QURAN dan TerJemahan ~ PerHatikan Pesanan Allah dlm KiTabNya ini

AL QURAN

Listen to Quran
~*~*~*Al-Quran OnLine

07 January, 2010

Sirah Rasulullah SAW_18 ~ PERANG KHANDAQ1 DAN BANU QURAIZA

BAHAGIAN KEDELAPAN BELAS: PERANG KHANDAQ1 DAN BANi QURAIZA
Muhammad Husain Haekal
(1/3)

Huyayy b. Akhtab menghasut semua masyarakat Arab
melawan Muslimin - Sepuluh ribu prajurit menuju Medinah
- Salman al-Farisi mengusulkan penggalian parit sekitar
kota - Quraisy dan Ghatafan mengepung kota - Banu
Quraiza melanggar perjanjian dengan pihak Muslimin -
Hilangnya kepercayaan Arab-Yahudi - Kabilah-kabilah
Arab menarik diri dari Medinah - Pengepungan Bani
Quraiza.

SETELAH Medinah dikosongkan dari Banu Nadzir, kemudian setelah
peristiwa Badr Terakhir dan sesudah ekspedisi-ekspedisi
Ghatafan dan Dumat'l-Jandal berlalu, tiba waktunya kaum
Muslimin sekarang merasakan hidup yang lebih tenang di
Medinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu
banyak mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang
mereka peroleh dari peperangan selama itu, meskipun dalam
banyak hal kejadian ini telah membuat mereka lupa terhadap
masalah-masalah pertanian dan perdagangan. Tetapi disamping
ketenangan itu Muhammad selalu waspada terhadap segala
tipu-muslihat dan gerak-gerik musuh. Mata-mata selalu
disebarkan ke seluruh pelosok jazirah, mengumpulkan
berita-berita sekitar kegiatan masyarakat Arab yang hendak
berkomplot terhadap dirinya. Dengan demikian ia selalu dalam
siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan
diri.

Tidak begitu sulit orang menilai betapa perlunya harus
bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita melihat
adanya segala macam tipu-muslihat Quraisy dan yang bukan
Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa
itu - juga sesudah itu sebagian besar dalam perkembangan
sejarahnya masing-masing mereka itu merupakan sekumpulan
republik-republik kecil, yang satu sama lain berdiri
sendiri-sendiri. Mereka masing-masing menggunakan sistem
organisasi yang lebih dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini
memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan tradisi
yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya
pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini Muhammad
pun sebagai orang Arab sangat waspada sekali mengingat nafsu
hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang Arab
itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan
Yahudi Banu Nadzir, demikian juga kabilah-kabilah Arab
Ghatafan, Hudhail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan
Syam, mereka saling menunggu, bahwa Muhammad dan
sahabat-sahabatnya itu akan binasa. Kalaupun mereka akan
mendapat kesempatan, masing-masing berharap akan dapat
mengadakan balas dendam terhadap laki-laki yang sekarang
datang mencerai-beraikan masyarakat Arab dengan kepercayaan
mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam
keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman yang
telah memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun
sekarang orang ini sudah kuat, sudah mempunyai kemampuan,
sehingga kota-kota dan kabilah-kabilah Arab yang terkuat
sekalipun, merasa segan kepadanya.

Orang-orang Yahudi ialah musuh Muhammad yang paling tajam
memperhatikan ajaran-ajaran dan cara berdakwahnya. Dengan
kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan
nasib yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri
Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid (monotheisma).
Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan
pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan dapat mengalahkan
lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa
orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih
condong pada pengertian monotheisma. Sementara ajaran trinitas
Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh jiwa
Semit. Dan sekarang Muhammad, orang yang berasal dari pusat
Arab dan dari pusat orang-orang Semit sendiri, menganjurkan
ajaran tauhid dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan
sekali, dapat menjelajahi dan merasuk sampai ke lubuk hati
orang, dan mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih
tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu
Qainuqa' dari Medinah, mengusir Banu Nadzir dari daerah koloni
mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka
sendiri pergi ke Syam atau pulang ke tanah air mereka yang
pertama, ke Bait'l-Maqdis (Yerusalem) di Negeri yang
Dijanjikan - Ardz'l-Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus
berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat membalas
dendam kepada Muhammad?

Rencana hendak menghasut orang-orang Arab adalah yang paling
terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka Banu Nadzir. Untuk
melaksanakan rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka
pergi hendak menemui Quraisy di Mekah. Mereka terdiri dari
Huyayy b. Akhtab. Sallam b. Abi'l-Huqaiq dan Kinana
bin'l-Huqaiq, bersama-sama dengan beberapa orang dari Banu
Wa'il Hawadha b. Qais dan Abu 'Ammar.

Ketika oleh pihak Mekah, Huyayy ditanya mengenai golongannya
itu ia menjawab:

"Mereka saya biarkan mundar-mandir ke Khaibar dan ke Medinah
sampai tuan-tuan nanti datang ke tempat mereka dan berangkat
bersama-sama menghadapi Muhammad dan sahabatsahabatnya."

Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraiza, ia menjawab:

"Mereka tinggal di Medinah sekedar mau mengelabui Muhammad.
Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bersama-sama dengan
tuan-tuan."

Pihak Quraisy jadi ragu-ragu akan maju, atau mundur saja.
Mereka dengan Muhammad tidak berselisih apa-apa, selain
ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga
yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat
dan tinggi juga?

"Tuan-tuan dari golongan Yahudi," kata pihak-Quraisy.
"Tuan-tuan adalah ahli kitab yang mula-mula dan sudah
mengetahui pula apa yang menjadi pertentangan antara kami
dengan Muhammad. Soalnya sekarang: manakah yang lebih baik,
agama kami atau agamanya."

Pihak Yahudi menjawab:

"Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan lebih
benar dari dia."

Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan;

"Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi
sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala dan
mereka berkata kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih
benar dari orang yang beriman.' Mereka itulah yang dikutuk
oleh Tuhan. Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya
takkan ada penolong." (Qur'an, 4: 51-52)

Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini dengan
sikap lebih mengutamakan paganisma mereka daripada tauhid
Muhammad, maka dalam Tarikh'l-Yahudi fi Bilad'l-'Arab, Dr.
Israel Wilfinson menyebutkan: "Seharusnya mereka itu tidak
boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu kotor,
dan jangan pula berkata dengan terus-terang di depan
pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu lebih
baik daripada tauhid seperti yang diajarkan Islam, meskipun
hal itu akan mengakibatkan permintaan mereka tidak akan
dipenuhi. Oleh karena orang-orang Israil sejak berabad-abad
lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala sebagai pengemban
panji tauhid (monotheisma) diantara bangsa-bangsa di dunia,
dan telah pula mengalami pelbagai macam penderitaan,
pembunuhan dan penindasan hanya karena iman mereka kepada
Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman
selama dalam perkembangan sejarah, maka sudah seharusnya
mereka itu bersedia mengorbankan hidup mereka, mengorbankan
segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum
musyrik itu. Apalagi dengan minta perlindungan kepada pihak
penyembah berhala, itu berarti mereka telah memerangi diri
sendiri serta menentang ajaran-ajaran Taurat yang meminta
mereka menjauhi penyembah-penyembah berhala dan dalam
menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.

Huyayy b. Akhtab dan orang-orang Yahudi yang sepaham dengan
dia, yang telah mengatakan kepada Quraisy bahwa paganisma
mereka lebih baik daripada tauhid Muhammad dengan maksud
supaya mereka sudi memeranginya, dan yang akan mereka
laksanakan setelah sekian bulan disiapkan, tampaknya tidak
cukup sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi
lagi menemui kabilah Ghatafan2 yang terdiri dari Qais 'Ailan,
Banu Fazara, Asyja' Sulaim, Banu Sa'd dan Asad, serta semua
pihak yang ingin menuntut balas kepada Muslimin. Mereka ini
aktif sekali mengerahkan orang supaya menuntut balas dengan
menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi Muhammad.
Paganisma Quraisy mereka puji dan mereka menjanjikan, bahwa
mereka pasti akan mendapat kemenangan.

Kelompok-kelompok3 yang sudah diorganisasikan oleh pihak
Yahudi itu kini berangkat hendak memerangi Muhammad dan
sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh Abu
Sufyan sudah disiapkan 4000 orang prajurit, tiga ratus ekor
kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun
di Dar'n-Nadwa diserahkan kepada 'Uthman b. Talha. Ayah orang
ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di Uhud. Banu
Fazara yang dipimpin oleh 'Uyaina b. Hishn b. Hudhaifa telah
siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja'
dan Murra masing-masing membawa 400 prajurit. Pihak Murra
dipimpin oleh Al-Harith b. 'Auf dan dari pihak Asyja' oleh
Misiar ibn Rukhaila. Menyusul pula Sulaim, biang-keladi
peristiwa Bi'r Ma'una, dengan 700 orang. Mereka itu semua
berkumpul, yang kemudian datang pula Banu Sa'd dan Asad
menggabungkan diri. Jumlah mereka kurang lebih semuanya
menjadi 10.000 orang. Semua mereka itu berangkat menuju
Medinah dibawah pimpinan Abu Sufyan.

Setelah mereka sampai, selama dalam perang, pemuka-pemuka
kabilah itu saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari
mendapat giliran.

Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Muhammad
dan kaum Muslimin di Medinah. Mereka merasa gentar. Ya,
sekarang seluruh kabilah Arab sudah bersatu sepakat hendak
menumpas dan memusnahkan mereka, sudah datang dengan
perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang
dalam sejarah peperangan Arab secara keseluruhannya belum
pernah terjadi. Apabila dalam perang Uhud Quraisy telah
mendapat kemenangan atas mereka, ketika mereka keluar
menyongsong keluar Medinah, padahal baik jumlah perlengkapan
maupun jumlah manusia jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa
lagi yang dapat dilakukan kaum Muslimin sekarang dalam
menghadapi jumlah pasukan yang terdiri dari beribu-ribu
rnanusia itu - barisan berkuda, unta, persenjataan serta
perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di
Yathrib yang masih perawan ini, seperti dikatakan oleh
Abdullah b. Ubayy.

Tetapi cukup hanya bertahan sajakah menghadapi kekuatan
raksasa itu? Salman al-Farisi adalah orang yang banyak
mengetahui seluk-beluk peperangan, yang belum dikenal di
daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di sekitar Medinah
itu digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran
ini segera dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Ketika menggali
parit itu Nabi a.s. juga dengan tangannya sendiri ikut
bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan sambil terus memberi
semangat, dengan menganjurkan kepada mereka supaya terus
melipat gandakan kegiatan. Pihak Muslimin sudah membawa
alat-alat yang diperlukan, terdiri dari sekop, cangkul dan
keranjang pengangkut tanah dari tempat orang-orang Yahudi
Quraiza yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja
giat terus-menerus penggalian parit itu selesai dalam waktu
enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap
ke arah datangnya musuh, yang jaraknya dengan parit itu
kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di
belakang parit itu dikosongkan. Wanita dan anak-anak
ditempatkan dalam rumah-rumah yang sudah diperkuat, dan di
samping parit dari arah Medinah ditaruh pula batu supaya di
waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.

Tatkala pihak Quraisy dan kelompok-kelompoknya itu datang
dengan harapan akan menemui Muhammad di Uhud, ternyata tempat
itu kosong. Mereka meneruskan perjalanan ke Medinah; tapi
mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di luar dugaan semula,
mereka heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing
bagi mereka itu. Dibawa oleh perasaan jengkel, mereka pun
menganggap bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah
suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan
masyarakat Arab. Pasukan Quraisy dan sekutu-sekutunya lalu
bermarkas di Mujtama'l'-As-yal di daerah Ruma, dan pasukan
Ghatafan serta pengikut-pengikutnya dari Najd, bermarkas di
Dhanab Naqama. Sedang Muhammad sekarang berangkat dengan tiga
ribu orang Muslimin, dengan membelakanyi bukit Sal' dan
dijadikannya parit itu sebagai batas dengan pihak musuh. Di
tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna
merah.

Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat, bahwa
tidak mungkin mereka menerobos parit itu. Dengan demikian
selama beberapa hari mereka hanya saling melemparkan anak
panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikutpengikutnya pun yakin
bahwa akan sia-sia saja mereka lama-lama menghadapi kota
Yathrib dengan paritnya itu, karena tidak akan dapat mereka
menerobosnya

Pada waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luarbiasa
disertai angin badai yang bertiup kencang, sehingga
sewaktu-waktu dikawatirkan hujan lebat akan turun. Kalau
orang-orang Mekah dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja
dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka di Mekah atau di
Ghatafan, maka kemah-kemah yang mereka pasang sekarang di
depan kota Yathrib itu sama-sekali takkan dapat melindungi
mereka. Disamping itu tadinya memang mereka mengharap akan
memperoleh kemenangan secara lebih mudah, tidak perlu
susah-payah seperti pada waktu di Uhud. Mereka akan kembali
pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati
adanya pembagian barang-barang jarahan dan rampasan perang.
Jadi apalagi kalau begitu yang masih menahan Ghatafan buat
kembali pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu
hanya karena pihak Yahudi pernah menjanjikan mereka dengan
buah-buahan hasil pertanian dan perkebunan Khaibar, apabila
mereka memperoleh kemenangan, Tetapi sekarang mereka melihat
untuk memperoleh kemenangan itu tampaknya tidak mudah, atau
setidak-tidaknya sudah diluar kenyataan. Dalam musim dingin
yang begitu hebat rupanya diperlukan kerja keras yang
luarbiasa yang akan membuat mereka lupa segala buah-buahan
berikut kebun-kebunnya itu!

Sebaliknya pihak Quraisy yang hendak menuntut balas karena
peristiwa Badr dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badr, pada
suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu
tidak akan selamanya berada dalam genggaman Muhammad dan
selama pihak Banu Quraiza masih bersedia memberikan bantuan
kepada penduduk Yathrib, yang akan memperpanjang perlawanan
mereka sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab
itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan kembali
kelompok-kelompok itu nanti buat memerangi Muhammad lagi
bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang Yahudi itu,
terutama Huyayy b. Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu
telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas
dendam golongannya dan golongan Banu Qainuqa' terhadap
Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu sudah
hilang, maka jangan diharap ia akan kembali, dan bilamana
Muhammad mendapat kemenangan dengan ditariknya pihak Ahzab
itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.

Semua itu sudah diperhitungkan oleh Huyayy b. Akhtab. Ia
kuatir akan akibatnya. jalan lain tidak ada. Ia harus
mempertaruhkan nasib terakhir. Kepada pihak Ahzab itu ia
membisikkan, bahwa ia sudah dapat meyakinkan Banu Quraiza
supaya membatalkan perjanjian perdamaiannya dengan Muhammad
dan pihak Muslimin, dan selanjutnya akan menggabungkan diri
dengan mereka, dan bahwa begitu Banu Quraiza melaksanakan hal
ini, maka dari suatu segi terputuslah semua perbekalan dan
bala bantuan kepada Muhammad itu, dan dari, segi lain jalan
masuk ke Yathrib akan terbuka. Quraisy dan Ghatafan merasa
gembira atas keterangan Huyayy itu. Huyayy sendiri cepat-cepat
berangkat hendak menemui Ka'b b. Asad, orang yang
berkepentingan dengan adanya perjanjian Banu Quraiza itu.
Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'b sudah menutup
pintu bentengnya, dengan perhitungan bahwa pembelotan Banu
Quraiza terhadap Muhammad dan membatalkan perjanjiannya secara
sepihak kemudian menggabungkan diri dengan musuhnya,
adakalanya memang akan menguntungkan pihak Yahudi kalaupun
pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah
seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak Ahzab
itu yang mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari
Medinah. Sungguhpun begitu Huyayy terus juga berusaha, hingga
akhirnya pintu benteng itu dibuka.

                                                                                                  (bersambung ke bagian 2/3)

"Ka'b, sungguh celaka," katanya kemudian. "Saya datang pada
waktu yang tepat dan membawa tenaga yang tepat pula. Saya
datang membawa Quraisy dan Ghatafan dengan pemimpinpemimpin
dan pemuka-pemuka mereka. Mereka sudah berjanji kepadaku,
bahwa mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis
Muhammad dan kawan-kawannya itu."

Tetapi Ka'b masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta
kesetiaan Muhammad kepada perjanjian itu. Ia kuatir akan
akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyayy itu. Tetapi Huyayy
masih terus menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang
Yahudi karena Muhammad itu, dan juga bencana yang akan mereka
alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya.
Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta perlengkapan
dan jumlah orangnya. Yang sekarang masih merintangi mereka
untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu,
hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka'b sudah mulai lunak.

"Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini
Huyayy memberikan jaminan, bahwa kalau Quraisy dan Ghatafan
sampai kembali dan tidak berhasil menghantam Muhammad ia pun
akan tinggal dalam benteng itu dan akan tetap bersama-sama
dalam seperjuangan. Dalam hati Ka'b nafsu Yahudinya sudah
mulai bergerak-gerak. Permintaan Huyayy itu diterimanya,
perjanjian dengan Muhammad dan kaum Muslimin mulai
dilanggarnya dan ia sudah keluar dari sikap kenetralannya.

Berita-berita penggabungan Quraiza dengan pihak Ahzab itu
sampai juga kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Mereka
sangat terkejut sekali dan kuatir juga akan akibat yang
mungkin terjadi. Muhammad segera mengutus Sa'd b. Mu'adh,
pemimpin Aus dan Sa'd b. 'Ubada, pemimpin Khazraj, disertai
pula oleh Abdullah b. Rawaha dan Khawat b. Jubair dengan
tujuan supaya mempelajari duduk perkara yang sebenarnya.
Bilamana mereka kembali pulang, hendaknya dapat memberikan
isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai
mematahkan semangat orang.

Tetapi sesampainya para utusan itu kesana, mereka melihat
keadaan Quraiza justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah
mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan itu supaya
mereka mau menghormati perjanjian yang ada. Tetapi Ka'b
berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi Banu Nadzir
dikembalikan ke kampung halaman mereka. Ketika itu Said b.
Mu'adh - yang juga bersahabat baik dengan pihak Quraiza -
mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib
seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadzir, atau yang lebih
parah lagi dari itu. Pihak Yahudi sekarang mau terus
melancarkan serangan kepada Muhammad a.s.

"Siapa Rasulullah itu!?" kata Ka'b. "Kami dengar Muhammad
tidak terikat oleh sesuatu persahabatan atau perjanjian apa
pun!"

Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.

Utusan-utusan Muhammad pulang. Mereka melaporkan apa yang
telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam.
Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Medinah kini melihat
pihak Quraiza telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan
memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar
khayal dan ilusi saja. Terbukti Banu Quraiza sekarang sudah
memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepada mereka.
Juga terbukti sekembalinya Huyayy b. Akhtab yang
memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraiza telah tergabung
dengan pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah
dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya lagi
pihak Quraiza telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari
lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal Ahzab
selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum
Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah
menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah
pasukan dibawah pimpinan Ibn'l-A'war as-Sulami didatangkan
dari jurusan sebelah atas wadi, pasukan yang dipimpin oleh
'Uyayna b. Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang
dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam
peristiwa inilah ayat berikut ini turun:

"Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas dan bawah,
dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di
kerongkongan (sangat gelisah), ketika itu kamu berprasangka
tentang Tuhan, prasangka yang salah belaka. Saat itulah
orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka mengalami
keguncangan yang hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang
munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya itu
berkata: Apa yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami
hanyalah tipu daya belaka. Juga ketika ada satu golongan
diantara mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yathrib! Tak ada
tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang." Dan ada sebagian
dari mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata:
'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.' Tetapi sebenarnya
tidak terbuka. Hanya saja mereka itu ingin melarikan diri."
(Qur'an, 33: 10-13)

Tetapi buat penduduk Yathrib masih dapat dimaafkan kalau
mereka sampai begitu takut dan hati mereka terguncang
karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan itu ialah yang
berpendapat: Dulu Muhammad menjanjikan kami, bahwa kami
mendapat harta kekayaan Kisra dan Kaisar Rumawi. Tetapi
sekarang orang sudah merasa tidak aman lagi sekalipun hanya
akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun
dapat dimaafkan. Demikian juga mereka yang merasa sangat
gelisah dalam ketakutan dapat juga dimaafkan. Bukankah maut
juga yang sekarang sedang menari-nari di depan matanya,
menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di tangan
Quraisy dan Ghatafan, menyusup-nyusup kedalam hati sebagai
ancaman, dan juga yang datang dari rumah-rumah Banu Quraiza
yang berkhianat itu? Sungguh celaka orang-orang Yahudi.
Sungguh patut sekali kalau Muhammad mengikis habis saja Banu
Nadzir itu daripada hanya sekedar membiarkan mereka pergi
dalam keadaan berkecukupan, serta membiarkan Huyayy cs.
menghasut masyarakat dan kabilah-kabilah Arab supaya
menghantam kaum Muslimin. Ya, sungguh suatu bencana besar,
suatu ancaman besar. "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan
Allah juga."

Dari segi moril pihak Ahzab sudah merasa begitu tinggi,
sehingga ada beberapa orang ksatria dari Quraisy yang sudah
berani maju kedepan, seperti 'Amr b. 'Abd Wudd, 'Ikrima b. Abi
Jahl dan Dzirar bin'l-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit
itu. Mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya
kuda mereka itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan
sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Sal'.
Ketika itu juga Ali b. Abi Talib keluar dengan beberapa orang
dari kalangan Muslimin, terus cepat-cepat merebut sebuah
rongga dalam parit yang telah diserbu oleh pasukan berkuda
mereka. Ketika itu 'Amr b. 'Abd. Wudd memanggil-manggil:

"Siapa berani bertanding?!"

Setelah ajakannya itu disambut oleh Ali b. Abi Talib, ia
berkata lagi dengan congkak sekali:

"Oh kemenakanku ! Aku tidak ingin membunuhmu."

"Tapi aku ingin membunuh kau," sahut Ali.

Kemudian duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat
itu juga pasukan berkuda pihak Ahzab lari kucar-kacir,
sehingga mereka terbentur sekali lagi ke dalam parit sambil
lari terus tanpa melihat kekanan-kiri lagi.

Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal
b. Abdullah bin'l-Mughira dengan menunggang kudanya hendak
menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan
hebat sehingga ia berikut kudanya itu mati dan hancur di
tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran
hendak menebus mayat kawannya itu dengan seratus ekor unta,
Tetapi itu oleh Nabi a.s. ditolak, seraya berkata:

"Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga."

Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab sekarang mulai
lagi hendak mengobarkan api permusuhannya dengan maksud
menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin. Orang-orang
Quraiza yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan
kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Medinah yang
terdekat pada mereka. Maksud mereka mau menakut-nakuti
penduduk.

Pada waktu itu Shafia bt. Abd'l-Muttalib sedang berada dalam
Fari', benteng Hassan b. Thabit. Juga Hassan ketika itu disana
dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang orang
Yahudi yang mundar-mandir sekeliling benteng itu.

"Kaulihat bukan?" kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu
mundar-mandir sekeliling benteng kita. Sungguh aku tidak
mempercayainya. Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak
Yahudi. Sedang Rasulullah dan sahabat-sahabat sedang sibuk.
Turunlah kau dan bunuh orang itu."

"Semoga Tuhan mengampunimu, Shafia," jawab Hassan. "Engkau
tahu, aku bukan orangnya akan melakukan itu."

Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang tongkat. Ia
turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai
ia menemui ajalnya.

"Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki; kalau
tidak aku sendiri yang akan melakukannya."

"Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk
Medinah masih dalam ketakutan, hati mereka masih gelisah
selalu. Dalam pada itu yang selalu menjadi pikiran Muhammad
ialah bagaimana caranya mencari jalan keluar. Harus ada suatu
taktik. Dikirimnya utusan kepada pihak Ghatafan dengan
menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Medinah untuk mereka
asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.

Pihak Ghatafan sendiri sebenarnya sudah mulai jemu. Mereka
sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama mereka
mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka
hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan
Huyayy b, Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi
pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim b. Mas'ud, dengan perintah
Rasul telah pergi hendak menemui pihak Quraiza, yang ketika
itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman
jahiliah ia bergaul rapat sekali dengan pihak Quraiza.

Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa
dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah
mendukung Quraisy dan Ghatafan dalam menghadapi Muhammad,
sedang baik Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan
lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan
berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian
menghadapi Muhammad yang tentunya nanti akan menghajar mereka
pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau
ikut golongan itu sebelum mendapat jaminan beberapa orang
sebagai sandera dari kedua golongan itu. Dengan demikian
Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan mereka. Quraiza
merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu.

Selanjutnya ia pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan,
bahwa sebenarnya pihak Quraiza merasa menyesal sekali atas
tindakannya melanggar perjanjian dengan Muhammad dan bahwa
mereka sekarang berusaha hendak mengambil hatinya dan
mengadakan tali persahabatan lagi dengan jalan hendak
menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya supaya
dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana
nanti pihak Yahudi mengutus orang meminta jaminan berupa
pemimpin-pemimpin mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap
Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap
Ghatafan. Keterangan Nu'aim ini telah menimbulkan keraguan
dalam hati Quraisy dan Ghatafan.

Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu
mengutus orang menemui Ka'b, pemimpin Banu Quraiza dengan
pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung
orang itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu
Muhammad dan kami dibelakangmu."

Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali dengan membawa jawaban
pemimpin Quraiza: "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu
kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."

Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar juga kata Nu'aim
kalau begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan
kepada pihak Quraiza: "Cari Sabtu4 lain saja sebagai pengganti
Sabtu besok, sebab besok Muhammad harus sudah diserbu. Kalau
kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak ikut
serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya
bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum
Muhammad."

Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraiza tetap dijawab dengan
mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada
golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena
telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet
dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta
sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan
mereka itu.

Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi
akan keterangan yang telah diberikan Nu'aim itu. Terpikir
olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini
dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka juga masih
maju-mundur hendak memerangi Muhammad. Mereka terpengaruh oleh
janji yang pernah diberikan kepada mereka, bahwa sepertiga
hasil buah-buahan kota Medinah nanti untuk mereka, tapi janji
tersebut belum ter]aksana karena masih mendapat tantangan dari
Said b. Mu'adh dan pemuka-pemuka Medinah, baik kalangan Aus
dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.

Malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai
oleh hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir
menderu-deru diselingi oleh halilintar yang
sambung-menyambung. Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang
sekali dan kuali-kuali tempat mereka masak terbalik belaka.
Sekarang timbul rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka
bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk
menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaiha b.
Khuailid tampil seraya berteriak: "Muhammad telah mendahului
menyerang kita. Selamatkan dirimu ! Selamatkan!"

"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak
lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang
terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Banu Quraiza sudah
tidak menepati janjinya lagi dengan kita, bahkan kita
mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati.
Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka
lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang."

Ditengah-tengah angin yang masih bertiup kencang, rombongan
itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin,
diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya.

Keesokan harinya sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh
Muhammad di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke Medinah
bersama-sama umat Islam yang lain. Mereka bersama-sama
menyatakan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Tuhan,
karena mereka telah terhindar dari segala mara bahaya,
orang-orang beriman itu tidak sampai terlibat dalam
pertempuran.
***
Setelah pihak Ahzab berangkat pulang, Muhammad kembali
memikirkan keadaannya. Tuhan telah menyelamatkannya dari musuh
yang selama ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun begitu pihak
Yahudi dapat saja mengulang kembali peristiwa semacam itu,
dapat saja mereka mencari kesempatan lain, tidak lagi pada
musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang
telah merupakan bantuan Tuhan dalam menghancurkan pihak musuh.
Disamping itu, kalaupun tidak karena Azhab telah pergi, dan
peristiwa perpecahan di pihaknya sendiri telah terjadi,
niscaya Banu Quraiza itu sudah siap-siap pula turun ke
Medinah, akan menghantam dan akan memberikan segala macam
bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin.

Jadi, jangan membiarkan ekor ular yang sudah dipotong. Atas
perbuatannya itu Banu Quraiza harus dibasmi. Dalam hal ini
Nabi a.s. memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang,
yakni: Barangsiapa yang tetap setia, bersembahyang Asar supaya
dilakukan di perkampungan Banu Quraiza. Lalu Ali
diberangkatkan lebih dulu dengan membawa bendera ke tempat
itu. Sungguhpun pihak Muslimin sudah begitu payah akibat
pengepungan Quraisy dan Ghatafan yang cukup lama, namun mereka
segera bergegas ke medan perang lagi. Mereka yakin bahwa
mereka akan mendapat kemenangan. Memang benar, bahwa Banu
Quraiza tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh
seperti perbentengan Banu Nadzir, tetapi kendatipun
benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka
tidak akan dapat tahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan
bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah, setelah
pihak Ahzab meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu,
pihak Muslimin pun dengan perasaan gembira bergegas pula
berangkat di belakang Ali, menuju ke tempat Banu Quraiza.

Ternyata mereka itu - juga Huyayy b. Akhtab dari Banu Nadzir
ada di tempat itu - melemparkan kata-kata yang tidak senonoh
dialamatkan kepada Muhammad. Mereka mendustakannya dan
memakinya serta mau mencemarkan nama baik isterinya. Setelah
kekalahan pasukan Ahzab di Medinah, seolah mereka memang sudah
merasakan apa yang akan terjadi terhadap diri mereka.

                                                                                                (bersambung ke bagian 3/3)

Ketika Rasul kemudian sampai ke tempat itu Ali segera
menemuinya dan dimintanya supaya jangan ia mendekati
perbentengan Yahudi itu.

"Kenapa?" tanya Muhammad. "Rupanya kau mendengar mereka
memaki-maki aku."

"Ya" jawab Ali.

"Kalau mereka melihat aku" kata Rasulullah, "tentu mereka
tidak akan mengeluarkan kata-kata itu."

Setelah berada dekat dari perbentengan itu mereka
dipanggil-panggil:

"Hai, golongan kera. Tuhan sudah menghinakan kamu bukan, dan
sudah menurunkan murkaNya kepada kamu sekalian?!"

"Abu'l-Qasim," kata mereka. "Tentu engkau bukan tidak
mengetahui."

Sepanjang hari itu kaum Muslimin terus berdatangan ke tempat
Banu Quraiza, sehingga mereka dapat berkumpul di sana.
Kemudian Muhammad memerintahkan supaya tempat itu dikepung.

Pengepungan demikian itu terjadi selama duapuluh lima malam.
Sementara itu terjadi pula beberapa kali bentrokan dengan
saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu
Banu Quraiza samasekali tidak berani keluar dari kubu-kubu
mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak
akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan jatuh
ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan
lama, maka mereka mengutus orang kepada Rasul dengan
permintaan "supaya mengirimkan Abu Lubaba kepada kami untuk
kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah kami ini."
Sebenarnya Abu Lubaba ini golongan Aus yang termasuk sahabat
baik mereka.

Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubaba, mereka memberikan
sambutan yang luarbiasa. Kaum wanita dan anak-anak segera
meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa iba
sekali melihat mereka.

"Abu Lubaba," kata mereka kemudian. "Apa kita harus tunduk
kepada keputusan Muhammad?"

"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan kelehernya
"Kalau tidak berarti potong leher."

Beberapa buku sejarah Nabi mengatakan, bahwa Abu Lubaba merasa
sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.

Setelah Abu Lubaba pergi, Ka'b b. Asad menyarankan kepada
mereka, supaya mereka mau menerima agama Muhammad dan menjadi
orang Islam. Mereka serta harta-benda dan anak-anak mereka
akan hidup lebih aman. Tetapi saran itu ditolak oleh teman
Ka'b: "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat tidak akan
menggantikannya dengan yang lain."

Kemudian disarankannya lagi supaya kaum wanita dan anak-anak
itu dibunuh saja, dan mereka boleh melawan Muhammad dan
sahabat-sahabatnya dengan pedang terhunus tanpa meninggalkan
suatu beban di belakang. Biar nanti Tuhan menentukan, kalah
atau menang melawan Muhammad. Kalau mereka hancur, tidak ada
lagi turunan nanti yang akan dikuatirkan. Sebaliknya, kalau
menang mereka akan memperoleh wanita-wanita dan anak-anak
lagi.

"Kasihan kita membunuhi mereka. Apa artinya hidup tanpa mereka
itu."

"Kalau begitu tak ada jalan lain kita harus tunduk kepada
keputusan Muhammad. Kita sudah mendengar, apa sebenarnya yang
sedang menunggu kita." Demikian kata Ka'b kemudian kepada
mereka.

Mereka sekarang berunding antara sesama mereka.

"Nasib mereka tidak akan lebih buruk dari Banu Nadzir," kata
salah seorang dari mereka. "Wakil-wakil mereka dari kalangan
Aus akan membela. Kalau mereka mengusulkan supaya mereka
dibolehkan pergi ke Adhri'at di wilayah Syam, tentu terpaksa
Muhammad mengabulkan."

Banu Quraiza mengirimkan utusan kepada Muhammad dengan
menyarankan bahwa mereka akan pergi ke Adhri'at dengan
meninggalkan harta-benda mereka. Tetapi ternyata usul ini
ditolak. Mereka harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini
mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan: Tuan-tuan
hendaknya dapat membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang
pernah dilakukan oleh Khazraj terhadap saudara-saudaranya.

Sebuah rombongan dari kalangan Aus segera berangkat hendak
menemui Muhammad.

"Ya Rasulullah," kata mereka memulai, "dapatkah permintaan
kawan-kawan sepersekutuan kami itu dikabulkan seperti
permintaan kawan-kawan sepersekutuan Khazraj dulu yang juga
sudah dikabulkan?"

"Saudara-saudara dari Aus," kata Muhammad, "Dapatkah kamu
menerima kalau kuminta salah seorang dari kamu menengahi
persoalan dengan teman-teman sepersekutuanmu itu?"

"Tentu sekali," jawab mereka.

"Kalau begitu," katanya lagi, "katakan kepada mereka memilih
siapa saja yang mereka kehendaki."

Dalam hal ini pihak Yahudi lalu memilih Sa'd b. Mu'adh. Mata
mereka seolah-olah sudah tertutup dari nasib yang sudah
ditentukan bagi mereka itu, sehingga mereka samasekali lupa
akan kedatangan Sa'd tatkala pertama kali mereka melanggar
perjanjian, lalu diberi peringatan, juga tatkala mereka
memaki-maki Muhammad di depannya serta mencerca kaum Muslimin
tidak pada tempatnya.

Sa'd lalu membuat persetujuan dengan kedua belah pihak itu.
Masing-masing hendaknya dapat menerima keputusan yang akan
diambilnya. Setelah persetujuan demikian diberikan, kepada
Banu Quraiza diperintahkan supaya turun dan meletakkan
senjata. Keputusan ini mereka laksanakan. Seterusnya Sa'd
memutuskan, supaya mereka yang terjun melakukan kejahatan
perang dijatuhi hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan
anak-anak supaya ditawan.

Mendengar keputusan itu Muhammad berkata:

"Demi Yang menguasai diriku. Keputusanmu itu diterima oleh
Tuhan dan oleh orang-orang beriman, dan dengan itu aku
diperintahkan."

Sesudah itu ia keluar ke sebuah pasar di Medinah.
Diperintahkannya supaya digali beberapa buah parit di tempat
itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa dan disana leher mereka
dipenggal, dan didalam parit-parit itu mereka dikuburkan.
Sebenarnya Banu Quraiza tidak menduga akan menerima hukuman
demikian dari Said b. Mu'adh teman sepersekutuannya itu.
Bahkan tadinya mereka mengira ia akan bertindak seperti
Abdullah b. Ubayy terhadap Banu Qainuqa.' Mungkin teringat
oleh Said, bahwa kalau pihak Ahzab yang menang karena
pengkhianatan Banu Quraiza itu, kaum Muslimin pasti akan
dikikis habis, akan dibunuh dan dianiaya. Maka balasannya
seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.

Keuletan orang-orang Yalmudi menghadapi maut dapat kita lihat
dalam percakapan Huyayy b. Akhtab ini ketika ia dihadapkan
untuk menjalani hukuman potong leher, Nabi telah menatapnya
seraya berkata:

"Huyayy, bukankah Tulman sudah membuat kau jadi hina?"

"Setiap orang merasakan kematian," kata Huyayy. "Umurku juga
tidak akan dapat kulampaui. Aku tidak akan menyalahkan diriku
dalam memusuhimu ini."' Lalu ia menoleh kepada orang banyak
sambil katanya lagi: "Saudara-saudara. Tidak apa kita
menjalani perintah Tuhan, yang telah mentakdirkan kepada Banu
Israil menghadapi perjuangan ini."

Kemudian juga peristiwa yang terjadi dengan Zubair b. Bata
dari Banu Quraiza. Ia pernah berjasa kepada Thabit b. Qais
ketika terjadi perang Bu'ath, sebab ia telah membebaskannya
dari tawanan musuh. Sekarang Thabit ingin membalas dengan
tangannya sendiri budi orang itu, setelah Sa'd ibn Mu'adh
menjatuhkan keputusannya terhadap orang-orang Yahudi.
Disampaikannya kepada Rasulullah tentang jasa Zubair kepadanya
dulu dan ia mempertaruhkan diri minta persetujuannya akan
menyelamatkan nyawa Zubair. Rasulullah mengabulkan
pernmintaannya itu. Tetapi setelah Zubair mengetahui usaha
Thabit itu ia berkata: Orang yang sudah setua aku ini, tidak
lagi ada isteri, tidak lagi ada anak; buat apa lagi aku
hidup?!"

Sekali lagi Thabit mempertaruhkan diri minta supaya isteri dan
anak-anaknya dibebaskan. Ini pun dikabulkan juga. Selanjutnya
dimintanya supaya hartanya juga diselamatkan. Juga ini
dikabulkan.

Setelah Zubair merasa puas tentang isteri, anak dan hartanya
itu, ia bertanya lagi tentang Ka'b b. Asad, tentang Huyayy b.
Akhtab dan 'Azzal b. Samu'al serta pemimpin-pemimpin Quraiza
yang lain. Sesudah diketahuinya, bahwa mereka sudah menjalani
hukuman mati, ia berkata:

"Thabit, dengan budiku kepadamu itu aku minta, susulkanlah aku
kepada mereka. Sesudah mereka tidak ada, juga tidak berguna
aku hidup lagi. Aku sudah tidak betah hidup lama-lama lagi.
Biarlah aku segera bertemu dengan orang-orang yang kucintai
itu!"

Dengan demikian hukuman potong leher dijalankan juga atas
permintaannya sendiri.

Pada dasarnya dalam perang itu pihak Muslimin tidak akan
membunuh wanita atau anak-anak. Tetapi pada waktu itu mereka
sampai membunuh seorang wanita juga yang telah lebih dulu
membunuh seorang Muslim dengan mempergunakan batu giling.
Dalam hal ini Aisyah pernah berkata:

"Tentang dia sungguh suatu hal yang aneh tidak pernah akan
saya lupakan. Dia seorang orang yang periang dan banyak
tertawa, padahal dia mengetahui akan dibunuh mati."

Waktu itu ada empat orang pihak Yahudi yang masuk Islam.
Mereka ini terhindar dari maut.

Menurut hemat kami terbunuhnya Banu Quraiza itu berada di
tangan Huyayy b. Akhtab, meskipun dia sendiri juga turut
terbunuh. Dia telah melanggar janji yang dibuat oleh
golongannya sendiri, oleh Banu Nadzir, yang oleh Muhammad
telah dikeluarkan dari Medinah dengan tiada seorang pun yang
dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima. Tetapi dengan
tindakannya menghasut pihak Quraisy dan Ghatafan, kemudian
menyusun masyarakat dan kabilah-kabilah Arab semua supaya
memerangi Muhammad, hal ini telah memperbesar rasa permusuhan
antara golongan Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka
itu berkeyakinan, bahwa kaum Israil itu tidak akan merasa puas
sebelum dapat mengikis habis Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Dia juga lagi yang kemudian mengajak Banu Quraiza melanggar
perjanjian dan meninggalkan sikap kenetralannya. Sekiranya
Banu Quraiza tetap bertahan, tentu mereka takkan mengalami
nasib seburuk itu. Dia juga yang kemudian datang ke benteng
Banu Quraiza - setelah kepergian pihak Ahzab dan mengajak
mereka melawan kaum Muslimin. Sekiranya dari semula mereka
sudah bersedia pula menerima keputusan Muhammad serta mengakui
kesalahannya yang telah melanggar janjinya sendiri itu,
pertumpahan darah dan pemotongan leher niscaya takkan terjadi.
Akan tetapi, permusuhan itu sudah begitu berakar dalam jiwa
Huyayy dan kemudian menular pula ke dalam hati orang-orang
Quraiza, sehingga Sa'd b. Mu'adh sendiri sebagai kawan
sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup,
keadaan tidak akan pernah jadi tenteram. Mereka akan menghasut
lagi golongan Ahzab, akan mengerahkan kabilah-kabilah dan
orang-orang Arab supaya memerangi Muslimin, dan akan mengikis
sampai ke akar-akarnya kalau mereka dapat mengalahkan.
Keputusan yang telah diambilnya dengan begitu keras, hanyalah
karena terdorong oleh sikap hendak mempertahankan diri, dengan
pertimbangan bahwa adanya atau lenyapnya orang-orang Yahudi
itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.

Kaum wanita, anak-anak serta harta-benda Banu Quraiza oleh
Nabi di bagi-bagikan kepada kaum Muslimin, setelah
seperlimanya dikeluarkan, Setiap seorang dari pasukan berkuda
mendapat dua pucuk panah, untuk kudanya sepucuk panah.

Prajurit yang berjalan kaki mendapat sepucuk panah. Jumlah
kuda dalam peristiwa Quraiza itu sebanyak tigapuluh enam ekor.

Setelah itu, Sa'd b. Zaid kemudian mengirimkan tawanan-tawanan
Banu Quraiza itu ke Najd. Dengan demikian dibelinya beberapa
ekor kuda dan senjata untuk lebih memperkuat angkatan perang
Muslimin.

Raihana adalah salah seorang tawanan Banu Quraiza. Ia jatuh
menjadi bagian Muhammad. Kepadanya ditawarkan kalau-kalau ia
bersedia menjadi orang Islam. Tetapi ia tetap bertahan dengan
agama Yahudinya. Juga ditawarkan kepadanya kalau-kalau ia mau
di kawini. Tetapi dia menjawab: "Biar sajalah saya dibawah
tuan. Ini akan lebih ringan buat saya, juga buat tuan."

Barangkali juga, melekatnya ia kepada agama Yahudi dan
penolakannya akan dikawin, berpangkal pada fanatisma
kegolongan, serta sisa-sisa kebencian yang masih tertanam
dalam hatinya terhadap kaum Muslimin dan terhadap Nabi. Tetapi
tidak ada orang yang bicara tentang kecantikan Raihana seperti
yang pernah disebut-sebut orang tentang Zainab bt. Jahsy,
sekalipun ada juga yang menyebutkan bahwa dia juga cantik.
Buku-buku sejarah dalam hal ini berbeda-beda pendapat: Adakah
ia juga menggunakan tabir seperti terhadap isteri-isteri Nabi,
atau masih seperti wanita-wanita Arab umumnya pada waktu itu,
yang memang tidak menggunakan tutup muka. Sampai pada waktu
Raihana wafat di tempat Nabi, ia tetap sebagai miliknya.

Adanya serbuan Ahzab serta hukuman yang telah di jatuhkan
kepada Banu Quraiza, telah memperkuat kedudukan Muslimin di
Medinah. Orang-orang golongan Munafik sudah samasekali tidak
bersuara lagi. Semua masyarakat dan kabilah-kabi]ah Arab sudah
mulai bicara tentang kekuatan dan kekuasaan Muslimin,
disamping posisi dan kewibawaan Muhammad yang ada. Akan tetapi
ajaran itu bukan hanya buat Medinah saja, meiainkan buat
seluruh dunia. Jadi Nabi dan sahabat-sahabatnya masih harus
terus meratakan jalan dalam menjalankan perintah Allah, dalam
mengajak orang menganut agama yang benar, dengan terus
membendung setiap usaha yang hendak melanggarnya. Dan memang
inilah yang mereka lakukan.

Catatan kaki:


1 Khandaq berarti parit. Dalam terjemahan seterusnya
sering dipakai kata parit (A).


2 Ghatafan merupakan sekumpulan kabilah-kabilah, yang
terkenal diantaranya kabilah 'Abs dan Dhubyan yang
terlibat dalam perang Dahis, dan Dhubyan ini bercabang
lagi menjadi 'Ailan, Fazara, Murra, Asyja', Sulaim dan
lain-lain (A).


3 Aslinya Al-Ahzab, kelompok-kelompok atau puak-puak.
Di sini berarti persekutuan atau gabungan kekuatan
angkatan perang kabilah-kabilah Arab di sekitar Mekah
dan Medinah serta golongan Yahudi, yang bersama-sama
hendak menghancurkan kaum Muslimin di Medinah. Dalam
terjemahan selanjutnya lebih banyak dipergunakan kata
Ahzab (A).


4 Yakni Hari Sabat, hari besar agama Yahudi (A)

---------------------------------------------

Lading_Emas

Google Translate: Cara Mudah Membaca Bahasa Asing Di Internet

Rabu, Januari 06, 2010
Google Translate: Cara Mudah Membaca Bahasa Asing Di Internet

Google Translate: Cara Mudah Membaca Bahasa Asing Di Internet

Dalam tutorial ini, saya ingin berkongsi dengan anda, cara paling mudah untuk membaca dan menulis dalam Bahasa Inggeris di internet, menggunakan Google Translate. Sebenarnya, ada banyak tool dan software untuk membuat terjemahan di internet. Banyak yang percuma, dan beberapa lagi yang berbayar. Insya Allah, di masa depan, saya akan menulis lebih.

UNTUK VERSI BAHASA INGGERIS SILA KLIK SINI



Google Translate adalah penterjemah automatik yang bekerja tanpa campur tangan manusia, dengan menggunakan teknologi.

Google Translate kini menyokong penterjemahan antara salah satu daripada 51 Bahasa berikut:

* Afrikaans * Albania * arab * Belarus * Bulgarian * Catalan * cina (Sederhana)
* China (Tradisional) * Croatia * Czech * Denmark * Belanda * Bahasa Inggeris * Estonian
* Filipina * Finland * Perancis * Galicia * Jerman * Greece * Ibrani * Hindi
* Hungary * Icelandic * Itali * Bahasa Indonesia * Ireland * Jepun * Korea * Latvia
* Lithuania * Macedonian * bahasa melayu * maltese * * Parsi * norwegian polish
* Portuguese * Romanian * Russian * Serbian * Slovak * Slovenian * Sepanyol
* Swahili * Sweden * Thai * Turkey * Ukrainian * Vietnamese * Wales * Yiddish

Jika anda tidak pasti bahasa apa yang anda cuba untuk terjemahkan, fungsi 'Deteksi Bahasa' boleh mengetahui perkara itu untuk anda. Ketepatan pengesanan bahasa automatik meningkat dengan jumlah teks yang dimasukkan.

MENGGUNAKAN GOOGLE TRANSLATE UNTUK PELBAGAI TUJUAN

Kita boleh menggunakan Google Translate untuk:

1. Menterjemahkan laman (web dan blog) yang anda baca di internet. kitaa boleh membaca web berbahasa Cina, walaupun kita tidak tahu sepatah perkataan sekalipun dalam Bahasa Cina.

2. Untuk penjual di eBay (eBayer). Ada eBayers yang tidak tahu sepatah perkataan dalam Bahasa Perancis boleh membuat wang di eBay Perancis, menggunakan Google Translate ini.

3. Saya sendiri, menggunakan Google Translate untuk menulis dalam Bahasa Inggeris. (Sudah tentu
saya perlu mengeditnya..).

Menggunakan Google Translate untuk membaca laman (web dan blog)

Katakanlah, anda ingin membaca blog MomBloggersPlenet.com dalam Bahasa Melayu. Anda hanya perlu melakukan DUA LANGKAH mudah. Langkah-langkah yang perlu anda lakukan, ialah:

1. Paste URL ke dalam kotak yang disediakan di Google Translate.

2. Klik butang [TRANSLATE].

Petikan dari Blog http://ustazcahaya.blogspot.com/2010/01/google-translate-cara-mudah-membaca.html




Lading_Emas

Upacara ~ Memanaskan enjin bermotor Anda

Upacara memanaskan enjin adalah antara amalan yang sinonim dengan hampir semua pengguna kenderaan di seluruh negara. Tak kiralah sama ada pemandu kereta, lori, van, bas sekolah, kereta kebal, motosikal berkuasa rendah dan sebagainya termasuk helikopter. Biasanya amalan ini dilakukan pada waktu pagi sebelum ke tempat kerja atau ke sebarang destinasi.

Ada yang memanaskan enjin selama satu minit. Ada yang memanaskan selama 5 minit. Ada yang keluar rumah, hidupkan enjin kereta, masuk rumah, sarapan, pakai stokin, pakai kasut, kunci pintu dan baru terhegeh-hegeh masuk kereta untuk memulakan perjalanan. Saya syak makan masa dalam 15 minit juga. Brader-brader macam tu saya ingat mesti bangun awal punya. Semua ini dilakukan kononnya demi untuk menjaga enjin. Demi untuk memastikan jangkahayat enjin panjang dan sentiasa berprestasi tip top.


Masalahnya sekarang, di manakah pelajaran tentang memanaskan enjin ini diajar? Kalau tak silap saya, masa sekolah dulu pun tak ada pun cikgu-cikgu yang pandai-pandai ajar pasal benda ni. Masa pergi ambil kursus memandu di JPJ pun tak ada belajar benda-benda macam ni. Di univesiti pun tak ada belajar. Sekolah-sekolah agama rakyat pun tak ada menyediakan tajuk ini di dalam silibus pembelajaran mereka. Jadi di mana? Berdasarkan pemerhatian saya dengan sedikit kajian, upacara pemanasan enjin telah dilakukan sejak zaman-berzaman. Mula-mula mungkin datuk saya start panaskan enjin kereta dia sebelum pergi sekolah kerja guru besar.

Kemudian bapa saya pula bila dah pakai kereta, teringat pula amalan datuk saya masa nak pergi sekolah dulu. Jadi bapa saya pun setiap pagi sebelum nak pergi kerja panaskanlah juga enjin Volvo kegemarannya. Kemudian bila saya dah besar, dah pakai kereta sports dua pintu, saya pula ikut panaskan enjin kereta. Tapi sebenarnya saya tak buat. Sebab saya ada ilmu pengetahuan tentang enjin. Tambah lagi biasanya saya bangun lambat. Soalnya sekarang adakah pemanasan enjin ini perlu dilakukan? Apa kebaikannya dan apa keburukannya? Lagi satu kalau anda bijak laksana, siapa orang yang mula-mula panaskan enjin kenderaan di Malaysia ni?

Di negara-negara yang mementingkan penjagaan alam sekitar untuk kehidupan dunia yang lebih baik di masa mendatang, pemanasan enjin adalah tidak digalakkan dan sesetengahnya ditegah. Negara Kanada telah memulakan kempen nasional mereka untuk mengurangkan pemanasan enjin yang tidak diperlukan. Kempen yang sama turut dilakukan di Jepun , United Kingdom dan di Amerika Syarikat. Ada di antaranya sudah menetapkan satu undang-undang bahawa enjin kenderaan tidak boleh dibiarkan hidup dalam keadaan pepura (idling) melebihi 5 minit atau 3 minit bagi kenderaan ringan. Kenapa perkara ini ditegah?

The Canadian Office of Energy Efficiency telah bersetuju bahawa cara yang terbaik untuk memanaskan enjin adalah dengan memandunya. Walaupun suhu persekitaran berada di takat -20 darjah selsius, mereka menyarankan enjin kenderaan hanya perlu dipanaskan pada sekitar 15-30 saat sebelum meluncur ke jalanraya. Bayangkanlah berapa agaknya suhu di Malaysia ? Saya rasa memang dah tak payah nak panaskan enjin lagi dah. Start kereta terus jalan saja.

Salah seorang jurutera penghantaran kuasa di Ford, Amerika Syarikat iaitu Les Ryder berkata, “Engines run best at their design temperature”. Berdasarkan kenyataan Encik Les Ryder itu, operasi enjin yang cekap, bersih dan efisien hanya berlaku pada suhu enjin di tahap 85-90 darjah selsius. Oleh itu membiarkan enjin ko orang di dalam keadaan pepura (idling) adalah bukan cara yang terbaik atau terpantas untuk memanaskan enjin. Lebih baik jika memandunya atau dengan kata lain stail Amerika, lagi ‘gentle’ kalau pandu terus.

Tabiat memanaskan enjin atau membiarkan enjin berada di dalam keadaan pepura (idling) dikatakan adalah satu perkara yang tidak baik dan berfaedah. Pertamanya ia menyebabkan pembakaran bahanapi tidak dapat dilakukan dengan sempurna. Pembakaran tidak lengkap membawa kesan buruk kepada dinding silinder. Sisa bahan api yang tidak terbakar akan turun ke dinding silinder lalu membersihkan minyak pelincir yang berada di dinding silinder. Maka apa yang terjadi adalah dinding silinder akan mengalami kehausan akibat tiada pelinciran di bahagian sepatutnya. Bahan api yang tidak terbakar juga boleh jadi akan turun perlahan-lahan ke bahagian takung minyak pelincir. Apabila ia bergaul, sifat minyak pelicir akan berubah dan hilang kecekapannya.

Di samping itu, tabiat ini juga boleh mendatangkan masalah kepada palam pencucuh. Ia akan menganggu suhu kerja palam pencucuh. Palam pencucuh yang tidak berada di suhu sepatutnya akan menjadi kotor. Oleh yang demikian ia akan mendatangkan kesan kepada peningkatan bahan api sebanyak 5%.

Pada waktu pagi, sesetengah kenderaan biasanya akan mengeluarkan wap dari ekzos. Wap itu bukanlah wap minyak daripada enjin yang mengalami kehausan. Ia adalah wap air normal yang terhasil daripada enjin yang sejuk. Jadi apabila terlalu lama enjin dibiarkan dalam keadaan pepura (idling), bertambah lama untuk enjin mengambil masa untuk panas. Ini menyebabkan wap air akan sentiasa berada di dalam sistem ekzos yang mana akan menjadikan paip ekzos cepat berkarat.

Kenderaan pada masa kini biasanya akan terdapat sebuah komponen yang dinamakan Catalytic Converter pada sistem ekzosnya. Kereta-kereta Malaysia pun saya tengok dah mula pakai. Komponen ini disediakan bertujuan untuk mengurangkan tahap toksik yang terdapat pada sisa atau hasil pembakaran sebuah enjin pembakaran dalaman. Antara kerja yang dilakukan komponen ini termasuklah men-convert karbon monoksida kepada karbon dioksida, mengurangkan nitrogen oksida kepada nitrogen dan air, mengoksidakan hidrokarbon yang tidak terbakar kepada karbon dioksida dan air dan sebagainya. Jadi faedah yang boleh diperolehi daripada komponen ini ialah pencemaran udara dapat diminimakan.

Walaubagaimana pun, masalah yang timbul jika enjin berada di dalam keadaan pepura (idling), komponen ini tidak berfungsi. Maka enjin dengan sesuka hati dapat mencemarkan udara. Komponen ini akan berfungsi hanya pada tahap suhu 400 – 800 darjah selsius yang dimana adalah pada satu kadar suhu yang sangat panas berbanding enjin. Semasa suhu itu ia akan bertindak menukar bahan tercemar dari sisa pembakaran enjin kepada bahan yang kurang berbahaya kepada alam sekitar. Bagi memastikan komponen ini cepat dan dapat berada di suhu yang mana ia boleh beroperasi, ko orang perlulah memandu. Bukan meninggalkan kereta hidup terbiar. Semakin lama enjin dibiarkan dalam keadaan pepura (idling) maka semakin lama juga Catalytic Converter ini tidur dan tak bekerja. Ko orang syak apa agaknya yang terjadi kepada alam sekitar?

Sekarang kita sudah mengetahui serba sedikit tentang keburukan memanaskan enjin. Ada tiga kesan yang penting di situ iaitu membazir bahan api, mencemarkan alam sekitar dan memunah wang ringgit. Mari kita lihat apa pula kebaikkan memanaskan enjin. Khabar-khabar angin mengatakan memanaskan enjin juga ada faedahnya. Salah satu perkara yang disebut adalah semasa enjin ditinggalkan di dalam satu tempoh yang agak lama, iaitu mungkin sehingga satu malam, bahan pelinciran akan turun meninggalkan komponen yang bergerak di dalam enjin ke bahagian bawah enjin. Jadi apabila kita mula menghidupkan enjin, kita perlu mengambil sedikit masa untuk memanaskannya supaya dapat memberi peluang bahan pelinciran itu naik dan beredar di setiap inci dan penjuru komponen dalaman enjin. Ya perkara ini benar. Tetapi apa yang ko orang perlu tahu bahawa setiap enjin telah dilengkapkan dengan satu komponen yang dipanggil pam minyak pelincir. Pam minyak pelincir ini dijana oleh pusingan crankshaft. Makin laju crankshaft berpusing maka makin cepat pam bahan api berpusing seterusnya mengagihkan minyak pelincir ke bahagian dalaman enjin.. Untuk memastikan crankshaft ini berpusing laju apa yang ko orang perlu buat? Adakah dengan hanya membiarkan enjin dalam keadaan pepura (idling)?



Kesimpulannya di sini tabiat memanaskan enjin di waktu pagi yang kononnya lagi lama lagi bagus adalah satu mitos yang tidak diketahui hujung pangkalnya. Perkara ikut-ikutan seperti ini bukanlah satu perkara yang asing bagi kita rakyat Malaysia . BMW sendiri pun cukup pantang kalau orang warm up enjin keretanya. Sebab dia orang tahu kalau enjin cepat rosak nanti mesti ko orang kompelin. Sebab itu kalau boleh BMW nak lepas hidup saja enjin kereta, terus blah cepat-cepat. Jangan tunggu-tunggu. Ini karang siap boleh masuk rumah pekena roti dua tiga keping, layan teh dulu sambil sembang-sembang dengan bini tapi enjin kereta terbiar hidup.

Satu perkara lagi yang boleh membantu mengurangkan pencemaran alam sekitar dan pembaziran bahan api adalah dengan mematikan enjin jika kenderaan ko orang tidak bergerak. Kalau tunggu makwe turun LRT, berhenti tepi jalan bergayut dengan telefon, tunggu bini masuk pasar mini beli barang dapur, dan tunggu anak balik sekolah depan pagar sekolah bawa bawalah matikan dulu enjin. Perkara itu tidak memberi sebarang faedah langsung malah boleh menyebabkan masalah pencemaran udara dan alam sekitar serta pembaziran wang ringgit. Sedarkah anda di dalam tempoh setahun, sikap mengurangkan enjin dibiarkan hidup dalam keadaan pepura (idling) ini mampu menjimatkan beratus ribu juta ringgit dan mampu menghentikan perlepasan jutaan tan gas rumah hijau ke atmosfera yang membawa pemanasan global.


Lading_Emas

Al-Sheikh Ahmad Jamhuri Jaharis Nuruddin


~*~*~*~@

~*~*~*


~*~*~*


~*~*~*


~*~*~*


~*~*~*


~*~*~*


~*~*~*

http://yayasanaljenderami.blogspot.com/


Lading_Emas

06 January, 2010

Sirah Rasulullah SAW_17 ~ ISTERI-ISTERI NABI

BAHAGIAN KETUJUH BELAS: ISTERI-ISTERI NABI
                                                                                                               (1/3)

Teriakan Orientalis tentang Zainab bt. Jahsy - Zainab
menurut gambaran kaum Orientalis - Orang-orang besar tidak
tunduk kepada undang-undang - Penggambaran Orientalis yang
keliru - Sampai usia 50 tahun hanya beristerikan Khadijah -
Hanya Khadijah yang membawa keturunan - Perkawinan Sauda bt.
Zam'a - Penelitian sejarah dan kesimpulannya Cerita Zainab
bt. Jahsy - Kekeluargaan Muhammad dengan Zainab - Melamarnya
untuk Zaid dan penolakan Zainab - Terpaksa menerima - Zaid
mengadukan Zainab dan perceraian - Hukum pengaduan dalam
Islam - Bagaimana Muhammad kawin dengan Zainab - Bagaimana
pendapat kaum Orientalis tentang cerita Zainab bt. Jahsy -
Muhammad menjunjung tinggi kedudukan wanita.

SEMENTARA peristiwa-peristiwa dalam dua bagian di atas itu
terjadi, Muhammad kawin dengan Zainab bt. Khuzaima, kemudian
kawin dengan Umm Salama bt. Abi Umayya bin'l-Mughira,
selanjutnya kawin lagi dengan Zainab bt. Jahsy setelah
dicerai oleh Zaid b. Haritha. Zaid inilah yang telah
diangkat sebagai anak oleh Muhammad setelah dibebaskan
sebagai budak sejak ia dibelikan oleh Yasar untuk Khadijah.
Di sinilah kaum Orientalis dan misi-misi penginjil itu
kemudian berteriak keras-keras: Lihat! Muhammad sudah
berubah. Tadinya, ketika ia masih di Mekah sebagai pengajar
yang hidup sederhana, yang dapat menahan diri dan
mengajarkan tauhid, sangat menjauhi nafsu hidup duniawi,
sekarang ia sudah menjadi orang yang diburu syahwat, air
liurnya mengalir bila melihat wanita. Tidak cukup tiga orang
isteri saja dalam rumah, bahkan ia kawin lagi dengan tiga
orang wanita seperti yang disebutkan di atas. Sesudah itu
mengawini tiga orang wanita lagi, selain Raihana. Tidak
cukup kawin dengan wanita-wanita yang tidak bersuami, bahkan
ia jatuh cinta kepada Zainab bt. Jahsy yang masih terikat
sebagai isteri Zaid b. Haritha bekas budaknya. Soalnya tidak
lain karena ia pernah singgah di rumah Zaid ketika ia sedang
tidak ada di tempat itu, lalu ia disambut oleh Zainab.
Tatkala itu ia sedang mengenakan pakaian yang memperlihatkan
kecantikannya, dan kecantikan ini sangat mempengaruhi
hatinya. Waktu itu ia berkata "Maha suci Ia yang telah dapat
membalikkan hati manusia!" Kata-kata ini diulanginya lagi
ketika ia meninggalkan tempat itu. Zainab mendengar
kata-kata itu dan ia melihat api cinta itu bersinar dari
matanya. Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang
didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu
itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa ia bersedia
menceraikannya. Lalu kata Nabi kepadanya:

"Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah
engkau takut kepada Allah."

Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi.
Kemudian ia dicerai. Muhammad menahan diri tidak segera
mengawininya sekalipun hatinya gelisah. Ketika itu firman
Tuhan datang:

"Ingat, tatkala engkau berkata kepada orang yang telah
diberi karunia oleh Allah dan engkau pun telah pula berbudi
kepadanya: Jagalah baik-baik isterimu. Hendaklah engkau
takut kepada Allah. Dan engkau menyembunyikan sesuatu di
dalam hatimu apa yang oleh Tuhan sudah diterangkan. Engkau
takut kepada manusia, padahal seharusnya Allah yang lebih
patut kautakuti. Maka setelah Zaid meluluskan kehendak
wanita itu, Kami kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak
tidak menjadi alangan bagi orang-orang beriman kawin dengan
(bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, bilamana
kehendak mereka (wanita-wanita) itu sudah diluluskan.
Perintah Allah itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)

Ketika itulah wanita itu dikawininya. Dengan perkawinan ini
semarak cinta berahi dan api asmaranya yang menyala-nyala
dapat dipadamkan. Nabi apa itu!? Bagaimana ia membenarkan
hal itu buat dirinya sedang buat orang lain tidak?!
Bagaimana ia tidak tunduk kepada undang-undang yang katanya
diturunkan Tuhan kepadanya?! Bagaimana pula "harem" ini
diciptakan, yang mengingatkan orang pada raja-raja yang
hidup mewah-mewah, bukan pada para nabi yang saleh dan
memperbaiki kehidupan umat?! Selanjutnya bagaimana pula ia
menyerah kepada kekuasaan cinta dalam hubungannya dengan
Zainab sehingga ia menghubungi Zaid bekas budaknya supaya
menceraikannya, kemudian ia tampil mengawininya! Hal semacam
ini pada zaman jahiliah dilarang, tapi nabinya orang Islam
ini membolehkan, karena mau menuruti kehendak nafsunya, mau
memenuhi dorongan cintanya.

Bilamana kaum Orientalis dan para misi penginjil bicara
mengenai masalah ini dalam sejarah Muhammad, maka mereka
membiarkan khayal mereka itu bebas tak terkendalikan lagi;
sehingga ada diantara mereka itu yang menggambarkan Zainab -
ketika terlihat oleh Nabi - dalam keadaan setengah telanjang
atau hampir telanjang, dengan rambutnya yang hitam panjang
lepas terurai sampai menjamah tubuhnya yang lembut gemulai,
yang akan dapat menterjemahkan segala arti cinta berahi.
Yang lain lagi menyebutkan, bahwa ketika ia membuka pintu
rumah Zaid, angin menghembus menguakkan tabir kamar Zainab.
Ketika itu ia sedang telentang di tempat tidur dengan
mengenakan baju tidur. Pemandangan ini sangat menggetarkan
jantung laki-laki yang gila perempuan dengan kecantikannya
itu. Ia menyembunyikan perasaan hatinya meskipun sebenarnya
ia tidak dapat tahan lama demikian!

Gambaran yang diciptakan oleh khayal demikian itu banyak
sekali. Akan kita jumpai ini dalam karya-karya Muir,
Dermenghem, Washington Irving, Lammens dan yang lain, baik
mereka ini para Orientalis atau misi-misi penginjil. Dan
yang sungguh disayangkan lagi karena dalam membuat
cerita-cerita itu, semua mereka memang mengambil sumbernya
dari kitab-kitab sejarah Nabi dan tidak sedikit pula dari
hadis. Kemudian dengan apa yang mereka gambarkan itu, mereka
membangun istana-istana gading dari khayal mereka sendiri
tentang Muhammad serta hubungannya dengan wanita. Alasan
mereka ialah karena isterinya banyak, yang sampai sembilan
orang menurut pendapat yang lebih tepat, atau lebih dari itu
menurut sumber-sumber lain.

Sebenarnya dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan ucapan: Anggaplah semua itu benar, tetapi dengan
itu apa pula kiranya yang akan dapat mendiskreditkan
kebesaran Muhammad atau kenabian dan kerasulannya.
Undang-undang yang biasanya berlaku pada umum, tidak mempan
terhadap orang-orang besar, lebih-lebih terhadap para rasul
dan nabi. Bukankah ketika Musa a.s. melihat perselisihan dua
orang, yang seorang dari golongannya sendiri, dan yang
seorang lagi dari pihak musuhnya, ditinjunya orang yang dari
pihak musuh itu hingga menemui ajalnya, padahal pembunuhan
demikian itu dilarang, baik dalam perang atau pun setengah
perang? Ini berarti melanggar undang-undang. Jadi Musa tidak
tunduk kepada undang-undang, tapi juga tidak berarti ini
dapat mendiskreditkan kenabian atau kerasulannya, bahkan
mengurangi kebesarannyapun juga tidak. Dan dalam hal Isa,
dalam menyalahi undang-undang lebih besar lagi dari masalah
Muhammad, dari para nabi dan para rasul semuanya. Dan
soalnya tidak hanya terbatas pada besarnya kekuatan dan
keinginan saja, bahkan kelahiran dan kehidupannya pun sudah
melanggar undang-undang dan kodrat alam. Di hadapan ibunya
malaikat muncul sebagai manusia yang sempurna, yang akan
mengantarkan seorang anak yang suci bersih kepadanya. Wanita
itu keheranan, sambil berkata: "Bagaimana aku akan beroleh
seorang putera, padahal aku belum disentuh seorang manusia,
juga aku bukan seorang pelacur." Malaikat berkata, bahwa
Tuhan menghendaki supaya ia menjadi pertanda bagi umat
manusia.

Setelah terasa sakit hendak melahirkan, ia berkata: "Aduhai,
coba sebelum ini aku mati saja, maka aku akan hilang
dilupakan orang." Lalu datang suara memanggilnya dari bawah:
"Jangan berdukacita, Tuhan telah mengalirkan sebatang anak
sungai di bawahmu." Dibawanya anak itu kepada keluarganya.
Mereka pun berkata: "Maryam, engkau datang membawa masalah
besar. Dalam buaiannya itu (usia semuda itu) Isa berkata
kepada mereka: "Aku adalah hamba Allah É" dan seterusnya.

Betapapun orang-orang Yahudi menolak semua ini, dan oleh
mereka Isa dinasabkan kepada Yusuf an-Najjar (Yusuf anak
Heli), sebagian sarjana semacam Renan sampai sekarang pun
memang menganggapnya demikian. Kebesaran Isa, kenabiannya
dan kerasulannya serta penyimpangannya dari hukum dan kodrat
alam adalah suatu pertanda mujizat Tuhan kepadanya. Tapi
anehnya, misi-misi penginjil Kristen itu minta orang supaya
percaya kepada hal-hal yang di luar hukum alam mengenai diri
Yesus, sementara mengenai diri Muhammad mereka sudah
menjatuhkan hukuman sendiri. Padahal apa yang dilakukannya
tidak seberapa dan tidak lebih karena Muhammad memang
terlalu tinggi untuk dapat tunduk kepada undang-undang
masyarakat yang berlaku terhadap setiap orang besar,
terhadap raja-raja, kepala-kepala negara yang pada umumnya
sudah didahului oleh undang-undang dasar sehingga membuat
mereka tak dapat diganggu-gugat.

Sebenarnya dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka
itu dengan jawaban yang sudah tentu akan menjatuhkan semua
argumen misi-misi penginjil dan orang-orang Orientalis yang
juga mau ikut cara-cara mereka itu. Tetapi dalam hal ini
kita lalu memperkosa sejarah dan memperkosa kebesaran
Muhammad dan kerasulannya. Dia bukanlah orang seperti yang
mereka gambarkan: orang yang pikirannya dipengaruhi oleh
hawa nafsu. Tak ada isterinya itu yang dikawininya hanya
karena ia terdorong oleh syahwat atau nafsu berahi saja.
Kalaupun ada beberapa penulis Muslim pada zaman-zaman
tertentu dengan sesuka hati berkata demikian dan
mengemukakan alasan itu kepada lawan-lawan Islam dengan niat
baik, soalnya ialah karena tradisi yang berlaku telah
membawa mereka kepada pengertian materi. Mereka ingin
menggambarkan Muhammad itu besar dalam segalanya, juga besar
dalam kehidupan hawa nafsu. Sudah tentu ini suatu
penggambaran yang salah sama sekali. Sejarah hidup Muhammad
sama sekali tak dapat menerima ini, dan seluruh hidup
pribadinya pun dengan sendirinya sudah menolak.

Ia kawin dengan Khadijah dalam usia duapuluh tiga tahun,
usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka
yang begitu tampan, gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu
Khadijah adalah tetap isteri satu-satunya, selama duapuluh
delapan tahun, sampai melampaui usia limapuluhan. Padahal
masalah poligami ialah masalah yang umum sekali di kalangan
masyarakat Arab waktu itu. Di samping itu Muhammad pun bebas
kawin dengan Khadijah atau dengan yang lain, dalam hal ia
dengan isterinya tidak beroleh anak laki-laki yang hidup,
sedang anak perempuan pada waktu itu dikubur hidup-hidup dan
yang dapat dianggap sebagai keturunan pengganti hanyalah
anak laki-laki.
                                                                                                              (bersambung 2/3)

Muhammad hidup hanya  dengan  Khadijah  selama  tujuh  belas
tahun sebelum kerasulannya dan sebelas tahun sesudah itu;
dan dalam pada itu pun sama sekali tak terlintas dalam
pikirannya ia ingin kawin lagi dengan wanita lain. Baik pada
masa Khadijah masih hidup, atau pun pada waktu ia belum
kawin dengan Khadijah, belum pernah terdengar bahwa ia
termasuk orang yang mudah tergoda oleh kecantikan
wanita-wanita yang pada waktu itu justeru wanita-wanita
belum tertutup. Bahkan mereka itu suka memamerkan diri dan
memamerkan segala macam perhiasan, yang kemudian dilarang
oleh Islam. Sudah tentu tidak wajar sekali apabila akan kita
lihat, sesudah lampau limapuluh tahun, mendadak sontak ia
berubah demikian rupa sehingga begitu ia melihat Zainab bint
Jahsy - padahal waktu itu isterinya sudah lima orang
diantaranya Aisyah yang selalu dicintainya - tiba-tiba ia
tertarik sampai ia hanyut siang-malam memikirkannya. Juga
tidak wajar sekali apabila kita lihat, sesudah lampau
limapuluh tahun usianya, yang selama lima tahun sudah
beristerikan lebih dari tujuh orang, dan dalam tujuh tahun
sembilan orang isteri. Semuanya itu, motifnya hanya karena
dia terdorong oleh nafsu kepada wanita, sehingga ada
beberapa penulis Muslim - dan juga penulis-penulis Barat
mengikuti jejaknya - melukiskannya sedemikian rupa, demikian
merendahkan yang bagi seorang materialis sekalipun sudah
tidak layak, apalagi buat orang besar, yang ajarannya dapat
mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih
selalu akan mengubah dunia sekali lagi, dan akan mengubah
jalannya roda sejarah sekali lagi.

Apabila ini suatu hal yang aneh dan tidak wajar, maka akan
jadi aneh juga kita melihat bahwa perkawinan Muhammad dengan
Khadijah telah memberikan keturunan, laki-laki dan
perempuan, sampai sebelum ia mencapai usia limapuluh tahun,
dan bahwa Maria melahirkan Ibrahim sesudah Muhammad berusia
enampuluh tahun dan hanya dari yang dua orang ini sajalah
yang membawa keturunan. Padahal isteri-isteri itu ada yang
dalam usia muda, yang akan dapat juga hamil dan melahirkan,
baik dari pihak suami atau pihak isteri, dan ada yang sudah
cukup usia, sudah lebih dari tigapuluh tahun umurnya, dan
sebelum itu pun pernah pula punya anak. Bagaimana pula
gejala aneh dalam hidup Nabi ini ditafsirkan, suatu gejala
yang tidak tunduk kepada undang-undang yang biasa, yang
sekaligus terhadap kesembilan wanita itu?! Sebagai manusia,
sudah tentu jiwa Muhammad cenderung sekali ingin beroleh
seorang putera, sekalipun - dalam kedudukannya sebagai nabi
dan rasul - dari segi rohani ia sudah menjadi bapa seluruh
umat Muslimin.

Kemudian peristiwa-peristiwa sejarah serta logikanya juga
menjadi saksi yang jujur mendustakan cerita misi-misi
penginjil dan para Orientalis itu sehubungan dengan poligami
Nabi. Seperti kita sebutkan tadi, selama 28 tahun ia hanya
beristerikan Khadijah seorang, tiada yang lain. Setelah
Khadijah wafat, ia kawin dengan Sauda bint Zam'a, janda
Sakran b. 'Amr b. 'Abd Syams. Tidak ada suatu sumber yang
menyebutkan, bahwa Sauda adalah seorang wanita yang cantik,
atau berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi
pengaruh karena hasrat duniawi dalam perkawinannya itu.
Melainkan soalnya ialah, Sauda adalah isteri orang yang
termasuk mula-mula dalam lslam, termasuk orang-orang yang
dalam membela agama, turut memikul pelbagai macam
penderitaan, turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan
Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga sudah Islam
dan ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut
menderita. Kalau sesudah itu Muhammad kemudian mengawininya
untuk memberikan perlindungan hidup dan untuk memberikan
tempat setarap dengan Umm'l-Mu'minin, maka hal ini patut
sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.
 
Adapun Aisyah dan Hafsha adalah puteri-puteri dua orang
pembantu dekatnya, Abu Bakr dan Umar. Segi inilah yang
membuat Muhammad mengikatkan diri dengan kedua orang itu
dengan ikatan semenda perkawinan dengan puteri-puteri
mereka. Sama juga halnya ia mengikatkan diri dengan Usman
dan Ali dengan jalan mengawinkan kedua puterinya kepada
mereka. Kalaupun benar kata orang mengenai Aisyah serta
kecintaan Muhammad kepadanya itu, maka cinta itu timbul
sesudah perkawinan, bukan ketika kawin. Gadis itu
dipinangnya kepada orangtuanya tatkala ia berusia sembilan
tahun dan dibiarkannya dua tahun sebelum perkawinan
dilangsungkan. Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa dia
sudah mencintainya dalam usia yang masih begitu kecil. Hal
ini diperkuat lagi oleh perkawinannya dengan Hafsha bt. Umar
yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya
sendiri sebagai saksi.
 
"Sungguh," kata Umar, "tatkala kami dalam zaman jahiliah,
wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan
memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak
kepada mereka." Dan katanya lagi: "Ketika saya sedang dalam
suatu urusan tiba-tiba isteri saya berkata: 'Coba kau
berbuat begini atau begitu." Jawab saya: "Ada urusan apa
engkau disini, dan perlu apa engkau dengan urusanku!" Dia
pun membalas: "Aneh sekali engkau Umar. Engkau tidak mau
ditentang, padahal puterimu menentang Rasulullah s.a.w.
sehingga ia gusar sepanjang hari." Kata Umar selanjutnya:
"Kuambil mantelku, lalu aku keluar, pergi menemui Hafsha.
"Anakku," kataku kepadanya. "Engkau menentang Rasulullah
s.a.w. sampai ia merasa gusar sepanjang hari?!" Hafsha
menjawab: "Memang kami menentangnya." "Engkau harus tahu,"
kataku. "Kuperingatkan engkau akan siksaan Tuhan serta
kemurkaan RasulNya. Anakku, engkau jangan teperdaya oleh
kecintaan orang yang telah terpesona oleh kecantikannya
sendiri dengan kecintaan Rasulullah s.a.w." Katanya lagi:
"Engkau sudah mengetahui, Rasulullah tidak mencintaimu, dan
kalau tidak karena aku engkau tentu sudah diceraikan."
 
Kita sudah melihat bukan, bahwa Muhammad mengawini Aisyah
atau mengawini Hafsha bukan karena cintanya atau karena
suatu dorongan berahi, tapi karena hendak memperkukuh tali
masyarakat Islam yang baru tumbuh dalam diri dua orang
pembantu dekatnya itu. Sama halnya ketika ia kawin dengan
Sauda, maksudnya supaya pejuang-pejuang Muslimin itu
mengetahui, bahwa kalau mereka gugur untuk agama Allah,
isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak akan dibiarkan
hidup sengsara dalam kemiskinan.
 
Perkawinannya dengah Zainab bt. Khuzaima dan dengan Umm
Salama mempertegas lagi hal itu. Zainab adalah isteri
'Ubaida bin'l-Harith bin'l-Muttalib yang telah mati syahid,
gugur dalam perang Badr. Dia tidak cantik, hanya terkenal
karena kebaikan hatinya dan suka menolong orang, sampai ia
diberi gelar Umm'l-Masakin (Ibu orang-orang miskin). Umurnya
pun sudah tidak muda lagi. Hanya setahun dua saja sesudah
itu ia pun meninggal. Sesudah Khadijah dialah satu-satunya
isteri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.
 
Sedang Umm Salama sudah banyak anaknya sebagai isteri Abu
Salama, seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dalam
perang Uhud ia menderita luka-luka, kemudian sembuh kembali.
Oleh Nabi ia diserahi pimpinan untuk menghadapi Banu Asad
yang berhasil di kucar-kacirkan dan ia kembali ke Medinah
dengan membawa rampasan perang. Tetapi bekas lukanya di Uhud
itu terbuka dan kembali mengucurkan darah yang dideritanya
terus sampai meninggalnya. Ketika sudah di atas ranjang
kematiannya, Nabi juga hadir dan terus mendampinginya sambil
mendoakan untuk kebaikannya, sampai ia wafat. Empat bulan
setelah kematiannya itu Muhammad meminta tangan Umm Salama.
Tetapi wanita ini menolak dengan lemah lembut karena ia
sudah banyak anak dan sudah tidak muda lagi. Hanya dalam
pada itu akhirnya sampai juga ia mengawini dan dia sendiri
yang bertindak menguruskan dan memelihara anak-anaknya.

Adakah sesudah ini semua para misi penginjil dan Orientalis
itu masih akan mendakwakan, bahwa karena kecantikan Umm
Salama itulah maka Muhammad terdorong hendak mengawininya?
Kalau hanya karena itu saja, masih banyak gadis-gadis kaum
Muhajirin dan Anshar yang lain, yang jauh lebih cantik,
lebih muda, lebih kaya dan bersemarak, dan tidak pula ia
akan dibebani dengan anak-anaknya. Akan tetapi sebaliknya,
ia mengawininya itu karena pertimbangan yang luhur itu juga,
sama halnya dengan perkawinannya dengan Zainab bt. Khuzaima,
yang membuat kaum Muslimin bahkan makin cinta kepadanya dan
membuat mereka lebih-lebih lagi memandangnya sebagai Nabi
dan Rasul Allah. Di samping itu mereka semua memang sudah
menganggapnya sebagai ayah mereka. Ayah bagi segenap orang
miskin, orang yang tertekan, orang lemah, orang yang
sengsara dan tak berdaya. Ayah bagi setiap orang yang
kehilangan ayah, yang gugur membela agama Allah.
 
Dari apa yang sudah diuraikan di atas, apakah yang dapat
disimpulkan oleh penelitian sejarah yang murni? Yang dapat
disimpulkan ialah bahwa Muhammad menganjurkan orang
beristeri satu dalam kehidupan biasa. Ia menganjurkan cara
demikian seperti contoh yang sudah diberikannya selama masa
Khadijah. Untuk itu firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan:
 
"Dan kalau kamu kuatir takkan dapat berlaku lurus terhadap
anak-anak yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu
sukai: dua, tiga dan (sampai) empat. Tetapi kalau kamu
kuatir takkan dapat berlaku adil, hendaklah seorang saja
atau yang sudah ada menjadi milik kamu." (Qur'an, 4:3)
 
"Dan (itu pun) tidak akan kamu dapat berlaku adil terhadap
wanita, betapa kamu sendiri menginginkan itu. Sebab itu,
janganlah kamu terlalu condong kepada yang seorang, lalu
kamu biarkan dia terkatung-katung." (Qur'an, 4:129)
 
Ayat-ayat ini turun pada akhir-akhir tahun kedelapan Hijrah,
setelah Nabi kawin dengan semua isterinya, maksudnya untuk
membatasi jumlah isteri itu sampai empat orang, sementara
sebelum turun ayat tersebut pembatasan tidak ada. Ini juga
yang telah menggugurkan kata-kata orang: Muhammad
membolehkan buat dirinya sendiri dan melarang buat orang
lain. Kemudian turun ayat yang memperkuat diutamakannya
isteri satu dan menganjurkan demikian karena dikuatirkan
takkan berlaku adil dengan ditekankan bahwa berlaku adil itu
tidak akan disanggupi. Hanya saja dalam keadaan kehidupan
masyarakat yang dikecualikan ia melihat suatu kemungkinan
yang mendesak perlunya kawin sampai empat dengan syarat
berlaku adil. Dia telah melakukan itu dengan contoh yang
diberikannya ketika kaum Muslimin terlibat dalam peperangan
dan banyak di antara mereka itu yang gugur dan mati syahid.
 
Tolonglah sebutkan! Pada waktu peperangan sedang berkecamuk,
panyakit menular berjangkit dan pemberontakan berkobar
merenggut ribuan bahkan jutaan umat manusia, dapatkah orang
memastikan, bahwa membatasi pada isteri satu itu lebih baik
dan poligami yang dibolehkan dengan jalan kekecualian itu?
Dapatkah orang-orang Eropa - pada waktu ini, setelah selesai
Perang Dunia - mengatakan bahwa sistem monogami itu sistem
yang paling tepat dalam praktek, karena mereka memang sudah
mengatakan bahwa sistem itu tepat sekali dalam
undang-undang? Bukankah tirnbulnya kekacauan ekonomi dan
sosial setelah perang disebabkan oleh tidak adanya kerjasama
yang teratur antara pria dan wanita dalam perkawinan, suatu
kerjasama yang kiranya sedikit banyak akan dapat membawa
keseimbangan ekonomi? Saya tidak bermaksud dengan ini hendak
membuat suatu keputusan hukum. Saya serahkan soal ini kepada
ahli-ahli pikir, kepada pihak penguasa untuk memikirkan dan
merencanakannya, dengan catatan selalu, bahwa bilamana
keadaan hidup sudah kembali biasa, maka yang paling baik
dapat menjamin kebahagiaan masyarakat ialah membatasi
laki-laki hanya pada satu isteri.
 
Sehubungan dengan cerita tentang Zainab bt. Jahsy serta apa
yang ditambah-tambahkan oleh beberapa orang ahli hadis, oleh
kaum Orientalis dan misi-misi penginjil dengan
bermacam-macam tabir khayal sehingga ia dijadikan sebuah
cerita roman percintaan, sejarah yang sebenarnya dapat
mencatat, bahwa teladan yang diberikan oleh Muhammad dan
patut dibanggakan, dan sebagai contoh iman yang sempurna,
ialah bahwa dia telah menerapkan bunyi hadis yang maksudnya:
Iman seseorang belum sempurna sebelum ia mencintai
saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.1 Dirinya telah
dijadikan contoh pertama manakala ia melaksanakan suatu
hukum yang pada dasarnya hendak menghapus tradisi dan segala
adat-istiadat jahiliah, dan yang sekaligus dengan itu ia
menetapkan peraturan baru, yang diturunkan Tuhan sebagai
bimbingan dan rahmat buat semesta alam.

Untuk menghapuskan semua cerita mereka yang kita baca itu
dari dasarnya, cukup kalau kita sebutkan, bahwa Zainab bt.
Jahsy ini adalah puteri Umaima bt. Abd'l-Muttalib, bibi
Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan
dengan bantuannya pula. Maka dengan demikian ia sudah
seperti puterinya atau seperti adiknya sendiri. Ia sudah
mengenal Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau
tidak, sebelum ia dikawinkan dengan Zaid. Ia sudah
melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang
masih merangkak hingga menjelang gadis remaja dan dewasa,
dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu.
 
Jadi, kalau orang sudah mengetahui semua ini, maka hancurlah
segala macam khayal dan cerita-cerita yang menyebutkan bahwa
dia pernah kerumah Zaid dan orang ini tidak di rumah, lalu
dilihatnya Zainab, ia terpesona sekali melihat begitu
cantik, sampai ia berkata: "Maha suci Tuhan, Yang telah
membalikkan hati manusia!" Atau juga ketika ia membuka pintu
rumah Zaid, kebetulan angin bertiup menguakkan tirai kamar
Zainab, lalu dilihatnya wanita itu dengan gaunnya sedang
berbaring - seolah-olah seperti Madame Recamier - mendadak
sontak hatinya berubah. Lupa ia kepada Sauda, Aisyah,
Hafsha, Zainab bt. Khuzaima dan Umm Salama. Juga Khadijah
sudah dilupakannya, yang seperti kata Aisyah, bahwa dirinya
tidak pernah cemburu terhadap isteri-isteri Nabi seperti
terhadap Khadijah ketika disebut-sebut. Kalau perasaan cinta
itu sedikit banyak sudah terlintas dalam hati, tentu ia akan
melamar kepada keluarganya untuk dirinya, bukan untuk Zaid.
Dengan melihat hubungan Zainab dengan Muhammad ini serta
gambaran yang kita kemukakan di atas, maka segala macam
cerita khayal yang dibawa orang itu, sudah tidak lagi dapat
dipertahankan dan ternyata samasekali memang tidak mempunyai
dasar yang benar.
(bersambung 3/3)

Dan apakah yang ialah dicatat oleh sejarah? Sejarah mencatat
bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak bibinya itu buat
Zaid bekas budaknya. Abdullah b. Jahsy saudara Zainab
menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari suku
Quraisy dan keluarga Hasyim pula, di samping itu semua ia
masih sepupu Rasul dari pihak ibu akan berada di bawah
seorang budak belian yang dibeli oleh Khadijah lalu
dimerdekakan oleh Muhammad. Hal ini dianggap sebagai suatu
aib besar buat Zainab. Dan memang benar sekali hal ini di
kalangan Arab ketika itu merupakan suatu aib yang besar
sekali. Memang tidak ada gadis-gadis kaum bangsawan yang
terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang
sudah dimerdekakan. Tetapi Muhammad justeru ingin
menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih berkuasa
dalam jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu.
Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak lebih
tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
 
"Bahwa orang yang paling mulia di antara kamu dalam
pandangan Tuhan ialah orang yang lebih bertakwa." (Qur'an,
49:13)
 
Sungguhpun begitu ia merasa tidak perlu memaksa wanita lain
untuk itu di luar keluarganya. Biarlah Zainab bt. Jahsy,
sepupunya sendiri itu juga yang menanggung, yang karena
telah meninggalkan tradisi dan menghancurkan adat-lembaga
Arab, menjadi sasaran buah mulut orang tentang dirinya,
suatu hal yang memang tidak ingin didengarnya. Juga biarlah
Zaid, bekas budaknya yang dijadikannya anak angkat, dan yang
menurut hukum adat dan tradisi Arab orang yang berhak
menerima waris sama seperti anak-anaknya sendiri itu, dia
juga yang mengawininya. Maka dia pun bersedia berkorban,
karena sudah ditentukan oleh Tuhan bagi anak-anak angkat
yang sudah dijadikan anaknya itu. Biarlah Muhammad
memperlihatkan desakannya itu supaya Zainab dan saudaranya
Abdullah b. Jahsy juga mau menerima Zaid sebagai suami. Dan
untuk itu biarlah firman Tuhan juga yang datang:
 
"Bagi laki-laki dan wanita yang beriman, bilamana Allah dan
RasulNya telah menetapkan suatu ketentuan, mereka tidak
boleh mengambil kemauan sendiri dalam urusan mereka itu. Dan
barangsiapa tidak mematuhi Allah dan RasulNya, mereka telah
melakukan kesesatan yang nyata sekali." (Qur'an, 33:36)
 
Setelah turun ayat ini tak ada jalan lain buat Abdullah dan
Zainab saudaranya, selain harus tunduk menerima. "Kami
menerima, Rasulullah," kata mereka. Lalu Zaid dikawinkan
kepada Zainab setelah mas-kawinnya oleh Nabi disampaikan.
Dan sesudah Zainab menjadi isteri, ternyata ia tidak mudah
dikendalikan dan tidak mau tunduk. Malah ia banyak
mengganggu Zaid. Ia membanggakan diri kepadanya dari segi
keturunan dan bahwa dia katanya tidak mau ditundukkan oleh
seorang budak.

Sikap Zainab yang tidak baik kepadanya itu tidak jarang oleh
Zaid diadukan kepada Nabi, dan bukan sekali saja ia meminta
ijin kepadanya hendak menceraikannya. Tetapi Nabi
menjawabnya: "Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan.
Hendaklah engkau takut kepada Allah."
 
Tetapi Zaid tidak tahan lama-lama bergaul dengan Zainab
serta sikapnya yang angkuh kepadanya itu. Lalu
diceraikannya.

Kehendak Tuhan juga kiranya yang mau menghapuskan melekatnya
hubungan anak angkat dengan keluarga bersangkutan dan
asal-usul keluarga itu, yang selama itu menjadi anutan
masyarakat Arab, juga pemberian segala hak anak kandung
kepada anak angkat, segala pelaksanaan hukum termasuk hukum
waris dan nasab, dan supaya anak angkat dan pengikut itu
hanya mempunyai hak sebagai pengikut dan sebagai saudara
seagama. Demikian firman Tuhan turun:
 
"Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu menjadi
anak-anak kamu. Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu
saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan
jalan yang benar." (Qur'an, 33:4)

Ini berarti bahwa anak angkat boleh kawin dengan bekas
isteri bapa angkatnya, dan bapa boleh kawin dengan bekas
isteri anak angkatnya. Tetapi bagaimana caranya melaksanakan
ini? Siapa pula dari kalangan Arab yang dapat membongkar
adat-istiadat yang sudah turun-temurun itu. Muhammad sendiri
kendatipun dengan kemauannya yang sudah begitu keras dan
memahami benar arti perintah Tuhan itu, masih merasa kurang
mampu melaksanakan ketentuan itu dengan jalan mengawini
Zainab setelah diceraikan oleh Zaid, masih terlintas dalam
pikirannya apa yang kira-kira akan dikatakan orang, karena
dia telah mendobrak adat lapuk yang sudah berurat berakar
dalam jiwa masyarakat Arab itu. Itulah yang dikehendaki
Tuhan dalam firmanNya:
 
"Dan engkau menyembunyikan sesuatu dalam hatimu yang oleh
Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal
hanya Allah yang lebih patut kautakuti." (Qur'an, 33:37)
 
Akan tetapi Muhammad adalah suri-teladan dalam segala hal,
yang oleh Tuhan telah diperintahkan dan telah dibebankan
kepadanya supaya disampaikan kepada umat manusia. Tidak
takut ia apa yang akan dikatakan orang dalam hal
perkawinannya dengan isteri bekas budaknya itu. Takut kepada
manusia tak ada artinya dibandingkan dengan takutnya kepada
Tuhan dalam melaksanakan segala perintahNya. Biarlah dia
kawin saja dengan Zainab supaya menjadi teladan akan apa
yang telah dihapuskan Tuhan mengenai hak-hak yang sudah
ditentukan dalam hal bapa angkat dan anak angkat itu. Dalam
hal inilah firman Tuhan itu turun:
 
"Maka setelah Zaid meluluskan kehendak wanita itu, Kami
kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak tidak menjadi
alangan bagi orang-orang beriman kawin dengan (bekas)
isteri-isteri anak-anak angkat mereka, bilamana kehendak
mereka (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah
itu mesti dilaksanakan." (Qur'an, 33:37)
 
Inilah peristiwa sejarah yang sebenarnya sehubungan dengan
soal Zainab bt. Jahsy serta perkawinannya dengan Muhammad.
Dia adalah puteri bibinya, sudah dilihatnya dan sudah
diketahuinya sampai berapa jauh kecantikannya sebelum
dikawinkan dengan Zaid, dan dia pula yang melamarnya buat
Zaid, juga dia melihatnya setelah perkawinannya dengan Zaid,
karena pada waktu itu bertutup muka belum lagi dikenal.

Sungguhpun begitu dari pihak Zainab sendiri, sesuai dengan
ketentuan hubungan kekeluargaan dari satu segi, dan sebagai
isteri Zaid anak angkatnya dari segi lain, Zainab
menghubungi dia karena beberapa hal dalam urusannya sendiri
dan juga karena seringnya Zaid mengadukan halnya itu. Semua
ketentuan hukum itu sudah diturunkan. Lalu diperkuat lagi
dengan peristiwa perkawinan Zaid dengan Zainab serta
kemudian perceraiannya, lalu perkawinan Muhammad dengan dia
sesudah itu. Semua ketentuan hukum ini, yang mengangkat
martabat orang yang dimerdekakan ke tingkat orang merdeka
yang terhormat, dan yang menghapuskan hak anak-anak angkat
dengan jalan praktek yang tidak dapat dikaburkan atau
ditafsir-tafsirkan lagi.
 
Sesudah semua itu, masih adakah pengaruh cerita-cerita yang
selalu diulang-ulang oleh pihak Orientalis dan oleh
misi-misi penginjil, oleh Muir, Irving, Sprenger, Well,
Dermenghem, Lammens dan yang lain, yang suka menulis sejarah
hidup Muhammad? Ya, kadang ini adalah napsu misi penginjilan
yang secara terang-terangan, kadang cara misi penginjilan
atas nama ilmu pengetahuan. Adanya permusuhan lama terhadap
Islam adalah permusuhan yang sudah berurat berakar dalam
jiwa mereka, sejak terjadinya serentetan perang Salib
dahulu. Itulah yang mengilhami mereka semua dalam menulis,
yang dalam menghadapi soal perkawinan, khususnya perkawinan
Muhammad dengan Zainab bt. Jahsy, membuat mereka sampai
nmemperkosa sejarah, mereka mencari cerita-cerita yang
paling lemah sekalipun asal dapat dimasukkan dan
dihubung-hubungkan kepadanya.
 
Andaikata apa yang mereka katakan itu memang benar, tentu
saja kita pun masih akan dapat menolaknya dengan mengatakan,
bahwa kebesaran itu tidak tunduk kepada undang-undang. Bahwa
sebelum itu, Musa, Isa dan Yunus, mereka itu berada di atas
hukum alam, diatas ketentuan-ketentuan masyarakat yang
berlaku. Ada yang karena kelahirannya, ada pula yang dalam
masa kehidupannya, tapi itu tidak sampai mendiskreditkan
kebesaran mereka. Sebaliknya Muhammad, ia telah meletakkan
ketentuan-ketentuan masyarakat yang sebaik-baiknya dengan
wahyu Tuhan, dan dilaksanakan atas perintah Tuhan, yang
dalam hal ini merupakan contoh yang tinggi sekali, sebagai
teladan yang sangat baik dalam melaksanakan apa yang telah
diperintahkan Tuhan itu. Ataukah barangkali yang dikehendaki
oleh misi-misi penginjil itu supaya ia menceraikan
isteri-isterinya dan jangan lebih dari empat orang saja
seperti yang kemudian disyariatkan kepada kaum Muslimin,
setelah perkawinannya dengan mereka semua itu?

Adakah juga pada waktu itu ia akan selamat dari kritik
mereka? Sebenarnya hubungan Muhammad dengan isteri-isterinya
itu adalah hubungan yang sungguh terhormat dan agung,
seperti sudah kita lihat seperlunya dalam keterangan Umar
bin'l-Khattab yang sudah kita sebutkan; dan contoh semacam
itu akan banyak kita jumpai dalam beberapa bagian buku ini.
Semua itu akan menjadi contoh yang berbicara sendiri, bahwa
belum ada orang yang dapat menghormati wanita seperti yang
pernah diberikan oleh Muhammad, belum ada orang yang dapat
mengangkat martabat wanita ketempat yang layak seperti yang
dilakukan oleh Muhammad itu.
 
Catatan kaki:
 
1 Harfiah: Seseorang dari kamu tidak beriman sebelum ia
menyukai buat saudaranya apa yang disukai buat dirinya
sendiri. Terjemahan di atas didasarkan kepada komentar
Nuruddin as-Sindi sebagai anotasi pada Shahih Al-Bukhari
1/12 (A).









Lading_Emas
~*~ Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... ~*~