QURAN dan TerJemahan ~ PerHatikan Pesanan Allah dlm KiTabNya ini

AL QURAN

Listen to Quran
~*~*~*Al-Quran OnLine
Showing posts with label Wali. Show all posts
Showing posts with label Wali. Show all posts

20 December, 2011

Sheikh Siti Jenar ~ Membongkar Tabir Mitos Syekh Siti Jenar

Sheikh Siti Jenar


Syekh Siti Jenar


Makam Syekh Siti Jenar di Demak.
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain SitibritLemahbang, danLemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebaragama Islam di Pulau Jawa.[1] Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaranWalisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

[Sumber...]



Beliau (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain SitibritLemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufiagama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. dan juga salah satu penyebar
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.
Konsep Dan Ajaran Syekh Siti Jenar
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hululyang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll);
 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. 
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’ kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda–beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing–masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:
 “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. 
Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.
Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.
Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS.Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.
Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga,Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki BisonoKi DonoboyoKi Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
Kisah Pada Saat Pasca Kematian
Kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar. Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.
sumber : wikipedia

~*~
Merajut sebuah ilmu dan menjadikannya sehelai kain yang didalamnya penuh akan keindahan corak dan warna, inilah yang diidamkan seluruh ahli sufi. Rajutan demi rajutan tentang segala pemahaman ilmu, penghayatan dan keluasan tentang segala kebesaran Alloh, perjalanan dan pengorbanan yang selalu dilakoninnya sedari kecil, membuat segala macam ilmu yang ada padanya, menjadikannya derajat seorang waliyulloh kamil.

Dalam pandangan para waliyulloh, dimana badan telah tersirat asma’ Alloh dan segala tetesan darahnya telah mengalir kalimat tauhid, dimana setiap detak jantung selalu menyerukan keagunganNya dan setiap pandangan matanya mengandung makna tafakkur, tiada lain orang itu adalah seorang waliyulloh agung yang mana jasad dan ruhaniyahnya telah menyatu dengan dzat Alloh. Inilah sanjungan yang dilontarkan oleh seluruh bangsa wali kala itu pada sosok, kanjeng Syeikh Siti Jenar.Rohmat yang tersiram didalam tubuhnya, ilmu yang tersirat disetiap desiran nafasnya, pengetahuan tentang segala makna ketauhidan yang bersemayam didalam akal dan hatinya, membuat kanjeng Syeikh Siti Jenar menjadi seorang guru para wali.

Lewat kezuhudan yang beliau miliki serta keluasan ilmu yang dia terapkan, membuat segala pengetahuannya selalu dijadikan contoh. Beliau benar benar seorang guru agung dalam mengembangkan sebuah dhaukiyah kewaliyan/tentang segala pemahaman ilmu kewaliyan. Tak heran bila kala itu banyak bermunculan para waliyulloh lewat ajaran ilafi yang dimilikinya.

Diantara beberapa nama santri beliau yang hingga akhir hayatnya telah sampai kepuncak derajat waliyulloh kamil, salah satunya, sunan Kali Jaga, raden Fatah, kibuyut Trusmi, kigede Plumbon, kigede Arjawinangun, pangeran Arya Kemuning, kiageng Demak Purwa Sari, ratu Ilir Pangabean, gusti agung Arya diningrat Caruban, Pangeran Paksi Antas Angin, sunan Muria, tubagus sulthan Hasanuddin, kiAgeng Bimantoro Jati, kiSubang Arya palantungan dan kigede Tegal gubug.

Seiring perjalanannya sebagai guru para wali, syeikh Siti Jenar mulai menyudahi segala aktifitas mengajarnya tatkala, Syarief Hidayatulloh/ sunan Gunung Jati, telah tiba dikota Cirebon. Bahkan dalam hal ini bukan hanya beliau yang menyudahi aktifitas mengajar pada saat itu, dedengkot wali Jawa, sunan Ampel dan sunan Giri juga mengakhirinya pula.

Mereka semua ta’dzim watahriman/ menghormati derajat yang lebih diagungkan, atas datangnya seorang Quthbul muthlak/ raja wali sedunia pada zaman tersebut, yaitu dengan adanya Syarief Hidayatulloh, yang sudah menetap dibumi tanah Jawa.

Sejak saat itu pula semua wali sejawa dwipa, mulai berbondong ngalaf ilmu datang kekota Cirebon, mereka jauh jauh sudah sangat mendambakan kedatangan, Syarief Hidayatulloh, yang ditunjuk langsung oleh, rosululloh SAW, menjadi sulthan semua mahluk ( Quthbul muthlak )

Nah, sebelum di kupas tuntas tentang jati diri, syeikh Siti Jenar, tentunya kita agak merasa bingung tentang jati diri, Syarief Hidayatulloh, yang barusan dibedarkan tadi. "Mengapa Syarief Hidayatulloh kala itu sangat disanjung oleh seluruh bangsa wali ?". 

Dalam tarap kewaliyan, semua para waliyulloh, tanpa terkecuali mereka semua sudah sangat memahami akan segala tingkatan yang ada pada dirinya. Dan dalam tingkatan ini tidak satupun dari mereka yang tidak tahu, akan segala derajat yang dimiliki oleh wali lainnya. Semua ini karena Alloh SWT, jauh jauh telah memberi hawatief pada setiap diri para waliyulloh, tentang segala hal yang menyangkut derajat kewaliyan seseorang.

Nah, sebagai pemahaman yang lebih jelas, dimana Alloh SWT, menunjuk seseorang menjadikannya derajat waliyulloh, maka pada waktu yang bersamaan, nabiyulloh, Hidir AS, yang diutus langsung oleh malaikat, Jibril AS, akan mengabarkannya kepada seluruh para waliyulloh lainnya tentang pengangkatan wali yang barusan ditunjuk tadi sekaligus dengan derajat yang diembannya.

Disini akan dituliskan tingkatan derajat kewaliyan seseorang, dimulai dari tingkat yang paling atas. "Quthbul muthlak- Athman- Arba’ul ‘Amadu- Autad- Nukoba’ – Nujaba’ – Abdal- dan seterusnya". Nah dari pembedaran ini wajar bila saat itu seluruh wali Jawa berbondong datang ngalaf ilmu ketanah Cirebon, karena tak lain didaerah tersebut telah bersemayam seorang derajat, Quthbul muthlak, yang sangat dimulyakan akan derajat dan pemahaman ilmunya.

Kembali kecerita syeikh Siti Jenar, sejak adanya, Syarief Hidayatulloh, yang telah memegang penting dalam peranan kewaliyan, hampir seluruh wali kala itu belajar arti ma’rifat kepadanya, diantara salah satunya adalah, syeikh Siti Jenar sendiri.

Empat tahun para wali ikut bersamanya dalam “Husnul ilmi Al kamil"/ menyempurnakan segala pemahaman ilmu, dan setelah itu, Syarief Hidayulloh, menyarankan pada seluruh para wali untuk kembali ketempat asalnya masing masing. Mereka diwajibkan untuk membuka kembali pengajian secara umum sebagai syiar islam secara menyeluruh.

Tentunya empat tahun bukan waktu yang sedikit bagi para wali kala itu, mereka telah menemukan jati diri ilmu yang sesungguhnya lewat keluasan yang diajarkan oleh seorang derajat, Quthbul mutlak. Sehingga dengan kematangan yang mereka peroleh, tidak semua dari mereka membuka kembali pesanggrahannya.

Banyak diantara mereka yang setelah mendapat pelajaran dari, Syarief Hidayatulloh, segala kecintaan ilmunya lebih diarahkan kesifat, Hubbulloh/ hanya cinta dan ingat kepada Alloh semata. Hal seperti ini terjadi dibeberapa pribadi para wali kala itu, diantaranya; syeikh Siti Jenar, sunan Kali Jaga, sulthan Hasanuddin Banten, pangeran Panjunan, pangeran Kejaksan dan Syeikh Magelung Sakti.

Mereka lebih memilih hidup menyendiri dalam kecintaannya terhadap Dzat Alloh SWT, sehingga dengan cara yang mereka lakukan menjadikan hatinya tertutup untuk manusia lain. Keyakinannya yang telah mencapai roh mahfud, membuat tingkah lahiriyah mereka tidak stabil. Mereka bagai orang gila yang tidak pernah punya rasa malu terhadap orang lain yang melihatnya.

Seperti halnya, syeikh Siti Jenar, beliau banyak menunjukkan sifat khoarik/ kesaktian ilmunya yang dipertontonkan didepan kalayak masyarakat umum. Sedangkan sunan Kali Jaga sendiri setiap harinya selalu menaiki kuda lumping, yang terbuat dari bahan anyaman bambu. Sulthan Hasanuddin, lebih banyak mengeluarkan fatwa dan selalu menasehati pada binatang yang dia temui.

Pangeran Panjunan dan pangeran Kejaksaan, kakak beradik ini setiap harinya selalu membawa rebana yang terus dibunyikan sambil tak henti hentinya menyanyikan berbagai lagu cinta untuk tuannya Alloh SWT, dan syeikh Magelung Sakti, lebih dominan hari harinya selalu dimanfaatkan untuk bermain dengan anak anak.

Lewat perjalanan mereka para hubbulloh/ zadabiyah/ ingatannya hanya kepada, Alloh SWT, semata. Tiga tahun kemudian mereka telah bisa mengendalikan sifat kecintaannya dari sifat bangsa dzat Alloh, kembali kesifat asal, yaitu syariat dhohir.

Namun diantara mereka yang kedapatan sifat dzat Alloh ini hanya syeikh Siti Jenar, yang tidak mau meninggalkan kecintaanya untuk tuannya semata ( Alloh ) Beliau lebih memilih melestarikan kecintaannya yang tak bisa terbendung, sehingga dengan tidak terkontrol fisik lahiriyahnya beliau banyak dimanfaatkan kalangan umum yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu kewaliyan.

Sebagai seorang waliyulloh yang sedang menapaki derajat fana’, segala ucapan apapun yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar kala itu akan menjadi nyata, dan semua ini selalu dimanfaatkan oleh orang orang culas yang menginginkan ilmu kesaktiannya tanpa harus terlebih dahulu puasa dan ritual yang memberatkan dirinya.

Dengan dasar ini, orang orang yang memanfaatkan dirinya semakin bertambah banyak dan pada akhirnya mereka membuat sebuah perkumpulan untuk melawan para waliyulloh. Dari kisah ini pula, syeikh Siti Jenar, berkali kali dipanggil dalam sidang kewalian untuk cepat cepat merubah sifatnya yang banyak dimanfaatkan orang orang yang tidak bertanggung jawab, namun beliau tetap dalam pendiriannya untuk selalu memegang sifat dzat Alloh.

Bahkan dalam pandangan, syeikh Siti Jenar sendiri mengenai perihal orang orang yang memenfaatkan dirinya, beliau mengungkapkannya dalam sidang terhormat para waliyulloh; “Bagaiman diriku bisa marah maupun menolak apa yang diinginkan oleh orang yang memanfaatkanku, mereka semua adalah mahluk Alloh, yang mana setiap apa yang dikehendaki oleh mereka terhadap diriku, semua adalah ketentuanNya juga" lanjutnya.

“Diriku hanya sebagai pelantara belaka dan segala yang mengabulkan tak lain dan tak bukan hanya dialah Alloh semata . Karena sesungguhnya adanya diriku adanya dia dan tidak adanya diriku tidak adanya dia. Alloh adalah diriku dan diriku adalah Alloh, dimana diriku memberi ketentuan disitu pula Alloh akan mengabulkannya. Jadi janganlah salah paham akan ilmu Alloh sesungguhnya, karena pada kesempatannya nanti semua akan kembali lagi kepadaNya."

Dari pembedaran tadi sebenarnya semua para waliyulloh, mengerti betul akan makna yang terkandung dari seorang yang sedang jatuh cinta kepada tuhannya, dan semua waliyulloh yang ada dalam persidangan kala itu tidak menyalahkan apa barusan yang diucapkan oleh, syeikh Siti Jenar.

Hanya saja permasalahannya kala itu, seluruh para wali sedang menapaki pemahaman ilmu bersifat syar’i sebagai bahan dasar dari misi syiar islam untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat luas yang memang belum mempunyai keyakinan yang sangat kuat dalam memasuki pencerahan arti islam itu sendiri. Wal hasil, semua para wali pada saat itu merasa takut akan pemahaman dari syeikh siti jenar, yang sepantasnya pemahaman beliau ini hanya boleh didengar oleh oleh orang yang sederajat dengannya, sebab bagaimanapun juga orang awam tidak akan bisa mengejar segala pemahaman yang dilontarkan oleh syeikh Siti Jenar.

Sedangkan pada saat itu, syeikh Siti Jenar yang sedang kedatangan sifat zadabiyah, beliau tidak bisa mengerem ucapannya yang bersifat ketauhidan, sehingga dengan cara yang dilakukannya ini membawa dampak kurang baik bagi masyarakt luas kala itu. Nah, untuk menanggulangi sifat syeikh Siti Jenar ini seluruh para wali akhirnya memohon petunjuk kepada Alloh SWT, tentang suatu penyelesaian atas dirinya, dan hampir semua para wali ini mendapat hawatif yang sama, yaitu :

"Tiada jalan yang lebih baik bagi orang yang darahnya telah menyatu dengan tuhannya, kecuali dia harus cepat cepat dipertemukan dengan kekasihnya". Dari hasil hawatif para waliyulloh, akhirnya syeikh Siti Jenar dipertemukan dengan kekasihnya Alloh SWT, lewat eksekusi pancung. Dan cara ini bagi syeikh Siti Jenar sendiri sangat diidamkannya. Karena baginya, mati adalah kebahagiaan yang membawanya kesebuah kenikmatan untuk selama lamnya dalam naungan jannatun na’im.

Sumber : Idris Nawawi (mystys.wordpress.com)
[Sumber...]
~*~

Category:   Other

Ingredients:
Sebuah buku menarik bertajuk Susuk Malang Melintang (2006) karya Agus Sunyoto diterbitkan untuk meluruskan pandangan keliru tentang ajaran Syekh Siti Jenar -- akar aliran Islam kejawen dan tasawuf wahdatul wujud.

Buku yang terdiri dari tujuh jilid tersebut seperti sengaja menghadirkan antitesa untuk menggugurkan pandangan yang kurang pas tentang wali kontroversial itu, termasuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat Islam tentang ajaran-ajaran sang wali yang cenderung dianggap sesat, seperti ditulis dalam banyak buku yang terbit sebelumnya.

Salah satu informasi penting yang ditemukan oleh Agus adalah bahwa Syekh Siti Jenar tidak meninggal karena dieksekusi seperti dipersepsikan masyarakat selama ini. Jika temuan Agus itu benar, berarti ada semacam penyimpangan sejarah wali-wali di Nusantara, yang berarti juga penyimpangan sejarah Islam, untuk kepentingan penguasa atau kelompok tertentu.

Berdasar penelitian terhadap sejarah Syekh Siti Jenar dari sekitar 300 pustaka kuno, Agus menyimpulkan bahwa persepsi tentang Syekh Siti Jenar selama ini banyak yang keliru. Temuan-temuan penting tersebut dikemukakan Agus pada acara peluncuran bukunya di Surabaya, belum lama ini.

Jika betul memang ada penyimpangan, atau bahkan penggelapan sejarah, dan temuan Agus itu benar, berarti kehadiran buku Susuk Malang Melintang menjadi sangat penting. Meski belum dapat dianggap menyamai The Da Vinci Code karya Dan Brown dalam mengguncang iman penganut agama tertentu, sebagian masyarakat (Jawa) yang menganut 'ajaran sesat' (atau 'yang disesatkan') yang diyakini berasal dari Syekh Siti Jenar bisa jadi terperangah setelah membaca buku itu. Begitu juga mereka yang memiliki persepsi keliru tentang sang wali.

Harapan baiknya adalah, keimanan mereka yang 'sesat' atau 'disesatkan' itu bisa tercerahkan dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Dan, inilah manfaat penting buku: tidak hanya memberi pengetahuan tapi juga meluruskan tesis yang salah dan mengubah opini publik menjadi lebih benar. Dalam konteks itu, buku tidak hanya menjadi agen ilmu pengetahuan, tapi juga agen perubahan.

Seperti ditegaskan dalam peluncuran buku itu, tujuan Agus pun jelas, meluruskan stigma jelek Syekh Siti Jenar. Dan, upaya pelurusannya disepakati oleh budayawan Mohammad Sobary, Setyo Yuwono Sudikan, dan KH Agus Ali Masyhuri, yang tampil sebagai pembahas.

Temuan Agus yang juga penting, dan dibeberkan/bahaskan dalam buku itu, adalah bahwa Syekh Siti Jenar ternyata juga tetap menjalankan syariat (hukum dan amal dalam beragama) Islam dan tidak mengajarkan sasahidan atau ajaran yang sesat dan menyesatkan seperti dipersepsikan orang selama ini.

Para pengikut Syekh Siti Jenar, menurut temuan Agus, menganggap persepsi orang tentang wali ke-sembilan tersebut selama ini merupakan kebohongan, bahkan dalam soal tauhid (keimanan) pun, Syekh Siti Jenar tidak menganggap dirinya adalah Tuhan.

Ajaran yang paling populer dari Syek Siti Jenar, yang banyak ditafsirkan secara keliru sehingga berkembangan kesalahan persepsi tentang sang wali, adalah manunggaling kawula-Gusti (kesatuan Tuhan dan manusia). Ajaran ini, menurut Agus, merujuk pada Alquran bahwa Allah SWT ada dimana-mana tanpa dibatasi ruang, gerak, dan waktu. Tuhan selalu ada dalam setiap ruang kosong.

Dengan tesis-tesis anti-tesisnya itu, seperti diakui budayawan Setyo Yuwono Sudikan, berarti Agus Sunyoto telah melakukan semacam dekonstruksi terhadap sosok Syekh Siti Jenar melalui buku. Ia telah melakukan dekonstruksi ketokohan dan ajaran Syekh Siti Jenar.

Jauh sebelum Agus, budayawan sufistik Abdul Hadi WM juga sudah meyakini bahwa Syekh Siti Jenar bukan tokoh yang sesat. Ada penggelapan informasi tentang sang wali oleh penguasa. Syekh Siti Jenar disingkirkan oleh penguasa Demak karena dianggap berbahaya, seperti nasib yang menimpa Hamzah Fansyuri pada masa Kesultanan Aceh. Jadi, bukan karena persoalan ajaran, tapi lebih untuk kepentingan politik-kekuasaan.

Memang begitulan 'interaksi negatif' antara penguasa dan tokoh kritis. Dari zaman ke zaman, negara memang telah menguatkan hegemoni terhadap ulama, pujangga, dan tokoh masyarakat yang dianggap kritis dan berbahaya. Jika perlu, mereka disingkirkan, seperti dilakukan oleh penguasa Orde Baru terhadap Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh kritis lainnya.

Dengan kekuatan penguasa sebagai panutan dan pemegang pusat informasi, pandangan masyarakat yang umumnya paternalistik pun dapat disesatkan, sehingga karakter sang tokoh benar-benar dihabisi. Di mana-mana, di hampir tiap zaman, penguasa kerap melakukan pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya. Tokoh-tokoh yang semestinya dapat diteladani oleh masyarakat, seperti Mohammad Natsir dan Syeh Siti Jenar, diberi stigma negatif agar dilupakan.

Buku karya Agus itu, seperti diakui Mohammad Sobary, juga membuktikan bahwa sejarah tidak pernah selesai dan kebenaran sejarah juga tidak selalu final. Paling tidak, Agus Sunyoto telah menampar wajah para ilmuwan yang selama ini merasa puas dengan sejarah yang sudah ada. Melalui buku yang ditulis dengan kesungguhan dan kerja keras itu, Agus berhasil membongkar tabir mitos yang selama ini melingkupi Syekh Siti Jenar.

(Ahmadun Yosi Herfanda )

Directions:
Sumber : www.republika.co.id



~*~
Syekh Siti Jenar: Makrifat dan makna Kehidupan





Sang Pembaharuan: Pejuangan dan ajaran Syaikh Siti Jenar


. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

13 December, 2011

Imam al-Ghazali

Akhir Kehidupan Imam al-Ghazali


~*~Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali's Last

~*~
Babak di saat terakhir kehidupan Imam al-Ghazali petikan dari dokumentari 'Al-Ghazali: Alchemist of Hapiness'.


Mengalihkan Tumpuan Pada Hadis Di Akhir Hayatnya

Didalam Tabaqat al-Subki menjelaskan bahawa Imam al-Ghazali melalui peringkat ketidak stabilan pada awalnya dan keadaan menjadi lebih jelas pada peringkat akhir hayatnya. Telah diriwayatkan bahawa beliau pada akhir hayatnya kembali kepada hadis-hadis sahih, dimana beliau sendiri mempelajari dan menghafal kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dikatakan pada penghujung penghidupannya, beliau telah mendengar Sahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad Abdul Hafsi, dan Sunan Abu Daud dari Qadhi Abu al-Fath al-Hakimi al-Thusi.

Diceritakan oleh murid beliau, Abdul Ghafur al-Farisi mengenai tahap akhir penghidupan gurunya: “Pada peringkat akhir beliau telah menunjukkan minat yang mendalam berkenaan hadis al-Mustafa (Hadis Nabi s.a.w.) dan mentelaah Sahih Bukhari dan Muslim.

Menurut Ibnu Katsir: “(Pada akhir hayat) dia telah pulang ke negerinya Tus dan tinggal disana, membentuk perhubungan, mengadakan rumah yang baik, menanam tanan-tanaman di kebun yang indah, membaca al-Quran dan menghafal hadis-hadis sahih. Dikatakan pada akhir hayatnya, beliau lebih cenderung kepada mendengar hadis-hadis Bukhari dan Muslim dan menghafalmnya.

Imam Az-Zahabi berkata: “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadis dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Sahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadis dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang puteri.”

Wafatnya Imam al-Ghazali
Kubur Imam al-Ghazali yang sebenar telah dijumpai oleh para arkeologi Khurasan pada tahun 1995 di Tus.

Adik Imam al-Ghazali, Ahmad menceritakan saat menjelang ajal abangnya:
“Pada waktu subuh hari Isnin, abangku Abu Hamid mengambil wuduk lalu bersolat. Kemudian beliau berkata:
“Bawakan kain kapanku,” lalu diambil dan dicium serta diletakkan di mata sambil berkata lagi:
“Aku patuh dan taat untuk masuk kepada malaikat.”
Kemudian al-Ghazali mengunjurkan kakinya dan menghadap ke kiblat dan wafat sebelum matahari terbit.”

Imam al-Ghazali wafat pada pagi Isnin, 14 Jamadilakhir 505H/19 Disember 1111M di Tus dengan kitab hadis atas dadanya. Jenazah beliau dikebumikan di makam al-Tabaran, bersebelahan dengan makam penyair besar yang terkenal, Firdausi.

Diceritakan bahawa Syeikh Abul Hasan al-Syadzili bermimpi bahawa dia melihat Nabi s.a.w. menunjukkan Imam al-Ghazali kepada Nabi Musa dan Isa, sambil bertanya kepada kedua mereka, “Adakah terdapat orang alim yang bijaksana dalam umat anda berdua?” Jawab keduanya, tidak ada.
WallahHu'Alam.

. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

08 November, 2011

Amalan yang baik-baik yang dalam JAMINAN ALLAH & RASUL

AMALAN YANG BOLEH MENANGGUHKAN KEMATIAN, KOLEKSI KATA MUTIARA ISLAM BERTAMBAH

Tazkirah Jumaat
4 November 2011 (7 Zulhijjah 1432H)


AMALAN YANG BOLEH MENANGGUHKAN KEMATIAN

Kematian adalah ketentuan Allah. Tetapi ada satu perkara yang boleh melambatkan kematian iaitu amalan bersedekah.

SUATU hari, Malaikat Izrail (Malaikat Maut) mendatangi Nabi Ibrahim as, dan bertanya, “Siapakah anak muda yang mendatangimu wahai Ibrahim?”

“Itu sahabatku dan juga muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”

“Dia menyampaikan khabar bahawa dia akan melangsungkan pernikahannya esok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai esok pagi.”

Setelah itu, Malaikat Izrail pergi meninggalkan Nabi Ibrahim. Hampir saja Nabi Ibrahim tergerak untuk memberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu esok. Tapi langkahnya terhenti dan Nabi Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahsia Allah.

Keesokan paginya, Nabi Ibrahim melihat dan menyaksikan bahawa anak muda tersebut tetap melangsungkan pernikahannya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim malah melihat anak muda ini terus hidup dengan panjang umurnya. Hingga usia anak muda ini 70 tahun,
Nabi Ibrahim bertanya kepada Izrafil, apakah dia berbohong tempoh hari sewaktu menyampaikan berita bahawa anak muda itu umurnya tidak akan sampai esok pagi?
Malaikat Kematian menjawab bahawa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda itu pada waktu tersebut?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut. Kerana itulah engkau masih melihatnya hidup sehingga sekarang.”

Wahai pembaca sekalian, kematian sememangnya di tangan Allah. Oleh itu, mencepatkan dan melambatkan kematian adalah hak Allah. Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad SAW bahawa sedekah itu akan memanjangkan umur. Jadi, bila disebut bahawa ada sesuatu yang boleh menunda kematian, itu adalah… sedekah.

Maka, tengoklah kiri kanan anda dan lihatlah sekeliling anda. Bila anda menemui ada sebarang kesusahan terjadi, maka sesungguhnya anda harus menghulurkan bantuan dan pertolongan. Kesusahan itu diberi oleh Allah untuk anda bantu kerana Allah ingin memanjangkan umur anda. Cuma tinggal kemahuan anda sama ada untuk membantu kesusahan itu ataupun tidak.

Saudara sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui bila ajalnya akan tiba. Dan tidak seseorang pun yang mengetahui bagaimana keadaan ajalnya tiba. Maka memberi sedekah bukan saja akan memanjangkan umur, mungkin juga kita akan meninggalkan dunia ini dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang CINTA Allah?

Jika seseorang diCINTAI Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawanya dicabut dalam keadaan Husnul Khatimah. Mudah-mudahan Allah berkenan memanjang umur kita, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar keampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan diri untuk kematian yang akan datang menemui kita.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78)


http://panduanislam.com/blog/2011/05/amalan-yang-boleh-menangguhkan-kematian/


KOLEKSI KATA MUTIARA ISLAM BERTAMBAH

Ada tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : 
(1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, 
(2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan 
(3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.” (Sufyan bin ‘Uyainah)

Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.” (HR Ibnu Majah)

Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia berkata, kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman;
‘Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.’” (Yunus bin ‘Ubaid)

http://blog.al-habib.info/id/koleksi-kata-mutiara-islam-bertambah/

PUASA SUNAT PADA HARI ARAFAH, BERSEDEKAHLAH WALAUPUN HANYA SEPARUH KURMA, JAMINLAH UNTUKKU 6 PERKARA, AKU JAMIN SYURGA UNTUKMU

Tazkirah Jumaat
28 Oktober 2011 (30 Zulkaedah 1432H)


PUASA SUNAT PADA HARI ARAFAH

Sabda Baginda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud : 
"Puasa pada hari Arafah itu menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang." (Hadis riwayat Muslim).

Hari Arafah adalah bertepatan dengan 9 Zulhijjah. Tidak ada dalil syarak yang menetapkan bahawa puasa Arafah mesti dilakukan serentak dengan masa wukuf jemaah haji di Arafah. Sebaliknya, ia disunatkan pada tanggal 9 Zulhijjah. Bahkan, dengan bentuk dunia yang bulat dan perbezaan waktu, puasa yang dilakukan di benua dan rantau selain dari tanah suci, tidak akan dapat dijalankan serentak dengan wuquf, walau dilaksanakan pada hari wuquf itu sendiri.

Bertakbir, bertahmid dan bertahlil kepada Allah, serta berselawat ke atas Baginda Rasulullah S.A.W. bermula dari subuh hari Arafah (9 Zulhijjah) sehingga waktu Asar hari tasyriq yang terakhir (13 Zulhijjah). Ini berdasarkan Hadith Jabir r.a. yang bermaksud bahawa;
“Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. bertakbir pada solat Fajar hari Arafah, sehingga waktu Asar daripada hari tasyriq yang terakhir, selepas Baginda memberi salam dari solat fardhu.” (riwayat Ad-Daruqutni)

Melaksanakan ibadat korban pada EidulAdha sehinggalah penghujung hari tasyriq. Ibadat ini mengingatkan masyarakat Islam untuk sentiasa bersifat ikhlas dan bertaqwa kepada Allah s.w.t. Ibadat ini juga dapat merapatkan hubungan dan menyebarkan kasih sayang di antara manusia, dengan perkongsian daging bersama mereka yang memerlukan, keluarga, sahabat dan jiran tetangga.

http://halaqah.net/v10/index.php?topic=4524.0


BERSEDEKAHLAH WALAUPUN HANYA SEPARUH KURMA

Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya:
“Peliharalah dirimu dari api neraka dengan bersedekah (walaupun) separuh dari sebiji tamar (kurma), dan kalau tidak dapat sedekah itu, maka keluarkanlah kata-kata yang baik” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Aisyah r. a. berkata;
“Aku dahulunya tidak mengetahui adanya siksa kubur sehingga datang kepadaku seorang wanita Yahudi meminta-minta, dan sesudah aku memberi (sebiji kurma) dia berkata: Semoga Allah melindungi kamu dari seksa kubur. Maka aku kira keterangannya itu termasuk penipuan kaum Yahudi, lalu aku ceritakan kepada Nabi s. a. w. Kemudian Nabi s. a. w. memberitahu kepadaku bahawa seksa kubur itu adalah benar, kehidupan atau kebangkitan selepas kematian itu adalah benar dan keramat wali itu adalah benar.

Maka seharusnyalah seseorang Islam itu, berlindung dengan Allah dari seksaan kubur, dan bersiap sedia untuk menghadapi kubur dengan amalan yang soleh seperti bersedekah. Dalam hadith yang lain disebut, “banyakkanlah sedekah kerana ia menyejukkan kamu di Alam Barzakh”.

http://nasbunnuraini.wordpress.com/2011/10/24/bersedekahlah-walaupun-cuma-separuh-kurma/


JAMINLAH UNTUKKU 6 PERKARA, AKU JAMIN SYURGA UNTUKMU

Rasulullah saw bersabda: “Jaminlah untukku enam perkara, aku jamin syurga untukmu, iaitu: bercakap benarlah bila kamu berbicara, tepatilah janji bila kamu berjanji, sampaikanlah apabila kamu diberi amanah, jagalah kemaluanmu tahanlah pandangan matamu, dan tahanlah tanganmu.”
(HR Imam Ahmad,Ibnu Hibban, Baihaqi)

1. Bercakap benarlah bila kamu berbicara.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berbohong apabila dia senantiasa menceritakan semua yang dia dengar. (tanpa diselidiki kebenarannya)”
(HR Imam Muslim)

2. Tepatilah janji bila kamu berjanji.

Ada dua jenis janji iaitu janji bertulis dan janji secara mulut atau lisan. Kedua-duanya akan ditanya dihari kiamat. Dalam quran disebut:

……dan sempurnakanlah perjanjian (dengan Allah dan dengan manusia), sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya.(Al-Isra, 34)

3. Sampaikanlah apabila kamu diberi amanah

Kiamat berlaku disaat amanah disia-siakan. Kerja juga adalah satu amanah, sempurnakanlah kerja agar murah rezeki. Nabi Muhammad juga digelar Al-Amin kerana amanah. Amanahlah dalam semua aspek. Serahkanlah amanah kepada yang pakar dalam bidangnya.

Rasulullah saw bersabda, “tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak menunaikan janji.” 
 (HR. Ahmad).

Rasulullah s.a.w bersabda “Apabila suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran" (HR Bukhari)

4. Jagalah kemaluanmu.

Jauhi dari digunakan pada tempat yang salah. (haram). Di dunia Allah beri satu(1) tenaga kepada setiap orang lelaki. Satu tenaga ini boleh diguna hanya kepada 4 isteri. Ramai orang yang tidak dapat jaga 1 tenaga dan nafsu ini dan digunakan pada tempat yang haram, iaitu perhubungan seks haram, pelacuran. Di syurga Allah akan beri 100 tenaga untuk lelaki dan perempuan. Jagalah tenaga yang 1 di sini untuk dapat 100 di sana.

5. Tahanlah pandangan matamu.

Kata pepatah Melayu dari mata turun ke hati. Kerana itulah kita disuruh merendahkan pandangan daripada memandang perkara yang haram dan wajah wanita atau lelaki yang bukan mahram. Diriwayatkan, Rasulullah berjalan dengan agak laju dan menundukkan pandangan.

An-Nur [30] Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan.

An-Nur [31] Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram)……

6. Tahanlah tanganmu.

Tangan jugalah yang menyumbang kepada kejahatan walaupun sekadar mencuri selipar. Oleh itu ikatlah dan kawallah tangan daripada melakukan kejahatan.

http://nasbunnuraini.wordpress.com/2010/06/03/jaminlah-untukku-6-perkara-aku-jamin-syurga-untukmu/

 

AMALAN ISTIGHFAR DITUNTUT SEBAGAI PENGHAPUSAN DOSA LALU, MENEPATI JANJI, BERKATA BENAR BUKTI KESEMPURNAAN

Tazkirah Jumaat
21 Oktober 2011 (23 Zulkaedah 1432H)


AMALAN ISTIGHFAR DITUNTUT SEBAGAI PENGHAPUSAN DOSA LALU

RASULULLAH SAW bersabda yang bermaksud:
 "Demi Allah, jika kamu tidak berdosa, Allah akan menjadikan satu umat lain yang melakukan dosa, lantas mereka beristighfar kepada Allah lalu diampuni dosa mereka." 
- (HR Muslim)

Sudah menjadi lumrah manusia tidak boleh lepas daripada kesalahan dan dosa. Hal ini disebabkan adanya sifat lupa, lalai, mengikut hawa nafsu dan godaan syaitan.

Sesungguhnya dosa sebenarnya bukanlah perkara pelik dan mengaibkan tetapi yang aibnya ialah apabila seseorang itu kekal dalam dosa tanpa rasa ingin kembali bertaubat serta memohon ampun daripada Allah.

Oleh itu beristighfar amatlah dituntut dalam Islam kerana ia boleh menghapuskan dosa perbuatan yang dilakukan. Tetapi sayang, kita sukar sekali mengamalkan istighfar ini padahal ia sungguh ringkas dan mudah sehingga akhirnya bertambahlah dosa dilakukan lantaran kelalaian dan tabiat suka bertangguh.

Istighfar juga bukan setakat jalan untuk memohon ampun daripada Allah tetapi sebagai suatu sinar cahaya yang menerangi wajah seseorang.

Melakukan dosa biarpun yang dikatakan dosa kecil perlu dihindarkan kerana dosa kecil boleh menjadi dosa besar apabila:

Dilakukan secara berterusan dan tidak ada azam untuk meninggalkannya. Oleh sebab itu, ada yang mengatakan:
 "Tidak ada dosa kecil bersama adanya azam untuk terus melakukan, dan tidak ada dosa besar bersama adanya permohonan meminta keampunan".

Perbuatan dosa besar yang dilakukan sekali dan tidak diulangi, harapan untuk memperoleh keampunan terhadapnya lebih besar daripada dosa kecil dilakukan secara berterusan.

Jika dianggap kecil, tetapi sebaliknya, jika dianggap besar, maka ia menjadi kecil di sisi Allah kerana anggapan besar itu timbul daripada kebencian dan berpaling hati daripadanya.

 Sebahagian ulama berkata: "Jika seseorang melihat kebesaran Tuhan yang ia menderhaka dengan melakukannya, maka ia akan memandang dosa kecil menjadi besar, dan bukan sebaliknya."

Jika disertai perasaan gembira dan bermegah dengannya.

Jika menganggap ringan keampunan Allah terhadap perbuatannya, tertipu diri kerana menyangka kebolehannya untuk terus melakukan perbuatannya itu disebabkan pemeliharaan Allah terhadapnya dan merasa aman daripada azab-Nya.

Jika dizahirkan, seperti mengatakannya kepada orang lain setelah melakukannya atau sengaja melakukannya di hadapan orang lain.

Jika dilakukan oleh orang yang berilmu dan diikuti masyarakat. Oleh sebab itu, seorang ulama berkewajipan menjauhi dosa, dan menyembunyikannya jika terlajak melakukannya.

http://agamaberitaharian.blogspot.com/2008/07/amalan-istighfar-dituntut-sebagai.html


MENEPATI JANJI, BERKATA BENAR BUKTI KESEMPURNAAN

MENGHORMATI, menepati dan melaksana janji dipandang sebagai kewajipan harus diutamakan kerana ia memberi kesan mendalam kepada jiwa, memberi kedamaian dan kesejahteraan. Ia juga jalan keluar untuk memecah segala kebuntuan. Namun, ada kalangan kita masih tidak menepati apa dikata.

Firman Allah bermaksud: "Hai orang beriman mengapa kamu mengucapkan sesuatu yang tidak kamu kotakan. Besar benar dosanya di sisi Allah jika kamu mengucapkan apa yang tidak kamu kotakan itu." 
~(QS al-Munafiqun: 1-2)

Allah memerintahkan supaya setiap janji dibuat itu dipenuhi dan ditepati seperti firman-Nya bermaksud: "Hai orang beriman, tepatilah janjimu."
~ (QSal-Maidah: 1)

Menepati janji dan berkata benar bukti kesempurnaan dan keadilan seseorang. Pepatah Arab ada berkata: "Sesiapa yang bermuamalah dengan seorang lain dan tidak berlaku aniaya. Jika berbicara tidak mengatakan yang dusta dan jika berjanji tidak menyalahi maka jelaslah orang itu memiliki keperwiraan sempurna, nyata pula keadilannya dan haruslah dipereratkan persaudaraan dengannya."

Meremehkan janji atau sengaja untuk tidak menepati apa diucapkan adalah suatu dosa besar yang pasti menyebabkan kebencian dan kemarahan. Setiap manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah mengenai janji pernah dibuat sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:
"Penuhilah janji itu, sebab janji itu akan ditanyakan." (QS al-Isra': 34)

Menepati janji sebahagian daripada iman dan balasannya adalah syurga. Firman Allah bermaksud:
"Orang mukmin ialah yang menjaga amanat serta menepati janji, menjaga solat, maka mereka itu yang akan mewarisi syurga Firdaus dan kekal mereka di situ selama-lamanya." (QS al-Mu'minum: 11)

Namun, masih ada yang petah bercakap, manis di bibir menabur seribu janji. Ada yang tidak segan silu menabur dan menjaja pelbagai janji. Malah, ada sanggup bertopeng kejujuran dan menggadai amanat dengan menabur janji demi janji hanya untuk menjaga kepentingan.

Seorang mukmin tidak mungkin akan menyalahi janjinya dan mustahil pula mengkhianati amanah kerana perbuatan itu menyebabkan kurang dihargai, malah sukar untuk dipercayai.

Suatu ketika Luqmanul Hakim pernah ditanya:
  "Apakah sebab sehingga kamu dapat mencapai kedudukanmu itu?"
Beliau menjawab: 
"Dengan benar dalam berkata-kata, dan menunaikan amanat dan meninggalkan apa bukan kepentinganku."

Ulama tabiin pernah berkata: 
"Ketahuilah "Benar" itu perhiasan wali dan
 "Dusta" itu tanda orang yang celaka."

http://agamaberitaharian.blogspot.com/2008/07/menepati-janji-berkata-benar-bukti.html

WallahHu'Alam.

. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

11 October, 2011

Uwais Al-Qarani & Harim Bin Hayyan

Tazkirah Al-Asfiya Fi Hayat Al-Awliya
©Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi 'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

Tazkirah Al-Asfiya: Uwais Al-Qarani & Harim Bin Hayyanx


http://www.scribd.com/fullscreen/13669369?access_key=key-1yy2vdp4vemuq21phywb


HUBUNGAN SYARIAT, TAREKAT DAN HAKIKAT PDF Cetak E-mail



الشريعة أصل والطريقة فرع له، والحقيقة هي أن تجتمع الشريعة مع الطريقة

Yang bermaksud, Ilmu Syariat adalah asal (asas) dan ilmu Tarekat adalah cabang daripadanya. Manakala ilmu Hakikat adalah gabungan bersama Ilmu Syariat dan ilmu Tarekat.
Dipetik daripada Kitab Sawanih Qalbiyyah, Ahmad Fathulluh Jamiy, Dar al-Ghazali, cetakan kedua, 2002

. .
~***~Taman Koperasi Bena, IJOK~***~

16 February, 2011

Sheikh Abdul Qadir Jailani[AQJ] ~ PESANAN beliau...

EMPAT GOLONGAN MANUSIA
Kitab Futuuhul Ghaib
oleh Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Ada empat jenis manusia dalam dunia ini :-
1. Pertama ialah mereka yang TIDAK ADA LIDAH dan TIDAK ADA HATI.
   Mereka ini ialah orang2 yg bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Allah dan tidak ada kebaikan pada mereka.
Mereka ini ibarat melukut yang ringan, kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Allah dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan anggota-anggota mereka supaya patuh kepada Allah.
Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka. Janganlah kamu layan mereka dan janganlah kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang di murkai Allah dan penghuni neraka. Kita minta di lindungi Allah dari pengaruh mereka.
Sebaliknya kamu hendaklah cuba menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan:
• Ilmu Ketuhanan,
• Guru kepada yang baik,
• Pembimbing kepada agama Allah,
• Penyampai dan pengajak kepada manusia kepada jalan Allah.

Berjaga-jagalah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan beri amaran kepada mereka terhadap apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Allah dan akan di beri ganjaran seperti yang di beri kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda kepada Sayyidina Ali;
  “Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbingan kamu kepadaNya, maka itu terlebih baik kepada kamu dari apa-apa sahaja di mana matahari terbit”.

2. Satu jenis lagi manusia ialah mereka yang ADA LIDAH tetapi TIDAK ADA HATI.
• Mereka bijak bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang dicakapkannya.
• Mereka mengajak manusia menuju Allah tetepi mereka sendiri lari dari Allah.
• Mereka benci kononnya kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelumang dalam maksiat itu.
• Mereka menunjuk kepada orang lain yang mereka itu Sholeh tetapi mereka sendiri melakukan dosa-dosa yang besar.
• Bila mereka bersendirian, mereka bertindak selaku harimau yang berpakaian. Inilah orang yang dikatakan kepada Nabi SAW. dengan sabda;
   “Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku ialah orang "Alim yang jahat".
Kita berlindung dengan Allah daripada orang ‘Alim seperti itu. Oleh itu, larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu. Jika tidak, kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak berbicara itu dan api dosanya itu akan membakari kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

3. Jenis yang ketiga ialah golongan orang yang MEMPUNYAI HATI tetapi TIDAK ADA LIDAH.
• Dia adalah seorang yang beriman.
• Allah telah mendindingkan mereka daripada makhluk dan
• menggantungkan di keliling mereka dengan tabir-Nya dan
• memberi mereka kesedaran tentang cacat cedera diri mereka.
• Allah menyinari hati mereka dan menyedarkan mereka tentang kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri urusan orang ramai dan kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri orang ramai dan kejahatan kerena bercakap banyak.
Mereka ini tahu bahawa keselamatan itu terletak dalam “DIAM” dan berkhalwat.
Nabi SAW. pernah bersabda;
“Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan”.
Sabda baginda lagi;
“Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam”.
Oleh itu mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Allah dalam rahsia-Nya, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, rakan Allah dan diberkati dengan keredhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.
Oleh itu, kamu hendaklah berkawan dengan mereka dan bergaul dengan orang2 ini dan diberi pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Allah dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Allah dan hamba-hambanya yang Soleh.

4. Jenis manusia yang keempat pula ialah mereka yang diajak ke dunia tidak nampak(Alam Ghaib),
diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi SAW;
    "Sesiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan orang yang lain, maka akan diajak ke dunia ghaib dan permuliakan”.
Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Allah[Keramah].
Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahsia-rahsia yg tidak diberi kepada orang lain.
Allah telah memilih mereka dan membawa mereka hampir hampir kepadaNya.
Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisi-Nya. Hati mereka akan dilapangkan utk menerima rahsia-rahsia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi.
Allah jadikan mereka itu pelaku dan lakuan-Nya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu “Orang2 Allah/Ahlillah”. Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.
Mereka ibarat timbalan Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah. Mereka sentiasa mendapat Taufiq dan Hidayah dari Allah Yang Maha Agung. Orang yang dalam golongan ini adalah pada peringkat terakhir atau puncak kemanusian dan tidak ada Maqam di atas ini kecuali Kenabian.
Oleh itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasihat mereka. Oleh itu, keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Allah beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunanNya.
Jadi Saya(Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani) telah bahagikan manusia itu kepada empat golongan.
Sekarang terpulanglah kepada kamu untuk memeriksa diri kamu sendiri jika kamu mempunyai fikiran.
Dan selamatkanlah diri kamu jika kamu ingin keselamatan.
Mudah-mudahan Allah membimbing kita menuju kepada apa yang dikasihiNya dan diredhoiNya,
dalam dunia ini dan di akhirat kelak.

Sumber: http://tarbiyyahibnumasran.blogspot.com/2007_10_01_archive.html

~*~*~*~

PETIKAN SYARAHAN(50) Syeikh Abdul Qadir Al Jilani.

Mungkin kamu berada dalam satu dari dua keadaan ini:

(1) Jauh dari ALLAH SWT

(2) Hampir dengan ALLAH SWT

Sekiranya kamu jauh dari ALLAH, maka janganlah kamu berdiam diri sahaja dan tidak mahu MENGEJAR KEBAHAGIAAN kamu dari KURNIAAN ALLAH dan KEBAHAGIAAN, KESELAMATAN dan KEMAJUAN di sisi ALLAH dalam DUNIA dan di AKHIRAT kelak……!!
Ayuh..!

Bangunlah dan segera menuju ALLAH….!

Tinggalkan KESERONOKAN dan berFOYA itu dan jauhkan yang HARAM…...

Bersedialah dengan SABAR menghadapi keSULITan dan keSUSAHan dan jauhkan diri dari manusia dan dari KEINGINAN dunia atau akhirat agar kamu berjaya "BERSATU" dengan ALLAH dan hampir denganNYA, dan kemudian itu barulah kamu boleh mendapat apa yang kamu kehendaki…...

Kamu akan diberi keMULIAan dan keTINGGIan Pangkat di sisi ALLAH. Jika kamu telah masuk dalam golongan diberi ALLAH kehormatan, kasih Sayang dan RahmatNYA, maka tunjukkanlah sopan dan akhlak yang baik dan jangan kamu merasa tinggi diri dengan kurniaaNYA itu, agar kamu tidak lupa tentang kewajipan kamu terhadap ALLAH dan agar kamu tidak condong kembali kepada keJAHILan dan keGELAPan kamu yang mula2 dahulu.

Firman ALLAH:Ertinya:
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan AMANAH kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikul AMANAH itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah AMANAH itu oleh manusia. Sesunggguhnya manusia itu AMAT ZALIM dan AMAT BODOH"

Firman ALLAH lagi ertinya:
"..Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan manusia adalah bersifat tergesa-gesa."

Pelihara HATi kamu daripada condong kepada apa yang telah kamu tinggalkan tentang manusia, HAWA NAFSU, keinginan, USAHA, kehilangan SABAR, REDHA dan bersesuaian dengan ALLAH semasa ditimpa KEMALANGAN dan KESUSAHAN.

Sebaliknya kamu hendaklah MENYERAHKAN DIRI-Mu kepada ALLAH seperti BOLA di kaki pemain bola, atau seperti BAYi di pangkuan ibunya, atau seperti MAYAT di tangan pemandi-pemandinya.

BUTAkan HATI-Mu kepada apa sahaja selain DIA supaya kamu pandang tidak ada yg lain kecuali ALLAH..!!

Tidak ada yg WUJUD..!!

Tidak ada yg meMUDHARATkan..!!

Tidak ada yg meMANFAATkan..!!

Tidak ada yg MENOLAK PEMBERIAN atau yg MEMBERI..!!

Semua itu si DIA (ALLAH)LAH jua.!!

ANGGAPlah makhluk itu, semasa kesusahan dan penderitaan, sebagai TALI CEMATI dari ALLAH Yg Maha Agung, yg dengannya ALLAH memukul kamu.

Semasa KEBAHAGIAAN dan KESELAMATAN, anggaplah makhluk itu sebagai TANGAN ALLAH yg memberi REZEKI ke KAMU!!!

. .
~***~LadingEMAS~***~
~*~ Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... ~*~