam-zam termasuk menghapus kesalahan-kesalahan (dosa), dan memandang wajah orang alim (ulama’)".
Yang di maksud melihat dalam hadis diatas yaitu melihat dengan perasaan penuh dengan kemulyaan dan keagungan atas kebesaran Allah. Sedangkan terhadap orang tua dan ulama, cara memandanganya penuh dengan rahmat serta berniat mendekatkan diri kepada-Nya.
Imam Al Haroli didalam kitab Faidul Qodir mengatkan: Ulama’ yang dimaksud adalah ulama’ syar'i.

Didalam hliyatul auliya’ juga dijelaskan bahwa melihat ka’bah termasuk penghapus dosa .

Selain itu, air Zam-zam adalah sumber penghidupan orang Makkah dan sekitarnya. Seandainya sumur Zam-zam tidak ada mungkin kehidupan di Makkah akan kering dan manusia enggan tinggal di dalamnya, tidak bisa seperti yang kita lihat saat ini.
Ada beberapa teks yang menjadi dasar bahwa air Zam-zam merupakan salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT di samping banyak lagi tanda-tanda kebesaran-Nya di muka bumi ini.
Ulama tafsir menyebutkan, yang dimaksud Ayatun Bayyinatun dalam [Surat Ali Imran: 97] adalah Zam-zam, Maqam Ibrahim, Hajar Aswad serta tempat-tempat istimewa yang berada di sekitar Baitullah.

Setiap musim haji, semua tamu-tamu Allah berlomba-lomba memanfaatkan air Zam-zam dengan berbagai macam niat. Sebagian menggunakan untuk obat dari berbagai penyakit yang mereka derita. Sebagian lagi berniat membersihkan hati, seperti halnya Jibril membersihkan hati Rasulullah dengan air Zam-zam.

Sebagian orang tidak tahu manfaat dan fadhilah air Zam-zam, sehingga banyak yang menganggap Zam-zam seperti air biasa bahkan banyak dari jama’ah haji yang tidak mengerti manfaat dan fadhilah air Zam-zam sehingga kadangkala tidak santun terhadap penggunaannya.

Ikatan Zam-zam dengan Nabi
Air Zam-zam mempunyai ikatan kuat dengan Rasulullah. Beliau pernah dicuci hatinya dengan Zam-zam ketika masih kecil oleh Malaikat Jibril AS. Anas bin Malik pernah mengatakan,
 “Sungguh aku telah melihat bekas pembedahan di dada Nabi ”.
Imam al-Bukhari juga menjelaskan bagaimana pembedahan dada Nabi ketika hendak Isra’ Mia’raj bersama malaikat Jibril AS. Hati Nabi pernah dicuci dengan Zam-zam kurang lebih empat kali,
pertama ketika beliau masih dibawah asuhan Halimatus Sa’diyah, umurnya sekitar empat tahun, yang
kedua ketika beliau berumur duapuluh tahun, yang  
ketiga ketika datangnya Jibril membawa wahyu, dan yang  
ke-empat ketika hendak Isra’ mi’roj .
Imam Ibnu Hajar Al asqolani dalam fathul bari juga menjelaskan tengtang proses pembedahan dada Nabi. Oleh karena itu beliau tidak mempunyai sedikit pun penyakit hati, karena semua sudah dikeluarkan oleh malaikat Jibril atas izin Allah SWT.

Rasulullah juga pernah mengambil air Zam-zam dengan timba dan mencampur ludahnya dengan Zam-zam lalu mengembalikan timba itu ke dalam sumur . Imam Ahmad juga menceritakan bagaimana Rasulullah pernah mengembalikan air yang telah dibuat kumur kedalam sumur. Oleh karena itu air Zam-zam disebut juga dengan air barokah, air syurga, air ubat, dan banyak lagi nama lainya.
Abu Musa al-Asy’ari dan muadzin Nabi, Bilal bin Rabah, pernah disuruh meminum air Zam-zam yang sudah dipakai membasuh tangan dan muka Nabi yang mulia. Kemudian Nabi berkata, "Minumlah air ini, dan ratakanlah ke wajah kalian berdua”. Kemuliaan air Zam-zam lainya yaitu bahwa air itu telah tercampur dengan ludah Rasulullah, ini merupakan kemulyaan dan mu’zizat dari-Nya.

Penyembuhan Penyakit dengan Zam-zam
Air Zam-zam tidak hanya diminum tatkala haus, namun mempunyai kistimewaan yang tidak mungkin dimiliki air lainya. Secara medis Zam-zam sudah teruji di laboratorium bahwa Zam-zam mempunyai kandungan mineral yang luar biasa. Waktu telah mengujinya. Keberadaan Zam-zam sudah sekitar lima ribu tahun lamanya, namun ia tidak berubah. Sekian banyak tamu-tamu Allah meminum dan membawanya pulang, bahkan dikirim ke berbagai negara sejak zaman Nabi sampai saat ini, ternyata air Zam-zam tak pernah kering.
Berbagai jenis penyakit mulai dari penyakit berat sampai penyakit ringan bahkan penyakit hati, dengan izin Allah bisa sembuh dengan barakah air Zam-zam.

Hal ini banyak dilakukan oleh tamu-tamu Allah yang datang dari seluruh penjuru dunia. Mereka mengonsumsi Zam-zam dengan niat penyembuhan penyakit yang mereka derita. Dan ternyata usaha penyembuhan lewat air Zam-zam ini berhasil. Banyak dari kawan, santri, mahasiswa, yang sembuh dari berbagai penyakit yang mereka derita seperti kanker, diabetes, asam urat, pilek, dan lain-lain setelah mengkosumsi Zam-zam secara kontinyu serta didasari niat yang benar.

Banyak dari para sahabat dan tabi’in serta ulama-ulama menjelaskan bagaimana adab (sopan-santun) terhadap Zam-zam serta cara meminumnya sesuai petunjuk Nabi. Di bawah ini kisah para ulama yang minum Zam-zam dengan niat agar sembuh dari penyakitnya.
1. Imam Ahmad bin Hanbal
Putra beliau yang bernama Abdullah pernah mengatakan, ”Saya telah melihat beliau minum air Zam-zam dengan niat penyembuhan dari penyakit, lalu mengusapkan pada kedua tangan dan muka beliau.
2. Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i
Kedua imam mujtahid ini meminum Zam-zam dengan niat menambah keilmuan, sehingga dengan izin Allah keduanya termasuk menjadi ulama yang benar-benar mumpuni dalam bidang fiqh dan hadits. Banyak lagi dari dari ulama yang menjadikan Zam-zam sebagai obat penyembuh penyakit lahir batin.

Menurut riwayat yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-'Asqalani, “Sesungguhnya Zam-zam itu tergantung bagi yang meminumnya”.
Apa yang dilakukan para ulama tersebut cukup sebagai contoh bagi kita bahwa air Zam-zam sudah teruji kebenaranya untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit baik zhahir maupun batin dengan izin Allah SWT.



. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

14 October, 2011

Abu Hanifah Menjawab...

Imam Mujtahid Abu Hanifah Menjawab - Apabila Ulama Dicabar

by Mohamed Ibrahim Maricar on Wednesday, August 11, 2010 at 1:52pm
Apabila Ulama Dicabar http://bit.ly/ImamHanafi

Pada suatu ketika, kota Baghdad didatangi oleh seorang pendakyah(atheist) Yahudi bernama Dahri. Kedatangannya mencetuskan kegemparan dikalangan umat Islam. Dahri cuba merosakkan pegangan umat Islam dengan membahaskan soal-soal yang berhubung kait denngan ketuhanan. Dicabarnya para ulama Baghdad untuk berdebat dengannya. Setiap kali cabarannya disahut, hujah-hujah Dahri tidak pernah dapat dipatahkan sehingga akhirnya tidak ada lagi ulama Baghdad dan ulama-ulama disekitarnya yang sanggup berhadapan dengannya. Dari kejadiannya ini, tahulah Khalifah bahawa Baghdad sudah ketiadaan ulama yang benar-benar berwibawa dan tinggi ketaqwaannya. Lalu Khalifah memerintahkan beberapa orang menteri meninjau ke daerah lain, kalau-kalau masih ada ulama yang boleh dibawa berdepan dengan Dahri. Akhirnnya wakil Khalifah menemui Imam Hammad bin Abi Sulaimann Al-Asy'ari, seorang ulama yang tidak kurang juga ketokohannya.
Khalifah memerintahkan supaya hari perdebatan antara Imam Hammad dan Dahri di segerakan. Dan majlis bersejarah itu mesti dibuat di Masjid Jamek di tengah-tengah kota Baghdad. Sehari sebelum pertemuan itu lagi,Masjid Jamek telah penuh sesak dengan orang ramai.
Masing-masng menaruh harapan agar Imam Hammad berjaya menumbangkan Dahri kerana beliaulah satu-satunya ulama yang diharapkan.
"Subhanallah.... Subhanallah .... Walahaulawala quwwata illa billahil aliyyil A'zim....!" Lidah Imam Hammad terus melafazkan kalimat mensucikan segala tohmahan yang tidak layak bagi Zat yang Maha Agung. Dia beristighfar terus.
Rasanya dah tidak sanggup telinganya menadah bermacam tohmahan yang dilemparkan oleh Dahri yang biadab dan materialis itu. Mempertikaikan KeEsaan Allah SWT bukanlah perkara kecil dalam Islam. Ini kes berat! Hatinya cukup pedih. Roh ketauhidannya bergelora.Mahu rasanya di pengal leher si Dahri yang angkuh itu di depan ribuan mata yang turut hadir dalam majlis itu.
Keesokannya, pagi-pagi lagi muncul Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang paling rapat dan yang paling disayanginya. Namanya yang sebenar ialah Nu' man, yang ketika itu usiannya masih lagi remaja. Bila ternampak keadaan gurunya itu,
Abu Hanifah pun bertanya untuk mendapat kepastian. Lalu Imam Hammad menceritakan berkenaan mimpi dia
"...Aku bermimpi ada sebuah dusun yang amat luas lagi indah. Di sana ku lihat ada sepohon kayu yang rendanng dan lebat buahnya. Tiba-tiba, di situ keluar seekor khinzir dari hujung sebuah kampung. Lalu habis dimakannya buah-buahan yang masak ranum dari pokok itu. Hingga ke daun dan dahan-dahannya habis ditutuh. Yang tinggal cuma batangnya sahaja. Dalam pada itu juga keluar seekor harimau daripada umbi pohon rendang tadi lalu menerkam khinzir itu dengan gigi dan kukunya yang tajam. Lalu,khinzir tadi mati disitu juga."
Hammad termenung seketika. Kekalutan pemikiran yang telah dicetuskan Dahri, yang boleh menggugat pegangan aqidah umat ini, tidak boleh di biarkan. Mesti dihapuskan segera. Wajahnya yang tenang bagai air sungai yang mengalir jernih, masih nampak bercahaya walau di saat sebegitu genting. Satu kelebihan Abu Hanifah ialah beliau juga dikurniakan Allah ilmu menta'bir mimpi, sebagaimana nabi Allah Yusuf. Pada pengamatannya juga, mimpi tersebut akan memberi petanda baik bahawa si Dahri pasti akan menerima padahnya nanti. Dan setelah mendapat keizinan gurunya, dia pun cuba mentafsirnya:
" Apa yang tuan lihat dalam mimpi tuan sebagai dusun yang luas lagi indah itu adalah tamsilan kepada agama Islam kita. Pokok yang berbuah lebat itu adalah tamsilan kepada sekalian ulamannya. Manakala sepohon kayu yang masih tinggal itu adalah tuan sendiri. Dan khinzir yang tiba-tiba muncul dan merosakkan pohon tersebut ialah si Dahri. Manakala harimau yang keluar lalu membunuh khinzir tadi... adalah saya..." jelas Abu Hanifah.
Beliau juga memohon izin untuk membantu gurunya berdepan dengan si Dahri. Betapa gembiranya hati Iman Hammad bila tercetusnya hasrat itu dari hati muridnya sendiri. Maka berangkatlah ilmuan budak itu bersama gurunya untuk pergi ke Masjid Jamek di mana majlis dialog akan diadakan yang dihadirioleh orang ramai dan Khalifah. Seperti biasanya, sebelum menyampaikan dakyahnya, Dahri akan mencabar dan memperleceh-lecehkan ulama dengan bersuara lantang dari atas pentas.
" Hai Dahri, apalah yang digusarkan. Orang yang mengetahuinya pasti menjawabnya!" Tiba-tiba suara Abu Hanifah memeranjatkan Dahri dan menyentakkan kaum Muslimin yang hadir. Dahri sendiri terkejut. Matanya memandang tajam mata Abu Hanifah.
" Siapa kamu hai anak muda? Berani sungguh menyahut cabaranku...Sedangkan ulama yang hebat-hebat, yang berserban dan berjubah labuh telah ku kalahkan...!" Lantang suara Dahri membidas Abu Hanifah.
" Wahai Dahri," balas Abu Hanifah," sesungguhnya Allah tidak mengurniakan kemuliaaan dan kebesaran itu pada serban atau jubah yang labuh. Tetapi Allah mengurniakan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dan bertaqwa." Abu Hanifah lalu membacakan sebuah firman Allah SWT yang bermaksud:

" Allah telah meninggikan darjat orang beriman dan berilmu antara kamu beberapa darjat."
(Al-Mujadalah : 11)

Geram rasanya hati Dahri mendengarnya kepetahan lidah pemuda ini berhujah. Maka berlangsunglah majlis dialog, perdebatan antara Abu Hanifah dengan tokoh Ad-dahriayyah, yang terkenal dengan pemikiran materialis dan ateisnyaitu, berlangsung dengan mendebarkan.

"Benarkah Allah itu wujud?,"soal Dahri memulakan majlis dialognya.
"Bahkan Allah memang wujud,"tegas Abu Hanifah.
"Kalau Allah maujud (wujud), di manakah tempatnya..??" Suara Dahri semakin meninggi.
"Allah tetap wujud tetapi dia tidak bertempat!" jelas Abu Hanifah.
"Hairan, kau kata Allah itu wujud,tetapi tidak bertempat pula...?" bantah Dahri sambil melemparkan senyuman sinisnya kepada hadirin.
"Ah, itu senang sahaja wahai Dahri. Cuba kau lihat pada dirimu sendiri. Bukankah pada dirimu itu ada nyawa..."
 Abu Hanifah mula berhujah. Orang ramai mula memerhatikan gaya ilmuan muda ini berpidato dengan penuh minat.
"Bahkan, memang aku ada nyawa, dan memang setiap makhluk yang bernafas itu ada nyawa...!" sahutDahri.
"Tetapi adakah kau tahu di manakah letaknya nyawa atau rohmu itu...?
Di kepalakah, di perutkah atau adakah di hujung tapak kaki mu..?"

Terserentak Dahri seketika. Orang ramai mula berbisik-bisik sesama sendiri.
Setelah itu Abu Hanifah mengambil pula segelas susu lalu ditunjukkan pada Dahri,seraya berkata:
"Adakah dalam air susu ini ada terkandung lemak...?"
Pantas Dahri menjawab, "Ya,bahkan!"
Abu Hanifah bertanya lagi, "Kalau begitu di manakah lemak itu berada...? Di bahagian atasnyakah atau di bawahkah...?"
Sekali lagi Dahri terserentak, tidak mampu menjawab pertanyaan Abu Hanifah yang petah itu.

"Untuk mencari di manakah beradanya roh dalam jasad dan tersisip di manakah kandungan lemak dalam air susu ini pun kita tidak upaya, masakan pula kita dapat menjangkau di manakah beradanya Zat Allah SWT di alam maya ini?
Zat yang telah mencipta dan mentadbir seluruh alam ini termasuk roh dan akal dangkal kita ini, pun ciptaan-Nya, yang tunduk dan patuh di bawah urusan tadbir kerajaan-Nya Yang Maha Agung...!"

Suasana menjadi agak bingar. Dahri terpaku di kerusi. Terbungkam lidahnya. Merah mukanya. Kesabarannya mula terburai.
Bila keadaan agak reda, Dahri membentangkan soalan.
"Hai anak muda! Apakah yang wujud sebelum Allah. Dan apa pula yang muncul selepas Dia nanti..."
Semua mata tertumpu pada Abu Hanifah, murid Imam Hammad yang pintar ini.
"Wahai Dahri! Tidak ada suatu pun yang wujud sebelum Allah Taala dan tidak ada sesuatu jua yang akan muncul selepas-Nya. Allah SWT tetap Qadim dan Azali. Dialah yanng Awal dan Dialah yang Akhir",
tegas Abu Hanifah, ringkas tapi padat.
"Pelik sungguh! Mana mungkin begitu....Tuhan Wujud tanpa ada permulaan Nya?
Dan mana mungkin Dia pula yang terakhir tanpa ada lagi yang selepas Nya....?"Dahri cuba berdalih dengan minda logiknya.
Dengan tersenyum Abu Hanifah menjelaskan,
"Ya! Dalilnya ada pada diri kamu sendiri. Cuba kau lihat pada ibujari mu itu. Jari apakah yang kau nampak berada sebelum jari ini..?"Sambil menuding ibu jarinya ke langit. Dan beberapa hadirin turut berbuat demikian. "Dan pada jari manis kau itu, ada lagikah jari yang selepasnya..."
Dahri membelek-belek jarinya. Tidak terfikir dia persoalan yang sekecil itu yang diambil oleh Abu Hanifah.
"Jadi...! Kalaulah pada jari kita yang kecil ini pun, tidak mampu kita fikir, apatah lagi Allah SWT Zat Yang Maha Agung itu, yang tiada suatu pun yang mendahului-Nya dan tiada sesuatu yang kemudian selepas-Nya."
Sekali lagi Dahri tercenggang. Bungkam. Namun masih tidak berputus asa untuk mematahkan hujah anak muda yang telah memalukannya dikhalayak ramai. Khalifah memerhatikan sahaja gelagat Dahri dengan penuh tanda tanya. Dahri berfikir seketika, mencari jalan, mencari idea. Semacam suatu ilham baru telah menyuntik mindanya, ia pun tersenyum. Hati Dahri bergelodak bagai air tengah menggelegak.
"Ini soalan yang terakhir buat mu, hai..budak mentah!" Sengaja Dahri mengeraskan suaranya agar rasa malunya itu terperosok.
"Allah itu ada, kata mu. Ha! apakah pekerjaan Tuhan mu ketika ini ?"

Soalan tersebut membuat Abu Hanifah tersenyum riang.
"Ini soalan yang sungguh menarik. Jadi kenalah dijawab dari tempat yang tinggi supaya dapat di dengar oleh semua orang," Katanya. Pemuda ideologi Ad- Dahriyyun yang sedari tadi mentalitinya dicabar terus, berjalan turun meninggalkan mimbar masjid Jamek, memberi tempat untuk Abu Hanifah:
"Wahai sekelian manusia. Ketahuilah bahawa kerja Allah ketika ini ialah menggugurkan yang bathil sebagaimana Dahri yang berada di atas mimbar, diturunkan Allah ke bawah mimbar. Dan Allah juga telah menaikkan yang hak sebagaimana aku, yang berada di sana, telah dinaikkan ke atas mimbar Masjid Jamek ini... !"

Bagai halilintar, hujah Abu Hanifah menerjah ke dua-dua pipi Dahri. Seiring dengan itu bergemalah pekikan takbir dari orang ramai. Mereka memuji-muji kewibawaan Abu Hanifah yang telah berjaya menyelamatkan maruah Islam dari lidah Dahri yang sesat lagi menyesatkan itu. Sehingga ke hari ini, nama Imam Abu Hanifah terus dikenali keserata dunia sebagai seorang Fuqaha dan salah seorang daripada Imam Mujtahid Mutlak yang empat. Kemunculan Mazhab Hanafi dalam fiqh Syar'iyyah, juga mengambil sempena nama ulama ini.




Bacalah berkali-kali, teliti dan fikirkan hujjah antara Imam Hanafi dan Dahri ini, ia amat penting untuk menguatkan tauhid kita, ada ilmu yang tersirat yang harus kita fahamkan.

Wallahu A'lam!


. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~
~*~ Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... ~*~